
Halaman Istana. Di tepi danau..
Pagi hampir beranjak menuju siang.
Meskipun embun pagi sudah mengering, kelembaban udara pagi itu masih sedikit terasa.
Nyi Dewi dan Laras tengah berjalan-jalan memandangi bunga-bunga di pinggiran danau yang terletak di halaman istana kerajaan.
"Mbakyu.."
"Hmm!.."
"Mengapa Kakek selalu mengatakan Mbakyu sebagai Istri Kanda? Apakah Mbakyu dan Kanda sebenarnya memang sudah menikah?"
Nyi Dewi tersentak kaget atas pertanyaan Laras.
"Tidak! Bukan seperti itu, Diajeng!" ucap Nyi Dewi tersipu.
"Lalu, mengapa Kakek berkata begitu?" Berpikir heran.
"Hmm.. nanti Diajeng juga akan mengerti, ya!" ucap Nyi Dewi mengelus rambut Laras.
Laras mengangguk pelan. Ia tidak ingin memperpanjang tanggapan Mbakyunya itu.
"Ah, Diajeng! Lihatlah bunga ini!" Merubah topik pembicaraan seraya mendekati serumpun bunga yang tengah mekar.
Nyi Dewi memetik setangkai bunga, lalu memberikannya kepada Laras. "Bunga ini terlihat cocok dengan Diajeng."
"Kakek!"
Laras yang melihat kehadiran Baginda Raja menghampirinya dengan perasaan senang. Ia sudah tak merasa gugup lagi saat berhadapan dengan Baginda Raja setelah beberapa hari tinggal di istana kerajaan.
Baginda Raja tersenyum. "Apa yang tengah kalian lakukan?"
"Mbakyu mengajak Dinda menemaninya berjalan-jalan, Kek! Ini bunga yang tadi dipetikkan oleh Mbakyu." Menunjukkan setangkai bunga yang dipegangnya.
"Wah!.. Lihatlah bunga ini! Sangat indah! Terlihat amat cocok dengan Cucuku yang manis ini."
Laras tersipu malu mendengar ucapan Baginda Raja kepadanya. "Mbakyu juga bilang seperti itu tadi," ucapnya dengan pandangan tertunduk bercampur malu.
Nyi Dewi mendekat dan menyapa pada Baginda Raja. "Kakek!"
Baginda Raja mengangguk dan mengulum senyum.
"Apakah kalian sedang berkeliling?"
Mengangguk. "Iya. Kami sedang melihat bunga-bunga, Kek."
__ADS_1
Ketiganya berjalan beriringan. Menikmati keindahan hamparan bunga-bunga yang tumbuh subur di tepi danau.
"Kakek, dimana Kanda berada? Mengapa Dinda tidak melihat Kanda sejak pagi?"
"Kakakmu sedang mengurusi hal penting bersama Paman Laya. Apakah kau begitu merindukan Kakakmu itu?"
Menggelengkan kepalanya dengan malu sembari merapatkan diri pada Nyi Dewi.
"Kakek, sepertinya Diajeng merasa malu mendengar perkataan Kakek barusan."
Baginda Raja tersenyum lebar. Kini, malu di wajah Laras tampak semakin jelas.
...***...
Setelah tinggal beberapa hari di istana kerajaan, Jaka dan Nyi Dewi serta Laras kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju Gua Batu.
Baginda Raja menyiapkan beberapa buah pakaian dan sekantung uang sebagai perbekalan ketiganya selama perjalanan.
Baginda Raja mengantar Jaka hingga ke depan istana diikuti Nyi Dewi dan Laras.
"Jaka, ingatlah untuk menjaga Cucuku yang manis ini!" ucap Baginda Raja berpesan kepada Jaka. "dan juga Istrimu! Aku masih tetap menunggu kehadiran Cicitku dari kalian."
Jaka tersipu malu. Pun sama halnya dengan Nyi Dewi. Keduanya hanya bisa terdiam oleh perkataan Baginda Raja dengan wajah yang memerah.
"Kakek, nanti Dinda akan berkunjung lagi menemui Kakek bersama Mbakyu," ucap Laras berpamitan.
"Iya. Kakek akan selalu menantikannya," balas Baginda Raja dengan tersenyum.
"Pergilah! Restuku menyertai kalian!"
Jaka segera menarik kendali kuda dan meninggalkan halaman istana beserta Nyi Dewi dan Laras. Baginda Raja berdiri mengiringi perjalanan mereka dengan iringan doa. Berharap perjalanan mereka tak menemukan kendala atau kesulitan apapun.
...***...
Seperti yang dikatakan Suwira. Setelah beberapa hari perjalanannya itu, Jaka mulai memasuki wilayah dari Desa Tumenggung.
Desa Tumenggung tergolong desa yang besar dengan beberapa dusun kecil yang menjadi bagiannya. Terdapat tiga dusun besar dan lima dusun kecil yang mengitari wilayah Desa Tumenggung.
Di dekat perbatasan Desa Tumenggung terdapat sebuah pasar yang cukup ramai. Pasar itu bernama Pasar Rau'. Banyak orang yang menggantungkan hidupnya dari berjualan di pasar tersebut.
Berbagai macam jenis barang yang dijual di pasar tersebut tertata dalam lapak-lapak kecil dan sedang. Ikan-ikan segar, sayur-mayur, makanan-makanan, buah-buahan serta beberapa kerajinan tangan terlihat memenuhi lapak mereka saat itu.
"Sayurannya, Tuan!"
"Ikan, Ikan! Ikan segar! Silahkan, dipilih!"
"Tuan, buah, Tuan! Semuanya masih baru dan segar. Buahnya, Tuan!"
__ADS_1
Suara teriakan para pedagang mewarnai suasana pasar yang ramai dikunjungi oleh pembeli yang berjalan kaki ataupun yang memakai kendaraan.
Terdapat pula yang memperjualbelikan hewan-hewan ternak dan menyewakan pedati bagi orang yang membutuhkan tumpangan atau hanya sekedar untuk membawakan barang belanjaannya yang berlebih. Bahkan tidak sedikit orang yang menjajakan budak-budak untuk dijadikan sebagai pekerja atau menjadi kacung.
Jaka memacu kudanya perlahan diikuti Nyi Dewi melewati pasar yang berjarak puluhan meter itu. Berjubel dengan para pembeli yang hilir mudik mencari barang yang mereka butuhkan. Meskipun tidak padat, tetapi jalanan di pasar itu tampak begitu ramai.
Selain tempat itu menjadi tempat mata pencaharian penduduk dari dusun-dusun di sekitarnya, tempat itu berada di jalan utama, sehingga membuatnya tak begitu sulit untuk dicapai.
"Kanda, banyak sekali orang-orang yang datang kemari!" Melirik kesana-kemari.
"Ya, mereka setiap hari pasti memenuhi kebutuhan hidupnya dari tempat ini. Tak heran tempat ini bisa begitu ramai."
"Hmm.." Laras bergumam lirih.
"Apa kau ingin pergi melihat-lihat?" tanya Jaka. Laras menggeleng pelan. Hanya memandangi barang-barang yang diperjualbelikan sekilas saja.
Setelah melewati pasar tersebut, Jaka dan juga Nyi Dewi memacu kudanya dengan cepat. Dan dalam hitungan menit saja, Pasar Rau' kini sudah terlewat jauh di belakang mereka.
Jalanan begitu hening dan sepi. Sesepi suasana tengah malam meskipun saat itu waktu masih siang hari.
Jalanan yang tidak terdapat rumah pada samping kanan-kirinya itu terlihat cukup lengang. Tidak ada orang atau sebuah kendaraan pun yang terlihat melintas di jalan tersebut.
Jaka tengah memacu kudanya disusul Nyi Dewi. Keduanya memacu kuda dengan cepat.
Tolong! Tolong!"
Suara teriakan seseorang tiba-tiba saja mengagetkan Jaka dan Nyi Dewi. Suara teriakan itu terdengar tidak begitu jauh dari tempat mereka berada.
Ketika mendekati sumber suara, maka terlihatlah seseorang yang terduduk lesu di atas tanah seolah tengah meratapi nasib.
"Tolong! Siapa saja, tolong!" isaknya dengan nada sedih.
"Ah, Tuan!" Seketika bangkit ketika ia melihat ada orang yang melewatinya.
Jaka menarik kendali dan menghentikan langkah kudanya.
"Apa yang telah terjadi?" tanyanya mendekati seseorang yang menangis terduduk di tanah. Melihat pakaian yang dipakainya, Jaka yakin orang itu sepertinya merupakan kusir barang atau kacung yang bekerja pada orang kaya.
"Tuan, tolong saya, Tuan! Saya baru saja dirampok! Semua barang saya habis dibawa kabur, Tuan!" Memandangi sekelilingnya seolah meratapi nasibnya.
"Saya mohon, Tuan! Tolong saya!" ucap orang itu dengan raut wajah penuh kesedihan dan menghadang laju kuda Jaka.
Orang itu memelas memohon belas kasihan Jaka seolah membuang harga dirinya demi bisa mengembalikan barang-barang yang telah di ambil para perampok.
"Apakah tidak ada seorang pun yang ikut menemanimu?"
Orang itu menggeleng. "Saya hanya sendiri, Tuan! Saya pikir saudara saya sudah ikut naik, tetapi dia tertinggal di rumah majikan saya, Tuan."
__ADS_1
"Lalu, apa barang yang mereka bawa itu adalah barang-barang berharga? Ataukah hanya barang-barang daganganmu?"
"Bukan, Tuan! Barang itu milik majikan saya yang hendak dikirimkan ke Pasar Banggolan untuk disimpan di gudang penyimpanan," ucap orang itu lagi menjelaskan.