
Cerita pun kembali berlanjut..
Sekembalinya Jaka dari Istana kerajaan Suryalaya, ia memutuskan untuk kembali menuju padepokan di bukit Darmalaya.
Ia tak punya pilihan lain selain menjaga padepokan yang diwariskan mendiang gurunya itu. Ia melintasi Desa Kahuripan di bukit Tumenggung, karena dirasa jarak tempuhnya lumayan cepat untuk sampai di bukit Darmalaya.
Deru kaki kuda mengiringi perjalanannya. Selang beberapa jam kemudian, setengah perjalanan sudah ditempuhnya.
Tiba-tiba saja ia menarik kendali kudanya dengan cepat. Kuda pun terhenti.
Ia melirik daerah sekitarnya. Tak ada apa pun, pikirnya. Namun, kedua telinganya menolak prasangkanya. Jaka mendengar jelas suara yang tak asing di telinganya.
Kini semuanya menjadi jelas. Pertarungan sengit tengah terjadi tak jauh di depan dari tempat Jaka berada. Suara dentingan pedang beradu sangat jelas. Hiruk pikuk penuh suara menandakan bukan satu atau dua orang yang tengah bertarung.
Mulanya ia tak menggubris, namun saat ia melintasi tempat pertarungan, hatinya tiba-tiba saja tergugah.
Ia melihat anak perempuan yang tengah dilindungi di belakang seorang pria paruh baya yang tengah terkepung. Pria paruh baya itu hanya bersenjatakan tombak untuk melawan kelompok yang dikenal sebagai kelompok Kuda Hitam.
“Hentikan!” teriak Jaka mencoba melerai pertarungan. Karena aginya pertarungan ini tidaklah seimbang.
“Heh, Kisanak! Apa hakmu mencampuri urusan kami? Kau pikir siapa dirimu itu? Beraninya kau menyuruh kami, kelompok Kuda Hitam, hah! Apa kau tidak mengenal Ledonggowo? Pemimpin kelompok Kuda Hitam yang ditakuti semua orang,” sahut seseorang yang dianggap ketua diantara mereka dengan sombongnya.
“Aku seorang pengembara, namaku Jaka Umbara,” jawab Jaka tenang.
“Hah!! Siapa itu Jaka Umbara?” ucapnya meremehkan. "kami tak kenal! Kalau kau mau selamat, cepat enyah dari hadapan kami!” sahutnya dengan menghunuskan pedang seakan memberikan ancaman.
“Kalau kalian tak segera menghentikan pertarungan ini, maka jangan salahkan aku kalau aku harus meladeni kalian.”
“Bedebah! Punya nyali juga kau rupanya! Akan kupotong tubuhmu itu hingga tak tersisa!” sungut ketua kelompok kuda hitam.
Tanpa basa-basi lagi ia menghunuskan pedangnya ke arah Jaka Umbara.
Seraaang!!!
Kelompok Kuda Hitam segera menyerbu Jaka Umbara, dan langsung meninggalkan pria paruh baya yang melindungi anak perempuannya dengan luka di tubuhnya.
Tak ayal pertarungan sengit pun tak bisa terhindarkan.
Dentingan pedang beradu kembali terjadi. Adu kekuatan bersenjatakan pedang dan tombak mereka lancarkan.
Satu, dua tebasan pedang serta tusukan tombak nyaris saja mengenai Jaka, namun Jaka memberikan perlawanan, sehingga mereka kewalahan menghadapi serangan Jaka Umbara.
Semua anak buah kelompok Kuda Hitam dibuat kalang kabut oleh serangan Jaka. Sebagian mereka bahkan sudah tumbang di tangannya.
__ADS_1
“Kali ini kau boleh menang. Tapi ingatlah, lain kali jangan harap kau bisa menang! Ingat! kami akan membuat perhitungan denganmu! Tunggu saja pembalasan dari kami! Ayo, kita pergi!”
Kelompok Kuda Hitam langsung pergi meninggalkan Jaka Umbara dengan seribu perasaan dongkol atas kekalahan mereka.
Jaka menghampiri pria paruh baya dengan anak perempuan di belakangnya. “Paman, apa kau tidak apa-apa?”
“Wahai anak muda, terima kasih kau telah sudi menolong kami.”
“Memang sudah tugas kita pada sesama kita harus saling tolong menolong.”
“Dari manakah asalmu anak muda?”
“Aku dari bukit Darmalaya.”
“Sekali lagi, aku ucapkan ter.. ima.. kasi.. hh.." Uhukk! Darah segar bersimbah dari mulut pria paruh baya.
Segera anak perempuannya memburunya. “Tidak! Ayahanda.. Ayahanda..”
“Ayahanda, mari kita pulang! Kita harus segera mengobati luka ayahanda.”
“Anakku, aku sudah ... tak sanggup lagi ... bertahan,” ujar pria paruh baya setengah terbata.
“Tidak!! Ayahanda jangan berkata begitu. Aku tak ingin Ayahanda pergi. Pokoknya kita akan pulang dan mencari obat untuk mengobati luka Ayahanda.”
Suaranya mulai melemah. Jaka mencoba untuk mendekatinya.
“Kalau bisa kulakukan, baiklah. Hal apa kiranya yang bisa aku lakukan?” ucap Jaka menyanggupi
“Aku rasa aku sudah tidak kuat lagi..”
“Ayahanda, janganlah berkata seperti itu.” potong anak perempuannya. “aku yakin ayahanda masih bisa tertolong.” Ia terisak dalam ucapannya, menahan tangisannya agar tak pecah.
“Anakku, janganlah bersedih hati! Jangan menyerah pada hidup ini!" Dipeluknya ia oleh anak perempuannya.
“Wahai anak muda..” Ia memandang Jaka. “tolong jagalah putriku.."
Suaranya makin melemah.
"Aku tidak punya keluarga atau kerabat lain untuk menjaganya. Sudilah kiranya kau menjaga anakku seperti kau menjaga keluargamu.”
Tak berselang lama napasnya terputus. Habis. Pria paruh baya itu tidak mampu terselamatkan. Ia menutup mata untuk selamanya di depan anak perempuannya.
“Ayahanda.. Ayahanda.. jangan tinggalkan aku sendirian.”
__ADS_1
Anak perempuan itu menangis sejadi-jadinya. Jaka mencoba menenangkan anak perempuan tersebut.
“Katakan siapa namamu?”
Anak perempuan itu tak membalasnya. Ia hanya tersedu-sedu dalam tangisnya. Menangisi sang ayah yang sudah pergi meninggalkan alam fana ini.
“Sekarang, mari kita makamkan jasad ayahmu terlebih dahulu. Setelah itu, kita akan mencari tempat untuk tinggal kita,” hibur Jaka.
Lagi-lagi tak ada tanggapan apa pun dari anak perempuan tersebut. Tangisannya masih terdengar meskipun suaranya tak begitu keras.
Setelah proses pemakaman selesai, Jaka mulai melanjutkan perjalanannya yang sempat terhenti.
Ia berjalan diikuti anak perempuan yang dititipkan oleh pria paruh baya untuk dijaganya dan segera pergi menunggangi kudanya meninggalkan pusara pria paruh baya yang ia makamkan.
Hampir beberapa jam sudah Jaka kembali melanjutkan perjalanan dengan seorang anak perempuan yang tak ia tahu siapa namanya itu.
Ia kembali menuju padepokan tempat ia tinggal bersama gurunya.
Dalam perjalanannya, tidak ada sepatah kata pun keluar dari keduanya, hanya langkah kaki kuda yang berbicara.
Jaka kian mempercepat pacuan kudanya karena hari sudah hampir senja. Tak lama pun keduanya telah sampai di padepokan. Lantas keduanya turun dari kuda.
“Ayo, kita masuk. Kita akan tinggal di sini untuk sementara waktu.”
Jaka berlalu masuk ke dalam padepokan, sedangkan anak perempuan itu enggan mengikuti langkahnya.
Melihat hal itu, Jaka kembali mengulang ucapannya. “Ayo, kita masuk!” ajak Jaka lagi.
Anak perempuan itu akhirnya menurut. Ia masuk mengikuti Jaka dengan sisa-sisa kesedihan di wajahnya.
Jaka mengambil hidangan makan malam untuk keduanya. Membaginya menjadi dua bagian. Satu untuk dirinya, sisanya untuk anak perempuan itu.
“Makanlah! Kau mesti makan agar tidak sakit. Makanlah sebelum makanannya menjadi dingin.”
Disodorkannya hidangan berupa nasi dan lauk pauk ke hadapan anak perempuan itu.
Ia tak bergeming. Sisa-sisa kesedihannya belum hilang sepenuhnya. Mungkin, hal itu yang membuatnya tak mau memakan apa yang disodorkan oleh Jaka kepadanya barang sesuap pun.
Bahkan, tatkala Jaka selesai memakan hidangannya, anak perempuan itu belum menyentuh makanannya sedikit pun.
“Makanlah! Setelah itu kau bisa istirahat. Nanti, akan kubawakan bantal dan alas tidur untukmu”
Untuk ke sekian kalinya ucapan Jaka tidak mendapatkan tanggapan apa pun dari anak perempuan itu.
__ADS_1
Akhirnya Jaka pergi, dan tak lama ia pun kembali lagi. “Ini kusiapkan bantal dan selimut untukmu, makanlah makananmu, setelah itu beristirahatlah! Aku akan tidur di ruang depan, kalau kau membutuhkan sesuatu, katakan saja padaku.”