JINGGA (The Second Wife)

JINGGA (The Second Wife)
bukan satu-satunya


__ADS_3

melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya masih menunjukan pukul 14:00 jingga memutuskan untuk ke apartemen yang waktu itu tama datangi untuk lebih memastikan ada hubungan apa sebenarnya antara tama dan laras. sebelum jingga mengetahui pasti hubungan mereka jingga tidak ingin memberitahu siapapun tentang masalah ini termasuk kepada keluarga dan sahabatnya


setelah berpamitan dan menitipkan jingga kepada ayah salim, jingga langsung mengendarai mobilnya menuju apartemen itu


jingga melangkahkan kakinya menuju lobi apartemen untuk menanyakan pemilik unit apartemen yang bernama amalia larasati.


jingga baru sadar ternyata apartemen yang dia kunjungi saat ini adalah salah satu apartemen termewah di kota surabaya


"siang mbak ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang yang wanita yang bertugas menjadi customer service di apartemen itu


"siang, begini mbak saya mau menanyakan apartemen atas nama amalia larasati berada di unit berapa ya? saya sudah menelfonnya namun tidak di jawab" jingga mulai bersandiwara


"maaf kalau boleh tahu mbak siapanya ya?" tanya customer service itu


"saya saudaranya mbak kebetulan baru datang dari yogyakarta" jawab jingga bohong


"mohon tunggu sebentar ya mbak saya cek dulu" seru customer service itu dan di balas anggukan kepala oleh jingga


"mbak maaf disini tidak ada pemilik apartemen atas nama amalia larasati, mungkin berada di gedung apartemen yang lain" ucap customer service itu membuat jingga mengernyitkan keningnya


"kalau atas nama pratama adnan ada?" cetus jingga entah ada ide darimana sampai bicara seperti itu


tanpa di duga petugas customer service itu langsung mengenali nama suaminya dan sampai hapal setiap kali tama datang kesini kapan saja dan bersama siapa, jingga berpikir apakah suaminya sesering itu datang ke apartemen ini. tapi kapan? kenapa jingga sampai kecolongan?


"unit apartemen atas nama pak pratama adnan berada di unit townhouse private deluxe corner suite 10 di lantai 7 mbak, mungkin wanita yang mbak cari tadi adalah istrinya soalnya saat pak tama membeli unit apartemen disini bersama seorang wanita dan membawa seorang anak kecil "


ucapan customer service itu membuat dada jingga bergemuruh sangat hebat tangannya terkepal kuat menahan gejolak marah dalam dirinya namun sebisa mungkin jingga terlihat biasa-biasa saja di hadapan customer service itu apalagi saat mendengar tipe unit apartemen yang di beli oleh suaminya yang berharga fantastis membuat tubuh jingga lemas seketika


"apa pak tama sedang ada disini atau hanya istrinya ya mbak? soalnya saya gak enak kalau berkunjung kalau pak tama nya ada" tanya jingga berusaha menormalkan degup jantungnya


"sepertinya tidak ada mbak, sudah beberapa hari ini saya tidak melihat pak tama datang kesini hanya istrinya saja yang selalu keluar masuk apartemen ini sendirian " jawab customer service itu panjang lebar


"baiklah terima kasih atas informasinya mbak, saya mau naik ke atas dulu. selamat siang" pamit jingga

__ADS_1


jingga berjalan dengan gontai menuju lift pikirannya menerawang jauh memikirkan betapa spesialnya seorang wanita bernama amalia larasati di hidup tama sampai tama rela mengeluarkan uang milyaran rupiah untuk membelikan laras apartemen semewah itu, jingga cukup tahu jika harga 1 unit apartemen di kawasan itu sekitar 2 milyar itu pun terbilang unit apartemen yang paling biasa apalagi ketika mendengar unit apartemen yang di beli tama bisa mencapai 3 milyar bahkan lebih ya meskipun tidak sebanding dengan rumah yang di tempatinya saat ini namun tetap saja hatinya terasa sesak mengingat dirinya bukanlah satu-satunya wanita spesial di hidup tama


ting


pintu lift pun terbuka jingga langsung memakai topi dan kacamata hitamnya yang sejak tadi dia simpan di dalam tasnya. jingga berjalan ke unit apartemen yang sudah di ucapkan oleh customer service tadi dan sepertinya keberuntungan tengah berpihak padanya saat ini, jingga melihat seorang wanita keluar dari unit apartemen itu dengan menuntun anak laki-laki yang berusia sekitar 6 tahun


jingga memperhatikan gerak-gerik mereka dari jarak aman agar tidak ketahuan namun jingga masih bisa percakapan di antara mereka


"mi kita mau ketemu papi sekarang?" tanya bocah laki-laki itu


"no... kita hanya akan pergi berdua dan jangan banyak bertanya lagi" jawab laras dengan ketus


"tapi daren rindu papi" rengek bocah itu


"sudahlah papi kamu itu sedang sibuk jangan merengek lagi, atau mami akan titipkan kamu lagi bersama bunda husni kamu mau?" ancam laras dengan tatapan elangnya


"no mi daren gak mau" tolak bocah yang bernama daren itu menggeleng-gelengkan kepalanya


"good boy, kita pergi sekarang"


tubuh jingga benar-benar terasa lemas, tubuhnya merosot seakan tak ada tenaga lagi untuk berdiri. jingga menekuk kedua lututnya dan menelungkup kan wajahnya dengan air mata yng sudah membasahi pipi mulusnya. jingga benar-benar tidak menyangka jika kenyataan yang harus dia terima lebih sakit dari apa yang dia bayangkan


jingga berusaha berdiri dan menghapus jejak airmata yang menempel di sudut matanya, jingga harus memastikan terlebih dahulu ada hubungan apa tama dengan laras, apa hanya sekedar selingkuhan atau sudah terikat dalam ikatan pernikahan


jingga memakai lagi kacamata hitamnya dan berjalan sebiasa mungkin agar orang-orang tidak mencurigainya


dddrrtttt


dddrttttt


dddrrttttt


ponsel jingga berdering saat jingga akan memasuki lift

__ADS_1


jingga berdecih daat melihat sebuah nama yang menghubungimua


mas tama calling


jingga tidak berniat untuk menjawab panggilan dari tama, hatinya sudah benar-benar kecewa dengan pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu, jingga memilih mematikan ponselnya karena tanpa henti tama terus menghubunginya membuat jingga semakin muak


"jingga...." teriak seseorang saat jingga sampai di parkiran apartemen membuat jingga menoleh ke arah sumber suara


jingga mengernyitkan keningnya saat melihat seorang pria setengah berlari menghampirinya, jingga mematung di hadapan lift karena tidak ingin di anggap sombong oleh pria itu


"jingga kan?" tanya pria itu saat sudah tiba di hadapan jingga


"dimas" seru jingga saat melihat pria itu ternyata adalah temannya semasa SMA dulu


"ya ini aku, apa kabar? kok bisa disini ngapain juga pakai kacamata sama topi begitu?" tanya dimas menunjuk topi dan kacamata yang jingga kenakan


"kabar aku baik dim, aku lagi menjalankan misi rahasia" jawab jingga membuka topi dan kacamata hitam yang dia gunakan


"kamu sendiri ngapain disini?" tanya jingga balik


"aku habis meeting di restoran dekat situ eh gak sengaja liat kamu, jadi detektif nih sekarang" seru dimas tergelak


"ya bisa di bilang kayak gitu, kabar kamu baik kan dim? kapan nikah? perasaan aku belum terima undangan pernikahan dari kamu deh" tanya jingga membrondong


"wah kamu ketinggalan informasi ji, aku udah nikah dua tahun yang lalu, aku kirim kok undangan ke rumah kamu waktu itu" jawab dimas


"ke rumah ayah maksud kamu?" tanya jingga lagi


"yes, aku kan gak tahu alamat rumah kamu sama suami kamu" jawab dimas


"tapi kok ayah gak bilang apa-apa ya dim" jingga merasa heran


"ayah kamu masih dendam kali sama.aku" cetus dimas

__ADS_1


"dendam?" ulang jingga


"kan aku dulu sering bantuin kamu ketemu sama arthur diam-diam dan sialnya selalu ketahuan sama ayah kamu"


__ADS_2