
Setelah memastikan kondisi Jingga baik-baik saja, Arthur mengajak Jingga untuk makan siang terlebih dahulu. Arthur tahu sejak membawa Hana ke rumah sakit Jingga oasti belun memakan apapun apalagi jam sudah menunjukan waktu makan siang.
Arthur memberi kabar kepada Dimas untuk menyusuknya ke cafe yang ada di dekat rumah sakit itu, awalnya Arthur mengajak Jingga untuk makan di kantin rumah sakit namun Jingga menolak
"kamu beneran gak apa-apa ji?" tanya Arthur yang sudah sampai di cafe itu
"gak apa-apa, gak ada luka yang serius juga" jawab Jingga sambil mengecek ponselnya
"kamu kenapa kayak yang gelisah gitu?" tanya Arthur lagi
"lagi nunggu kabar dari mbak maya, soalnya sejak tadi aku kirim pesan belum di balas juga aku takut sabia rewel" jawab Jingga
"habis ini kamu pulang saja gak usah balik ke kantor lagi, semua meeting hari ini juga sudah selesai" tawar Arthur membuat Jingga tidak enak hati
"janganlah, aku gak enak sama karyawan yang lain baru jadi karyawan baru sudah seenaknya" tolak Jingga
"ya sudah terserah kamu saja, mobil kamu masih di rumah Hana?" tanya Arthur lagi
"masih, rencananya sepulang dari kantor aku mau mengambilnya" jawab Jingga
"biar aku yang antar" tawar Arthur
"nanti malah ngerepotin kamu" sahut Jingga
"tidak apa-apa buat kamu tidak ada kata repot" ucap Arthur
"gombal"
Tidak berselang Dimas pun datang dan duduk di antara Jingga dan Arthur, Dimas menatap Jingga dengan tatapan yang sulit untuk di artikan
__ADS_1
"kenapa datang-datang ngeliatin aku kayak gitu?" selidik Jingga kepada Dimas
"aku ketemu suami kamu barusan di rumah sakit Ji, kamu tahu dia berada disana juga?" tanya Dimas serius
"aku tahu, tadi sempat ngobrol juga. Dia lagi nemenin istri pertamanya di rawat disana" jawab Jingga sambil memakan pesanan mereka yang baru saja di antar oleh pelayan
"kamu kok santai banget" protes Dimas
"terus aku harus gimana Dim? Harus nangis kejer? Atau datengin wanita dan jambak rambutnya gitu?" guyon Jingga
"ya gak gitu juga Ji, emang kamu gak ngerasa sakit hati gitu? Di depan mata kamu sendiri suami kamu nemenin istri pertamanya yang sedang sakit" sahut Dimas ikut menyantap makanan yang sudah di hidangkan
"mau gimana lagi kenyataannya memang seperti itu, disini posisinya aku sebagai istri kedua tetap saja aku yang akan di cap sebagai perebut suami orang Dim meskipun pernikahan kami hanya berjarak satu hari, miris banget sih" ucap Jingga dengan wajah sendu
"udah jangan bahas yang bikin sedih, habisin makanannya Ji setelah ini kita kembali ke kantor" sela Arthur tidak mau Jingga merasa sedih lagi
"iya"
Setelah berpamitan kepada Hana dan Regan, Jingga buru-buru mengajak Arthur dan Dimas untuk meninggalkan rumah sakit karena tidak mau bertemu lagi dengan Tama, Jingga malas harus berbasa-basi tidak penting yang ujung-ujungnya akan membahas hal yang sama.
Sepanjang perjalanan menuju ke kantor Arthur hanya diam, tiba-tiba merasa menyesal karena dulu menerima begitu saja ketika Jingga memutuskan hubungan dengannya jika saja Arthur tahu bahwa Tama bukan pria yang baik Arthur akan menolak keras saat Jingga ingin mengakhiri hubungan mereka dan akan mempertahankan hubungan mereka sekalipun Arthur harus menentang kedua orang tuanya saat itu. Arthur menyesali keputusannya yang tanpa sengaja membuat Jingga hidup menderita dalam pernikahannya selama ini namun apa boleh buat semuanya sudah terjadi dan tidak bisa untuk di perbaiki kembali
Setelah sampai di kantor mereka langsung masuk ke dalam ruangan masing-masing karena memang sudah waktunya untuk kembali bekerja dan waktu makan siang sudah berakhir sejak tiga puluh menit yang lalu
"pak bos lukanya biar saya obatin dulu" tawar Jingga saat sudah berada di ruangan mereka
"luka apa?" tanya Arthur seperti orang linglung
"itu luka di wajahnya" tunjuk jingga ke wajah Arthur yang masih terlihat memar dan ada sedikit luka di bagian pelipisnya
__ADS_1
"oh ya sudah"
Arthur dan Jingga duduk berhadapan, Jingga mengobati luka di wajah Arthur begitu hati-hati khawatir jika Arthur merasakan kesakitan mau bagaimanapun Arthur babak beluk seperti itu juga karena mengantar Jingga dan Sabia pulang
"Ji aku minta maaf" ucap Arthur membuat Jingga mengernyitkan keningnya
"untuk?" tanya Jingga
"seharusnya dulu aku tidak menerima begitu saja ketika kamu mau mengakhiri hubungan kita, mungkin jika aku menentang kedua orang tuaku waktu itu kamu tidak akan menikah dengan Tama dan tidak akan terluka seperti ini" jawab Arthur menatap Jingga dengan tatapan penyesalan
"bukan salah kamu, ini semua sudah jadi jalan takdir hidupku Ar. Mungkin setelah ini aku akan lebih selektif lagi jika harus mengambil keputusan yang penting dalam hidupku" ucap Jingga berusaha menahan rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dalam dadanya
"apa kamu masih mencintaiku Ji?"
Jingga langsung terdiam mendengar pertanyaan Arthur yang membuatnya kesulitan untuk menjawab. Bohong jika Jingga sudah sepenuhnya melupakan Arthur tapi saat ini rasa cintanya untuk Arthur tidak lebih besar dari rasa cinta yang dia rasakan untuk Tama, meskipun Tama sudah menyakiti Jingga tapi tidak semudah itu untuk melupakan perasaannya kepada Tama apalagi sudah ada Sabia di antara mereka. Bukan tidak mempunyai pendirian namun Arthur dan Tama adalah dua pria yang sama-sama pernah menjadi pria terpenting dalam hidup Jingga
Di rumah sakit, saat ini Tama sedang mendengar penjelasan dari dokter Andi tentang kondisi Laras pasca kuretase semalam, Tama menanyakan apa sebenarnya penyebab sampai Laras mengalami keguguran seperti itu
"jadi bagaimana kondisi istri saya sekarang dok?" tanya Tama kepada dokter
"untuk kondisi tubuh ibu Laras saat itu sudah mulai membaik namun ada satu kabar buruk yang terpaksa harus sampaikan kepada bapak" jawab dokter Andi membuat Tama mengerutkan keningnya
"apa itu dok?" tanya Tama lagi
"mohon maaf saya harus menyampaikan kabar tidak enak pak, bu Laras di diagnosa sudah tidak bisa hamil lagi karena ada infeksi di bagian rahimnya setelah kejadian keguguran ini pak, terpaksa semalam saya langsung mengangkat rahim milik ibu laras karena jika tidak di angkat akan berakibat fatal pada kesehatan ibu laras kedepannya" jawab dokter Andi membuat Tama berubah lesu
"sebenarnya apa yang menyebabkan Laras keguguran dok? Soalnya malam itu saya sedang tidak ada di rumah" tanya Tama lagi
"pemicu utama terjadinya keguguran adalah stres yang berlebihan dan kondisi fisik yang terlalu kelelahan pak, dan untuk kasus ibu Laras ini sepertinya istri bapak memendam rasa stres itu sendirian dan menyebabkan kontraksi berlebih pada janin yang dia kandung apalagi kondisi kehamilan ibu Laras ini bisa di katakan sangat lemah dan sangat rentan mengalami keguguran"
__ADS_1