JINGGA (The Second Wife)

JINGGA (The Second Wife)
permainan Laras dan dokter andi


__ADS_3

Setelah selesai berbicara dengan dokter Andi, Tama langsung pergi dari rumah sakit karena ada meeting penting yang tak bisa di tinggalkan, Tama langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada Laras. Tama sempat meminta tolong kepada dokter Andi untuk menyampaikan kepada Laras jika Tama langsung pergi ke kantor dan tidak sempat untuk menemuinya dulu.


Laras yang mendapat kabar itu sudah pasti sangat kecewa, niat hati ingin membuat Tama lebih perhatian lagi padanya malah meninggalkannya begiti saja tanpa ada rasa khawatit sedikitpun padahal Laras hanya sendiri tidak ada keluarga yang menjag selain keluarga.


Laras sudah bersusah payah membuat drama jika dirinya keguguran dan membuat diagnosa palsu agar Tama khawatir tapi nyatanya hanya sia-sia, Tama tetap saja lebih mementingkan pekerjaannya dari pada dirinya


"aku yakin jika Jingga atau anaknya yang sakit pasti kamu rela meninggalkan apapun demi mereka, kamu memang benar-benar sudah berubah Tama" gumam Laras yang masih bisa di dengar oleh dokter Andi


"sepertinya hubungan anda dengan suami andi tidak terlalu baik" tebak dokter Andi membuat Laras semakin kesal


"ya begitulah, suamiku sudah menikah lagi dan lebih mementingkan istri keduanya dari pada aku" sahut Laras


"jadi karena alasan itu anda membuat drama licik seperti ini? Apa anda tidak takut jika suatu saat suami anda mengetahui semuanya?" tanya dokter Andi dengan tatapan yang sulit di artikan


"apapun yang akan terjadi nanti aku tidak peduli, yang jelas saat ini aku ingin suamiku kembali seperti dulu. Aku sangat kesepian karena sudah di acuhkan olehnya akhir-akhir ini" keluh Laras membuat dokter menyunggingkan senyumnya


"jadi kapan saya bisa mendapatkan imbalan saya ibu Amalia Larasati?" tanya dokter dengan tatapan mesumnyaa


"bukannya saya sudah mentransfer imbalan untuk anda ya dok?" jawab Laras dengan mengerutkan keningnya

__ADS_1


"ini bukan tentang uang sayang, tapi urusan kepuasann dan kenikmatann di atas ranjang" bisik dokter Andi sambil menjilati telinga Laras membuat Laras tersipu


"apa harus kita melakukannya sekarang?" sahut Laras tak kalah menggoda dengan menggigit bibir bawahnya


Jujur saja Laras memang tidak manahan nafsuu birahiinya terlalu lama, Laras yang memang hyper se*x sangat mendambakan sentuhan seorang pria maka dari itu Laras sering menyalurkan hasratnya dengan Angga selagi Tama sibuk dengan Jingga dan Sabia namun sudah hampir satu bulan ini Angga tiba-tiba menjauhi Laras dan tidak pernah sekalipun berkunjung lagi ke apartemen Laras. Laras sampai rela menjebak Tama dengan obat perangsangg agar mau kembali menidurinya meskipun memang saat itu Tama memang sangat ingin bercintaa dengannya tapi tetap saja Laras ingin kepuasan yang bahkan jika di gempur sampai pagi pun Laras sanggup.


Begitu pula dengan saat ini Laras begitu mendambakan sentuhan seorang pria dan beruntung ada seorang dokter yang haus belaian yang mau menjadi partner ranjangnya meskipun dokter Andi tidak setampan Tama tapi Laras yakin jika urusan ranjang dokter Andi tidak kalah perkasa dari Tama


"apa kita harus melakukannya disini dok?" tanya Laras


"apa kamu tidak keberatan jika kita melakukannya disini?" tanya balik dokter Andi sambil membuka jasnya


"apa tidak akan ada suster yang masuk ke ruangan ini?" tanya Laras sedikit cemas jika tiba-tiba akan ada perawat yang masuk ketika mereka sedang asyik bercintaa


dokter Andi langsung menghubungi seseorang lewat ponselnya, setelah beberapa menit berbicara lewat sambungan telfon dokter Andi langsung menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya dan berjalan ke arah pintu untuk mengunci pintu supaya tidak akan ada orang yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu, tanpa membuang banyak waktu lagi dokter Andi langsung mengungkung tubuh Laras yang sudah siap untuk bertempur, keduanya sudah di penuhi dengan hasrat yang membaraa sehingga mereka tidak peduli lagi sedang berada dimana mereka saat ini.


Laras dan dokter Andi sudah layaknya sepasang kekasih yang sedang menuntaskan rasa rindu mereka padahal jelas-jelas mereka hanya dua orang asing yang baru saja berkenalan, namun karena hasratt di dalam diri keduanya sudah tidak bisa di tahan lagi keduanya bermain cukup liar dan panas, tanpa mereka sadari di setiap ruangan rumah sakit itu sudah terdapat cctv dan dokter Andi seakan melupakan itu karena sudah di kuasai oleh nafsu bejadnyaa, entah bagaimana jadinya nanti jika ada yang mengetahui kelakuan tak bermoral keduanya sampai bercintaa di atas ranjang rumah sakit


sedangkan Jingga yang saat ini sedang bersiap-siap untuk pulang dari kantor tiba-tiba mendapat telfon dari maya jika Sabia tiba-tiba menangis dan tidak bisa di bujuk oleh siapapun sampai niatnya yang ingin mengambil mobil di rumah Hana harus dia urungkan karena khawatir dengan keadaan sang putri

__ADS_1


"jika mau kemana? bukannya mau ambil mobil ke rumah Hana?" tanya Arthur melihat Jingga yang sedang terburu-buru


"ambil mobilnya tidak jadi hari ini, di rumah Sabia tiba-tiba mengamuk aku harus cepat pulang" jawab Jingga langsung berjalan ke arah loby


"biar aku yang antar" tawar Arthur


"tapi Ar aku gak mau bikin kamu repot" sahut Jingga merasa tidak enak hati


"sudah aku bilang semua yang berhubungan dengan kamu tidak akan membuatku repot Ji" ucap Arthur membuat Jingga akhirnya menerima tawaran Arthur untuk di antar pulang


Arthur segera mengambil mobilnya dan menyuruh Jingga untuk menunggu di loby sementara dari kejauhan tanpa Jingga sadari, Tama yang berniat ingin menjemput Jingga harus bersabar hati karena melihat wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu akan di antar pulang oleh pria lain. Tama meremat setir mobilnya begitu kuat sampai buku-buku jarinya terlihat, Tama tidak bisa terima begitu saja Jingga akan di antar pulang oleh Arthur.


dengan langkah panjangnya Tama turun dari mobil dan menghampiri Jingga yang masih menunggu Arthur di loby kantor


"ayok kita pulang" Tama menyeret lengan Jingga untuk masuk ke dalam mobilnya yang berada di sebrang kantor tempat Jingga bekerja


"aku bisa pulang sendiri kenapa harus di seret-seretboo begini sih" protes Jingga merasakan pergelangan tangannya sedikit sakit akibat cengkraman Tama yang sangat kuat


"pulang di antar oleh bos kamu maksudnya hah? sadar Ji kamu masih berstatus sebagai istriku tidak pantas kamu pulang di antar oleh pria lain, apa kata orang nanti" bentak Tama membuat Jingga tidak terima karena di perlakukan dengan kasar di pinggir jalan

__ADS_1


"aku hanya di antar pulang bukan mau selingkuh seperti kamu, kamu yang harusnya sadar mas kita sedang dalam proses perceraian dan kamu sudah tidak berhak lagi mengatur-atur hidupku" Jingga melepaskan cengkraman tangan Tama yang semakin terasa nyeri sampai meninggalkan bekas kemerahan di pergelangan tangan Jingga


"sampai mati pun aku tidak akan pernah menceraikan kamu, dan tidak akan ada pria manapun yang bisa memiliki kamu selain aku Jingga" Tama kembali menyeret tangan Jingga sampai tubuh Jingga nyaris terhuyung ke atas aspal


__ADS_2