
Pagi ini seperti biasa Jingga dan Arthur melakukan aktifitas mereka yaitu bekerja, keduanya di sibukkan dengan beberapa jadwal meeting sampai tak terasa waktu sudah mendekati jam makan siang, saat Jingga dan Arthur masuk ke dalam ruangan mereka disana sudah ada Tania yang sedang menunggu Arthur dengan senyuman manisnya membuat Jingga ingin muntah ketika Tania menyapa Arthur dengan nada manja, benar-benar membuat Jingga dongkol dan ingin menonjok muka Tania yang sok cantik menurut Jingga
"sahabat masa kecil kamu sudah menunggu" cibir Jingga mendelik ke arah Arthur
"sayang jangan mulai" rengek Arthur
"BODO AMAT" teriak Jingga membuat Arthur terkekeh
Arthur terus memandangi Jingga yang berjalan menuju meja kerjanya, Arthur senang ketika melihat Jingga sedang cemburu seperti itu terlihat menggemaskan di matanya.
Arthur juga senang karena sekarang Arthur yakin Jingga juga mencintainya karena cemburu tanda cinta bukan?
Arthur bisa melihat dan merasakan saat ini Jingga sedang cemburu kepada Tania karena selalu menempeli Arthur.
Arthur berjalan menuju meja kerjanya sambil bersiul, tangan jahilnya menjawil dagu Jingga saat melewati meja kerja kekasihnya itu namun malah di balas umpatan oleh Jingga membuat Arthur semakin tergelak
"hai Ar kok tumben meetingnya lama?" tanya Tania
"iya, kamu udah lama nunggu?" tanya Arthur balik
"belum lama sih, aku mau ngajak kamu siang seperti biasa" ajak Tania percaya diri
"oke, sebentar ya aku cek laporan dulu" sahut Arthur di balas anggukan kepala oleh Tania
Jingga yang sejak tadi memperhatikan interaksi antara Arthur dan Tania merasa kesal ketika melihat Arthur bicara begitu lembut kepada Tania apalagi ketika Arthur menampilkan senyuman manisnya di hadapan Tania sungguh membuat Jingga merasa kepanasan, jika saja bukan di kantor sudah pasti Jingga akan melempar wajah Arthur dengan berkas yang ada di atas meja kerjanya saat ini,
Jingga melihat Arthur dan Tania berjalan ke arahnya, dengan sengaja Jingga pura-pura menerima panggilan telefon dari Tama dengan suara yang sengaja di buat kencang
"aku sepertinya makan siang di kantor mas, kenapa?" ucap Jingga sambil menempelkan ponsel ke telinganya
Arthur mengernyitkan keningnya mendengar Jingga berbicara dengan sebutan "MAS"
__ADS_1
"dalam rangka apa kamu mau traktir aku mas?"
Arthur sengaja menghentikan langkahnya karena ingin mendengar percakapan Jingga di balik telfon yang hanya pura-pura itu
"hahaha... Kamu bisa aja mas, ya sudah kalau kamu maksa aku kesana sekarang. See you mas Tama"
dengan sengaja menekan kata "MAS TAMA" Jingga sukses membuat Arthur meradang,
Arthur menghampiri Jingga dan langsung mengambil ponsel Jingga yang masih menempel di telinganya
"kamu apa-apaan sih?" tegur Jingga pura-pura kesal
"aku tidak ijinkan kamu pergi kemanapun, apalagi buat nemuin mantan kamu itu" sahut Arthur marah
"aku cuma mau makan siang, kamu juga sering kan makan siang sama teman masa kecil kamu itu" ucap Jingga melirik sinis ke arah Tania yang berdiri di samping Arthur
"tapi itu beda yang"
Arthur langsung melihat ke arah ponsel Jingga, Arthur mengernyitkan keningnya melihat ponsel Jingga dalam keadaan layar ponselnya yang sudah mati padahal jika masih menerima panggilan telfon seharusnya layarnya masih menyala, penasaran Arthur langsung melihat catatan panggilan di ponsel milik Jingga dan mencari nama Tama, berkali-kali Arthur mencari nam Tama namun tidak ada satupun panggilan masuk atau panggilan ke luar dengan nama Tama.
Arthur langsung menatap wajah Jingga yang sedang tersenyum mengejek ke arahnya
"tapi boong" ledek Jingga menjulurkan lidahnya ke arah Arthur dan mengambil ponselnya kembali di tangan Arthur
"kamu ngerjain aku?" tanya Arthur melotot
"iya, kenapa? Masalah?" Jingga sengaja menantang Arthur
"berani kamu ngerjain calon suami kamu sendiri hah?" Arthur memiting pelan leher Jingga karena gemas dengan tingkah kekasihnya itu
"berani lah? Kenapa gak suka?" tanya Jingga meledek
__ADS_1
"aku cemburu Jingga Maharani" jawab Arthur sambil menggigit pipi Jingga
Tania yang sejak tadi memperhatikan drama yang terjadi antara Jingga dan Arthur seolah kehadirannya tidak di anggap oleh mereka berdua, ada sedikit rasa tidak terima Arthur memuliki hubungan khusus dengan Jingga namun Tania merasa tenang karena oma Atika menjamin jika Tania akan menikah dengan Arthur.
"ar kita jadi makan siang kan?" tanya Tania yang mulai merasa jengah melihat kemesraan Arthur dan Jingga
"jadi" jawab Arthur
"ayok sayang kita makan siang" Arthur menggenggam tangan Jingga mengajak Jingga untuk makan siang bersama
"sama sekretaris kamu?" tanya Tania tak suka
"Jingga bukan sekretaris aku, dia juga calon istriku jadi sudah seharusnya Jingga ikut kemanapun aku pergi" jawab Arthur
"tapi kan biasanya kita makan cuma berdua" protes Tania
"mau jadi makan apa engga? Kalau kamu keberatan aku makan berdua saja dengan Jingga"
"tapi nanti oma bisa marah kalau kita gak jadi makan siang bareng" ceplos Tania membuat Arthur tersenyum sinis
"oma? ona Atika maksud kamu? Apa hubungannya makan siang kita sama oma?" selidik Arthur menatap tajam ke arah Tania
"ii...itu mmmm ii...tuu apa, gimana ya jelasinnya" sahut Tania gelagapan
"kenapa? Gak bisa jawab kan?" tanya Arthur membuat Tania bungkam
"aku udah tahu sebenarnya oma menjodohkan kamu sama aku kan? Tapi aku tekankan aku sudah punya calon istri, ayah dan bunda juga sudah merestui hubungan kami, aku kira selama beberapa hari ini kamu selalu datang kesini itu murni karena memang kita sudah lama tidak bertemu dan berniat untuk mencari pekerjaan disini tapi ternyata kamu sudah merencanakan ini semua dengan oma kan? Maaf Tania dari dulu sampai sekarang aku hanya menganggap kamu sebagai teman dan aku sama sekali tidak mempunyai perasaan lebih sama kamu.
aku minta mulai sekarang kamu berhenti mengunjungi aku kesini karena ada Jingga yang harus aku jaga perasaannya"
Setelah mengatakan itu Arthur langsung pergi meninggalkan Tania dengan merangkul pundak Jingga, Tania hanya menatap nanar ke arah Arthur yang berjalan semakin menjauh. Tania memang sudah menyukai Arthur sejak dulu namun Arthur tidak pernah membalas perasaannya, saat oma Atika meminta dirinya untuk menjadi istri Arthur, Tania senang bukan main namun di luar ekspektasinya ternyata Arthur masih menutup rapat pintu hatinya untuk Tania, kecewa sudah pasti namun Tania tidak ingin memaksakan kehendaknya apalagi harus menjadi orang ketiga dalam hubungan Arthur dengan Jingga, lebih baik Tania kembali lagi ke kehidupannya yang sebelumnya yaitu menjadi sugar baby dan hidup dalam pergaulan bebas tanpa memikirkan pernikahan setidaknya Tania tidak harus di pusingkan dengan permasalahan rumah tangga. Urusan dengan oma Atika biarlah menjadi urusan Arthur yang menjelaskan Tania sudah tidak mau lagi berurusan dengan oma Atika yang bawel dan selalu bertindak semaunya
__ADS_1