JINGGA (The Second Wife)

JINGGA (The Second Wife)
sekutu tama


__ADS_3

pagi menjelang tama langsung pergi ke rumah ayah salim bukan untuk menemui jingga namun tama ingin meminta bantuan kembali kepada ayah salim agar membujuk jingga supaya membatalkan gugatan cerainya, dengan keadaan yang masih berantakan dan tanpa sempat mandi terlebih dahulu tama langsung melajukam mobilnya ke rumah ayah salim


ting nong


ting nong


ting nong


dengan tidak sabar tama terus menekan bel rumah ayah salim agar sang pemilik segera membukakan pintu untuknya


bi siti yang bekerja di rumah ayah salim sampai tergopoh-gopoh membuka pintu karena mendengar suara bel yang tidak berhenti berbunyi


ceklek


pintu rumah terbuka, bi siti mengernyitkan keningnya melihat tama yang sudah datang pagi-pagi sekali dengan kondisi yang begitu berantakan tidak ada sosok tama yang maskulin dan selalu wangi dalam keadaan apapun, bahkan sekarang penampilan tama nyaris seperti gembel


"den tama, tumben pagi-pagi sekali sudah kesini" sapa bi siti sedikit kaget dengan kedatangan tama


"ayah ada bi?" tanya tama tanpa menghiraukan ucapan bi siti


"ada den, ayok masuk dulu" ajak bi siti membukakan pintu rumah semakin lebar agar tama bisa masuk


setelah mempersilahkan tama duduk dan menyuguhkan teh hangat untuk tama bi siti bergegas memanggil ayah salim yang masih berada di dalam kamar


tok


tok


tok


"permisi tuan" seru bi siti dari balik pintu


"buka saja pintunya bi" sajut ayah salim


"tuan maaf ada den tama di ruang tamu sedang menunggu tuan" ucap bi siti sopan


"tama?" ulang ayah salim


"enggeh tuan" jawab bi siti

__ADS_1


"buat apa anak itu pagi-pagi sekali sudah datang kemari" gumam ayah salim heran


"suruh tunggu sebentar bi" titah ayah salim


"enggeh tuan, kalau begitu saya permisi" pamit bi siti


"ya"


ayah salim melihat jam di pergelangan tangannya masih menunjukan pukul 6 pagi, sepertinya tama berkunjung terlalu pagi menurut ayah salim, bahkan untuk sekedar sarapan pun harus menunggu sekitar satu jam lagi


"astagfirullahaladzim" gumam ayah salim mengusap-usap dadanya karena melihat penampilan tama


"pagi ayah" sapa tama lesu


"kamu kenapa seperti gelandangan begini tama? mana jingga dan sabia?" tanya ayah salim clingak clinguk mencari keberadaan anak dan cucunya


"mereka tidak ikut ayah, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan dan ini sangat penting" jawab tama dengan ekpresi wajah sangat serius


"ada apa? apa kamu dan jingga bertengkar lagi?" tebak ayah salim


"bahkan lebih parah dari sekedar bertengkar ayah" akui tama jujur membuat ayah salim mengernyit heran


"jingga sudah tahu jika dia istri keduaku yah, semalam jingga pergi dari rumah dan sudah memasukan gugatan cerai ke pengadilan agama, aku harus bagaimana sekarang yah? aku tidak mau kehilangan jingga tolong bantu aku yah" mohon tama terlihat begitu menyedihkan di mata ayah salim apalagi melihat penampilan tama yang seperti tidak terurus


"apa sampai saat ini kamu masih berhubungan dengan wanita itu?" tanya ayah salim tegas, tama pun menjawab dengan menganggukan kepalanya


"jika saja kamu lebih cepat menceraikan dia mungkin semua ini tidak akan terjadi dan jingga juga tidak akan meninggalkan kamu, jingga pergi kemana semalam" lanjut ayah salim


"aku tidak tahu ayah, semalam jingga terlihat sangat kecewa sama aku dan ayah, waktu itu saat kita bicara di kantor ternyata jingga ada disitu dan tanpa sengaja jingga mendengar semua percakapan kita dan merekamnya" ucap tama tertunduk lesu


"ya Tuhan pantas saja jingga tidak pulang kesini pasti dia sangat kecewa sama ayah" lirih ayah salim merasa sangat berdosa kepada jingga


"aku harus bagaimana ayah? aku lebih baik mati jika jingga dan sabia benar-benar pergi meningglakan aku" keluh tama membuat ayah salim semakin serba salah


"jangan memohon seperti itu tama, ayah juga bingung apa yang harus ayah lakukan sekarang jingga itu sangat keras kepala tidak mudah untuk meluluhkan hatinya kembali apalagi jingga sudah sangat terluka seperti ini" ucap ayah salim yang belum bisa berpikir jernih saat ini


"tapi ayah....."


"sudahlah lebih baik kamu sekarang pulang ayah akan coba bicara dengan jingga, dan bersihkan badan kamu, belum genah sehari di tinggalkan jingga kamu sudah putus asa seperti ini. menyedihkan sekali" cibir ayah salim

__ADS_1


"ayah tidak mengerti bagaimana hancurnya perasaanku saat ini, separuh hidupku seakan hilang tanpa adanya jingga dan sabia ayah" lirih tama


"berusahalah jika memang kamu sungguh-sungguh ingin mempertahankan rumah tangga kalian, ayah juga merasa bersalah karena secara tidak langsung ayah adalah penyebab utama permasalah ini. ayah akan berusaha untuk membantu kamu" ucap ayah salim


"terima kasih ayah, semoga jingga mau mendengarkan nasehat ayah" sahut tama


"pulang tama dan segera bersihkan badan kamu, jangan sampai jingga semakin ilfeel melihat penampilan kamu yang menyedihkan seperti ini" titah ayah salim merasa iba kepada menantunya itu


"baik ayah, kalau begitu aku permisi dulu" pamit tama


"hati-hati tama"


setelah berpamitan kepada ayah salim, tama segera pulang ke rumahnya. tama merasa ada setitik cahaya terang untuk permasalahannya dengan jingga meskipun tama belum yakin jika jingga akan mencabut gugatan cerainya atau tetap melanjutkan gugatan cerai itu namun setidaknya tama harus memperjuangkan semuamya bagaimanapun hasilnya nanti tama tidak mau memikirkannya sekarang


setelah tama pergi dari rumah ayah salim, ayah salim langsung menghubungi jemi, ayah salim sangat yakin jika jingga dan sabia saat ini berada di rumah anak tertuanya itu, setelah benar-benar memastikam keberadaan anak dan cucunya memang berada di rumah jemi ayah salim langsung menyusul tidak peduli reaksi apa yang ayah salim dapatkan dari jingga yang jelas ayah salim tidak ingin membuat masalah ini berlarut-larut apalagi jingga sudah mengetahui jika ayah salim tahu rahasia tentang tama dan sengaja menutupi dirinya bahkan ayah salim lah yang menjadi tersangka dalam semua permasalahan yang terjadi di hidup jingga


"maafkan ayah jingga, pasti kamu kecewa sekali pada ayah" lirih ayah salim menahan rasa sesak di dadanya


setelah tiga puluh menit perjalanan akhirnya ayah salim sampai di rumah jemi, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang dari biasanya. ayah salim tidak sanggup melihat raut kekecewaam di wajah jingga untuknya namum ayah salim tetap harus menjelaskan semuanya kepada putri bungsunya itu agar jingga tidak terus menerus merasa kecewa kepadanya


"assalamualikum" ucap salim masuk ke dalam rumah jemi yang pintunya memang sudah terbuka


"wa'alaikum salam..." jawab maya yang baru selesai menyiapkan sarapan


"lho ayah tumben pagi-pagi sekali sudah kesini" ucap maya sedikit kaget dengan kedatangan mertuanya yang tiba-tiba


"jemi mana may?" tanya ayah salim setelah maya mencium punggung tangannya


"ada, biar aku panggilakan... ayah duduklah dulu" maya meninggalkan ayah salim yang langsung di ruang keluarga


"eyaaaaaang" teriak sabia senang melihat kedatangan ayah salim


"cucu eyang, sini sayang" ayah salim merentangkan kedua tangannya bersiap untuk memeluk sabia


"bia kangen sama eyang" ucap sabia menciumi kedua pipi ayah salim


"eyang juga kangen sama bia, apa bia menginap sama mami disini?" tanya ayah salim mendudukan sabia di atas pangkuannya


"iya eyang, tapi semalam mami menangis. bia sedih melihat mami terus menangis setiap malam" jawab sabia tertunduk lesu

__ADS_1


__ADS_2