JINGGA (The Second Wife)

JINGGA (The Second Wife)
pernyataan dokter indah


__ADS_3

Dokter Indah menggelengkan kepalanya seraya tersenyum ke arah Laras, Dokter Indah sangat mengerti dengan perasaan seorang wanita yang terpaksa harus kehilangan rahimnya apalagi belum pernah mempunyai anak sama sekali, sangat terlihat raut putus asa yang terpancar dari wajah Laras saat ini, bagaimana dia menjelaskan kepada Tama bahwa buah cinta mereka tidak bisa di selamatkan dan Laras tidak bisa memiliki anak lagi sedangkan selama ini satu-satunya alasan Tama menikahinya adalah karena Laras hamil namun sekarang janin yang mati-matian Laras pertahankan harus di ambil secara paksa, Laras takut benar-benar takut Tama akan menceraikannya jika Tama tahu masalah ini


"Bagaimana bu Laras, apa suami ibu bisa dihubungi?" Tanya dokter Indah


"Barusan sudah saya kasih kabar dok dan suami saya menyetujui apa yang dokter sarankan" jawab Laras berbohong


"Apa pak Tama benar-benar tidak bisa pulang dan mendampingi bu Laras?" Tanya dokter Indah lagi


"Nanti akan ada mertua saya yang datang untuk menemani saya dok" jawab Laras


Dokter Indah tidak tahu jika sebenarnya Laras tidak pernah memberitahu Tama tentang kondisinya dan Operasi pengangkatan rahim yang harus dia lakukan, Laras mengabari Tama jika dirinya sedang di rawat di rumah sakit karena efek kelelahan saja dan Laras pun mengatakan jika janin yang ada di dalam kandungannya baik-baik saja. Laras akan melakukan apa saja asalkan Tama tidak meninggalkan nya termasuk dengan berbuat curang seperti ini, Laras tidak memikirkan kedepannya akan seperti apa tapi yang ada dalam pikirannya saat hanya bagaimana cara menyelamatkan pernikahannya dengan Tama


Flashback off


"Pak Tama apa anda baik-baik saja?" Tanya dokter karena melihat Tama melamun dengan tatapan kosongnya


"Pak Pratama apa anda mendengar saya?" Tanya dokter Indah lagi dengan nada siara sedikit membentak


"Oh iya maaf dok saya melamun, jadi bagaimana?" Tanya balik Tama mencoba menyembunyikan amarahnya kepada Laras di hadapan dokter Indah


"Ya jadi sejak operasi tujuh tahun yang lalu bu Laras sudah di pastikan tidak bisa memiliki anak lagi karen rahimnya sudah di angkat" ucap dokter Indah membuat tangan Pratama mengepal

__ADS_1


"Oh iya saya hampir lupa dengan itu, saking sibuknya bekerja saya hampir lupa jika beberapa tahun lalu Laras melakukan Operasi pengangkatan rahim" sahut Tama berbohong


"Jadi yang sedang sakit anak siapa pak? Apa pak Tama dan bu Laras mengadopsi anak dari panti asuhan?" Tanya dokter indah lagi


"Ya sejak kejadian itu saya dan Laras memutuskan untuk mengadopsi seorang anak laki-laki dari panti asuhan" jawab Tama dengan senyum terpaksa


Dokter hanya menganggukan kepalanya mendengar cerita Tama, tak lama kemudian dokter Indah pamot terlebih dahulu karena ada pasiennya yang akan melahirkan. Entah dapat ide dari mana tiba-tiba saja Tama meminta nomor ponsel dokter Indah yang dia sendiri saja tidak tahu untuk apa, beruntung dokter indah tidak banyak bertanya dan langsung memberikan kartu namanya sebelum pergi meninggalkan Tama yang menikmati kopi pesanannya


"Kalau rahim Laras di angkat waktu itu, terus daren anak siapa? Terus gimana bisa Laras hamil lagi sedangkan rahimnya sudah tidak ada?" Gumam Tama dengan rahang mengeras menahan emosi


Tama tidak ingin gegabah, Tama akan mencari tahu sendiri kebenarannya sebelum menanyakan kepada Laras, karena Tama yakin Laras akan mengelak jika Tama menanykan hal itu tanpa memiliki bukti yang akurat, diam-diam Tama akan melakukan tes DNA dengan Daren tanpa sepengetahuan Laras karena dengan cara itu Tama bisa mengetahui Daren benar-benar anaknya atau bukan, Tama juga baru ingat jika saat proses persalinan Laras dulu Tama tidak mendampingi Laras karena sedang berlibur dengan Jingga dan Sabia, saat Tama kembali Laras sudah melahirkan seorang bayi laki-laki. Tama mencoba meredam emosinya dan kembali ke ruang rawat daren untuk memastikan kondisinya meskipun belum terbukti Daren anak biologisnya atau bukan tetap saja Tama masih harus bertanggung jawab tentang kehidupan Daren


"Mas kamu sudah kembali?" Tanya Laras melihat Tama yang membuka pintu ruang rawat Daren


"Kalau tidak keberatan aku mau titip Daren sebentar ya mas, aku mau pulang dulu sekalian masak buat makan malam kita nanti" ucap Laras


"Daren juga anakku sudah pasti aku akan menjaganya" sahut Tama ketus


"Ya sudah, aku pulang dulu kalau begitu" pamit Laras


"Ya hati-hati" sahut Tama masih dengan wajah datarnya

__ADS_1


Setelah Laras benar-benar pergi, Tama memanggil perawat untuk menjaga Daren sebentar. Tama akan menemui dokter untuk melakukan tes DNA, karena saat ini adalah waktu yang tepat untuk Tama melakukan tes DNA disaat Laras tidak berada di rumah sakit.


Selain itu Tama juga menghubungi salah satu anak buahnya untuk mengikuti kegiatan Laras, apa Laras benar-benar pulang ke apartemen apa manpir ke suatu tempat, entahlah semenjak mendengar ucapan dokter Indah Tadi, tiba-tiba Tama terus berpikiran negatif kepada Laras dan jika memang ada sesuatu yang Laras sembunyikan lagi dari Tama, tama tidak segan-segan akan menceraikan Laras


Sedangkan Arthur dan Jingga, saat ini mereka sedang berdebat di ruangan mereka. Arthur yang terus memaksa Jingga agar pulang bersamanya namun Jingga bersikeras menolak ajakan Arthur karen dia sendiri pun membawa mobil namun Arthur yang memang mempunyai sifat pemaksa tidak mau tahi bagaimanapun caranya Jingga harus pulang bersama dirinya


"Kenapa sifat pemaksa kamu ini gak pernah hilang-hilang sih dari dulu" gerutu Jingga membuat Aerhur terkekeh


"Aku bukan memaksa aku hanya ingin memastikan calon istriku sampai rumah dengan selamat, itu saja" kilah Arthur


"Tapi kan kamu tahu sendiri aku bawa mobil, aku pasti sampai rumah dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun" geram Jingga yang sudah tidak tahan dengan sikap Arthur


"Siapa yang akan menjamin hm? Yang paling tepat itu kamu pulang sama aku udah jangan banyak protes lagi" paksa Arthur menarik tangan Jingga keluar dari ruangan mereka


"Ya Tuhan kalau bukan bos udah aku tendang kamu ke luar angkasa biar hidupku tenang" lagi-lagi Jingga menggerutu


"Jangan gitu kalau aku pergi ke luar angkasa nanti kamu kesepian dan gak akan ada yang jagain kamu lagi" sahut Arthur membuat Jingga menggelengkan kepalanya


"Bodo amat"


"Jangan mengumpat sama calon suami, gak baik"

__ADS_1


Arthur terus menarik tangan Jingga sampai parkiran tak peduli dengan tatapan semua karyawan yang menatap ke arah mereka dengan tatapa aneh, baru kali ini mereka melihat Arthur melakukan kontak fisik dengan seorang wanita apalagi itu adalah sekretarisnya sendiri, selama ini Arthur memang terkenal sebagai CEO yang dingin dan galak jarang berinteraksi dengan lawan jenis kecuali urusan pekerjaan, mereka tidak tahu saja bahwa wanita yang saat ini sedang berjalan dengannya adalah alasan kenapa Arthur sempat menjadi sosok pria dingin dan terkesan sombong namun sekarang sosok pria dingin dan sombong itu sudah tidak akan ada lagi karena pawangnya sudah kembali


__ADS_2