
"selamat pagi Jinggaku" sapa Arthur penuh senyuman saat Jingga masuk ke ruangannya
"pagi pak bos" jawab Jingga sekenanya
"kok gitu jawabnya" protes Arthur tak terima
"terus harus jawab kayak gimana?" tanya Jingga menatap Arthur
"pagi juga bosku yang paling tampan dan baik hati, harusnya gitu" jawab Arthur cengengesan
"kamu gak salah minum kan? aneh banget" ucap Jingga menuju meja kerjanya
"buat kamu" Arthur menyodorkan satu batang coklat lengkap dengan satu tangkai bunga mawar putih
"gak salah ngasih ini sama aku?" Jingga menunjuk kepada dirinya dengan mengernyitkan keningnya
"ya enggak lah emang udah aku siapin coklat plus bunga itu buat kamu, bunga mawar putih kesukaan kamu" sahut Arthur dengan senyuman yang semakin melebar membuat Jingga semakin keheranan
"dalam rangka apa?" tanya Jingga
"dalam rangka nostalgia saat kita pertama pacaran dulu" jawab Arthur
"ya Tuhan Arthur" Jingga menepuk keningnya sendiri
Jingga merasa sekarang Arthur kembali seperti dulu, saat pertama kali mereka pacaran tidak jauh berbeda dengan yang Arthur lakukan sekarang, memberinya coklat dan setangkai bunga mawar putih setiap hari.
Dulu Jingga merasa sangat senang menerima hadiah itu namun sekarang Jingga merasa benar-benar aneh dengan tingkah mantan kekasihnya yang merangkap sebagai bosnya itu.
pasalnya sekarang di antara Jingga dan Arthur tidak ada hubungan spesial apapun selain hubungan antara bos dan sekretarisnya tapi kenapa hari ini tiba-tiba sikap Arthur berubah menjadi sangat aneh
"liatnya gak usah gitu banget" Arthur mengusap wajah Jingga yang terus menatap aneh ke arahnya
"kamu baik-baik aja kan hari ini?" tanya Jingga memastikan
"aku baik bahkan lebih baik dari hari-hari sebelumnya" jawab Arthur
__ADS_1
"terus coklat sama bunga ini maksudnya apa?" Jingga masih saja terus bertanya
"aku akan memperjuangkan hubungan kita kembali, aku mau kita kembali seperti dulu lagi ji, kami mau kan memberi aku kesempatan lagi" ucap Arthur membuat Jingga speechless
"aku gak salah denger kan? kamu gak lagi ngigau kan?" Jingga menatap Arthur dengan tatapan tajam
"apanya yang salah? status kamu sekarang sudah single kan? jadi bebas dong mau di deketin pria manapun termasuk aku, so.... dari pada keduluan sama pria lain lebih baik aku menawarkan diri untuk menjadi calon suami kamu dan calon papi baru buat sabia" ucap Arthur dengan gaya tengilnya
"aku serius Ar"
"aku lebih serius lagi"
"sudahlah dari pada pusing, ini jadwal kamu untuk hari ini dan jam 9 nanti kamu ada meeting dengan perusahaan kak Jemi"
"sini biar aku pelajari dulu, kamu sudah siapkan semua materi untuk meeting ini kan?"
"sudah"
"bagus, dan ingat Jingga Maharani semua yang aku katakan barusan itu serius dan aku akan membuktikannya"
Setelah perbincangan yang cukup absurd di antara Arthur dan Jingga, keduanya langsung menyiapkan diri untuk meeting Jingga begitu serius mempelajari berkas-berkas yang akan Arthur bahas dalam meeting pagi ini, Jingga tidak menyadari jika sejak tadi Arthur selalu memperhatikannya dari ruangan yang hanya tersekat oleh kaca, Arthur senyum-senyum melihat betapa cantiknya wanita yang selama ini sangat dia cintai, dengan nenatap wajah Jingga saja itu cukup menjadi mood booster bagi Arthur.
Arthur semakin tidak sabar untuk menjadikan Jingga sebagai istrinya meskipun belum ada komitmen di antara keduanya Arthur merasa sangat percaya diri jika Jingga akan kembali padanya dan menjadi istrinya
"So beautiful" gumam Arthur dengan senyuman yang tak luntur dari wajah tampannya
Tepat pukul 9 Arthur dan Jingga masuk ke dalam ruang meeting di ikuti oleh Dimas dan Hana tak berselang lama Jemi pun datang dengan Asisten pribadinya, meeting oun berjalan begitu lancar meskipun di antara mereka saling mengenal satu sama lain namun jika sedang dalam urusan pekerjaan mereka cukup profesional.
Meeting berjalan cukup lama karena Arthur dan Jemi sedang bekerja sama dalan membaangun proyek yang cukup besar di luar kota, Arthur yakin dengan bekerja sama dengan perusahaan Jemi, Arthur bisa semakin dekat dengan keluarga Jingga dan tentu saja memudahkan jalan Arthur untuk meminta restu kepada keluarga Jingga untuk menjadikan Jingga sebagai istrinya
Meeting selesai tepat saat jam makan siang, Jemi yang awalnya memutuskan untuk langsung kembali ke kantornya mengurungkan niatnya karena Jingga terus membujuknya agar makan siang terlebih dahulu bersamanya, bukan hanya dengan Jingga tepatnya tapi bersama Arthur, Dimas dan Hana juga tentunya
Mereka memutuskan untuk makan siang di restoran yang tak jauh dari perusahaan Arthur karena perut mereka sudah berdemo meminta untuk segera di isi makanan
"Ehemmmmm...." Arthur sengaja berdehem untuk memecah keheningan
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Dimas menatap Arthur curiga
"Kak jem apa kabar? Sudah lama ya kita gak ngobrol-ngobrol" tanya Arthur kepada Jemi tanpa memperdulikan pertanyaan Dimas
"Cihh cari muka bukannya tadi di ruang meeting udah ngobrol panjang lebar" cibir Dimas kesal
"Itu kan ngobrolin tentang pekerjaan, maksud aku tuh ngobrol yang lebih santai" sahut Arthur
"Modus"
"Kak jem kapan-kapan aku boleh kan main ke rumah kakak?" tanya Arthur tanpa memperdulikan cibiran Dimas
"Uhuuk....uhukkk" tiba-tiba Jingga batuk padahal tidak sedang minum ataupun makan
"Minum dulu"
Hana menyodorkan air mineral kepada Jingga yang tadi dia bawa dari kantor, tak berselang lama makanan yang mereka pesan pun datang namun Arthur tak berhenti mengoceh seperti ingin terkihat akrab dengan Jemi membuat Dimas nerasa jengah karena aktifitas makan siang terganggu dengan obrolan Arthur yang tidak berbobot menurutnya, padahal Arthur sengaja ingin lebih mendekatkan diri dengan Jemi agar lebih mudah mendapatkan restu dari calon kakak iparnya itu
"Mending makan dulu Ar, kalau kamu ngoceh terus perutku bukannya kenyang karena makanan tapi kenyang karena dengerin kamu nyerocos terus dari tadi" ucap Dimas menggerutu
"Benar kata Dimas lebih baik sekarang kita makan dulu, lagian sebentar lagi saya juga harus kembali ke kantor" sahut Jemi
"Tapi kak aku masih mau ngobrol sama kak Jem" sela Arthur
"Kapan-kapan kamu datang saja ke rumah, nanti kamu bebas mau bicara apa saja" seru Jemi membuat Arthur mengembangkan senyumnya
"Senang kan kamu Ar udah dapet lampu hijau dari calon kakak ipar" sindir Dimas dengan muka masamnya
"Ayo makan-makan, jam makan siang keburu abis nih" ucap Jingga karena sudah merasa sangat keroncongan
Jemi hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah Jingga, Arthur dan Dimas.
Jemi sangat mengerti kenapa Arthur mendadak ingin sekali berkunjung ke rumahnya apalagi alasannya jika bukan karena adik kesayangannya namun Jemi oura-pura tidak tahu, Jemi ingin tahu sampai sejauh mana idaha Arthur untuk mendapatkan hati Jingga kembali.
sebagai seorang kakak Jemi tidak akan membatasai siapapun pria yang akan mendekati Jingga asalkan pria itu tulus dan menyayangi Jingga dengan keadaan Jingga yang sekarang karena tidak mudah menerima wanita yang sudah berstatus seorang Janda dengan mempunyai anak apalagi status Arthur masih seorang pria bujang belum berpengalaman dalam pernikahan
__ADS_1