
hari ini Tama akan mengetahui hasil tes DNA dirinya dengan Daren, Tama harus menyiapkan mentalnya jika seandainya Daren bukanlah anak biologisnya. Meskipun selama ini Tama jarang sekali menghabiskan waktu bersama Daren namun Tama sangat menyayangi Daren.
kondisi Daren pun sudah membaik dan sudah di ijinkan pulang oleh dokter, dan saat ini Daren dan Laras sudah sampai di apartement di antar oleh supir Tama sedangkan akan menemui dokter Hadi yang waktu itu Tama tugaskam untuk mengurus tes DNA dirinya dengan Daren
"selamat siang dokter" sapa Tama ketika sudah sampai di ruangan dokter Hadi
"siang pak, silahkan duduk" sahut dokter Hadi
"apa hasilnya sudah keluar dok?" tanya Tama
"sudah, ini bisa bapak lihat sendiri hasilnya" dokter Hadi menyodorkan hasil tes DNA kepada Tama
tanpa membuang waktu lagi Tama langsung membuka amplop itu dan membaca isinya,
rahang Tama tiba-tiba mengeras, wajahnya memerah menahan amarah dan kedua tangannya terkepal kuat.
kecewa dan marah itulah yang di rasakan Tama saat ini, selama bertahun-tahun Laras membodohi dirinya.
hasil tes DNA itu menunjukan bahwa 99% jika Daren bukan anak biologisnya, rasanya Tama ingin marah, ingin menangis namun tidak tahu harus melampiaskannya kepada siapa.
kali ini hidup Tama benar-benar hancur, sudah tidak ada lagi yang harus dia pertahankan. pernikahannya dengan Laras akan benar-benar berakhir.
Tama berusaha tersenyum di hadapan dokter Hadi untuk menutupi rasa kecewanya dan tanpa berbasa-basi lagi, Tama langsung pami untuk pergi dari ruangan dokter Hadi.
"bodoh, bodoh, bodoh.... aargghhh" teriak Tama ketika sudah berada di dalam mobilnya
Tama menitikan airmatanya menyesali kebodohannya selama bertahun-tahun, Tama rela melawan restu kedua orang tuanya hanya untuk mempertahankan hubungannya dengan Laras.
Ternyata ucapan dokter Indah memang benar adanya, Laras sudah menipu Tama dengan menggunakan Daren sebagai korbannya, sungguh Tama menyayangi Daren seperti menyayangi anak kandungnya sendiri sama seperti dirinya menyayangi Sabia.
__ADS_1
Hanya penyesalan dan penyesalan yang Tama rasakan saat ini, karena tidak mendengarkan nasehat dari kedua orang tuanya akhirnya Tama kehilangan semuanya
"Jingga,, Sabia...." lirih Tama di sela isak tangisnya
saat ini Tama benar-benar merindukan sosok putri kecilnya yang sudah hampir satu minggu tidak dia temui, seandainya dulu Tama bisa lebih tegas, memilih meninggalkan Laras dan menikah dengan Jingga mungkin saat ini pernikahan nya dengab Jingga masih baik-baik saja.
setelah emosinya sedikit membaik Tama segera pergi menuju apartemen Laras, Tama ingin menyelesaikan masalahnya hari ini juga
"mas sudah pulang?" tanya Laras melihat Tama dengan wajah kusut
"dimana Daren?" tanya balik Tama dengan memasang wajah dingin
"Daren tidur, mungkin karena pengaruh obat. kamu sudah makan? biar aku siapkan" tawar Larasencoba mendekati Tama
"aku tidak lapar" tolak Tama
"ya sudah kalau begitu kamu istirahat saja" titah Laras
"maksud kamu apa? aku gak ngerti" tanya balik Laras dengan memasang wajah bingung
Tama melemparkan amplop yang berisi hasil tes DNA dirinya dengan Daren tepat ke atas pangkuan Laras yang sedang duduk di atas sofa, bukannya langsung membuka isi dai amplop itu Laras malah membolak-balikannya membuat Tama semakin geram
"buka dan baca isinya" titah Tama yang sudah mulai tersulut emosi
Laras membuka amplop itu kemudian membaca isinya, mata Laras melotot tangannya tiba-tiba bergetar setelah membaca isi dari amplop tersebut. ingin mengelak pun rasanya percuma karena memang sudah ada bukti nyata di hadapannya saat ini
"ini...." ucap Laras ragu
"kenapa kamu lakukan ini sama aku Laras? bertahun-tahun kamu membodohiku dan dengan beraninya kamu mengaku hamil anak kedua dariku, permainanmu benar-benar sempurna sampai aku merasa menjadi pria paling bodoh di dunia ini" sahut Tama dengan nada suara yang meninggi
__ADS_1
"aku memang hamil anak kedua kamu mas, tapi aku keguguran. kamu juga tahu sendiri kan?" ucap lembut Laras membuat Tama berdecih
"bagaimana kamu bisa hamil kalau rahim kamu saja sudah di angkat tujuh tahun yang lalu" sentak Tama membuat Laras seketika bungkam
"kamu benar-benar licik Laras, kamu sembunyikan semua ini dariku dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja bahkan aku menyayangi daren seperti darah dagingku sendiri tapi ternyata Daren bukan anak biologisku karena tujuh tahun lalu kamu terpaksa harus melakukan operasi pengangkatan rahim dan terpaksa menggugurkan janin yang ada di dalam kandungan kamu, kenapa kamu sembunyikan semua ini dariku dan terus berpura-pura hamil sampai Daren tiba-tiba hadir di antara kita" Lanjut Tama dengan suara yang menggebu-gebu karena menahan amarah
"jadi sekarang kamu sudah tahu semuanya?" tanya Laras dengan ekpresi wajah yang tidak takut sama sekali
"baguslah kalau kamu sudah tahu semuanya, aku sudah muak terus bersikap baik sama kamu" Lanjut Laras dengan tatapan matanya yang sulit untuk di artikan
"apa maksud kamu hah?" tanya Tama dengan sorot mata yang begitu tajam
"sejak awal kamu yang salah, kamu orang pertama yang harus di salahkan jadi jangan merasa kamu yang paling tersakiti disini Pratama" dengan berani Laras menatap tak kalah ke arah Tama
"aku sudah terlalu sabar selama ini, jadi mulai saat ini aku tidak ingin berpura-pura lagi. kamu sudah menyakitiku terlalu dalam jadi jangan salahkan aku kalau aku bisa nekad" tekan Laras dengan mata yang sudah memerah karena amarah
"jangan memperumit keadaan Laras sudah jelas disini kamu yang salah, bukan hanya memalsukan kehamilan kamu. selama ini kamu juga bermain di belakang ku bahkan dengan dua pria sekaligus, istri macam apa kamu hah?"
"seharusnya kamu sadar, kalau sejak awal kamu gak terima perjodohan kamu dengan Jingga aku gak akan bertindak sampai sejauh ini, bahkan saat itu kamu tahu aku sedang mengandung anak kamu tapi dengan lantang kamu meminta aku untuk merestui pernikahan kamu dengan Jingga sah secara hukum dan agama sedangkan aku hanya kamu jadikan istri siri, tidak ada seorang istri yang mau berbagi suami Tama. hatiku sudah terlanjur sakit sejak kamu memustukan untuk berpoligami jadi jangan salahkan aku kalau Laras yang sekarang bukan Laras yang polos dan bodoh seperti dulu"
"ternyata sejak awal pernikahan kita bukanlah pernikahan yang sehat, aku selalu berusaha untuk jadi suami yang adil untuk kamu dan Jingga tapi ternyata di mata kamu apa yang aku lakukan semuanya salah dan justru kamu yang merasa paling tersakiti disini"
"bullshit, kamu jangan pura-pura naif Tama sudah jelas selama ini kamu lebih mementingkan Jingga dan Sabia, dan itu alasan kenapa aku berpura-pura mengandung anak kedua kamu, agar kamu lebih perhatian sama aku dan daren tapi ternyata semua sudah gak sama. seorang Pratama Adnan yang aku tahu sangat mencintai seorang Amalia Larasati kini sudah berubah haluan"
"kamu sudah tahu perasaan aku sekarang seperti apa, dan aku rasa sudah gak ada lagi alasan untuk aku mempertahankan pernikahan kita. aku juga tidak mau menyakiti kamu semakin dalam lagi"
"maksud kamu apa?"
"mulai detik ini aku Pratama Adnan mentalak kamu Amalia Larasati, dan mulai hari ini kamu bukan istriku lagi"
__ADS_1
Jedaaarrrrrr...............