
"sudah?" tanya jemi saat jingga masuk ke dalam mobilnya
tanpa menjawab sepatah katapun jingga langsung berhambur ke dalam pelukan jemi dengan tangisan yang semakin pecah, dari suara tangisan jingga, jemi bisa merasakan betapa hancurnya perasaan sang adik saat ini. tangan jemi mengepal kuat entah dia harus melampiaskan kemarahannya kepada siapa yang jelas saat ini jemi pun benar-benar kecewa kepada ayah salim dan tama jika saja jingga mengijinkan jemi ingin sekali saja menghajar wajah tama karena sudah berani menyakiti adik kesayangannya namun jemi tidak bisa bertindak lebih jauh jika tanpa seijin jingga, jemi tidak ingin ikut campur terlalu dalam dengan permasalahan rumah tangga jingga
"menangislah ji, jika itu membuat kamu lebih tenang tapi janji setelah ini jangan ada tangis kesedihan lagi di mata kamu,hati kakak sakit melihat kamu seperti ini jingga" lirih jemi mengusap-ngusap pundak jingga yang bergetar karena tangisannya
"sakit kak, benar-benar sakit rasanya. aku gak nyangka pernikahanku akan berakhir tragis seperti ini" ucap jingga yang masih saja menangisi nasib pernikahannya
"apa kamu menyesal dengan keputusan kamu? kamu mau menarik gugatan cerai kamu untuk tama?" tanya jemi lembut takut membuat hati jingga semakin rapuh
"tidak kak, aku sudah yakin ingin berpisah dengan tama tapi aku memang butuh waktu untuk menyesuaikan semuanya. kakak pasti mengerti tidak mudah melupakan semua kebersamaan kami selama tujuh tahun ini apalagi sabia, dia pasti sangat terluka karena keadaan ini" jawab jingga
"sudahlah masalah sabia jangan terlalu di pikirkan, nanti kakak akan bantu jelaskan.
sekarang kita pulang ya kamu butuh waktu untuk menenangkan diri"
seiring berjalannya mobil jemi, jingga menatap nanar rumah yang selama tujuh tahun ini menjadi saksi kebahagiaan keluarga kecilnya, dimana ada canda dan tawa disana, dimana dia menghabiskan waktunya bersama tama dan sabia. tidak akan lagi pelukan hangat tama yang akan dia rasakan setiap malam, tidak akan ada perhatian kecil yang selalu tama berikan kepadanya, tidak akan ada lagi tama yang merengek ketika meminta jatah untuk bercintaa semuanya sudah berakhir karena keegoisan tama sendiri.
dada jingga semakin terasa sesak jika mengingat semua kenangan manisnya bersama tama namun jingga harus bisa melupakan itu semua jika dirinya tidak ingin terlalu dalam hidup dalam kubangan luka
__ADS_1
malam ini jingga seakan menumpahkan semua airmatanya untuk rasa luka yang sudah di berikan oleh tama, jingga memang sudah mencintai tama apalagi sudah ada sabia di antara mereka bukan ingin egois dan mementingkan kebahagiaannya sendiri tapi hati jingga yang sudah terlanjur terluka sungguh sangat sulit untuk menerima tama kembali, bayang-bayang tama sedang bercintaa dengan wanita lain terus saja melintas dalam pikiran jingga, tidak mungkin tama tidak mencintai wanita itu terlebih tama akan memiliki dua anak dari wanita itu. membayangkan semua itu membuat hati jingga semakin teriris, jingga tidak mau seumur hidupnya terus di bayang-bayangi wanita yang sudah menjadi madunya itu seandainya jingga masih mempertahankan rumah tangganya dengan tama, jingga memilih mundur karena tidak membuat hidupnya penuh dengan tekanan batin.
jingga hanya berharap semoga sabia bisa menerima semua keputusannya dan tidak akan membenci jingga karena berpisah dengan tama
"mami kenapa pulangnya malam sekali?" tanya sabia yang baru saja melihat jingga pulang jemi
"maafkan mami sayang, barusan mami ada urusan dulu dengan uncle jem.
bia gak marah kan sama mami?" jingga menatap nanar putri cantiknya yang semakin pintar dan menggemaskan
"tidak, tapi mami jangan sering pergi ninggalin bia ya, bia gak mau sendiri bia kesepian" sabia berhamburan masuk ke dalam pelukan jingga
"mulai malam ini bia tidak akan kesepian lagi, bia mau kan kalau kita tinggal disini sama rayn dan raisa?"
"kalau seandainya papi pergi dan tidak tinggal lagi bersama mami dan bia... bia marah gak sama mami?" tanya jingga selembut mungkin
"memangnya papi mau kemana? kenapa kita tidak ikut saja sama papi"
jingga sungguh kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan sabia yang memang sulit untuk menemukan jawaban yang membuat sabia mengerti. beruntung maya datang tepat waktu dan mengajak sabia untuk segera tidur bersama raisa.
__ADS_1
karena memang sudah larut malam dan sabia juga sudah mengantuk akhirnya sabia ikut dengan maya dan ikut tidur bersama raisa.
jingga bisa bernafas lega setidaknya untuk malam ini jingga tidak akan kebingungan untuk menjawab pertanyaan sabia
berbeda dengan tama yang saat ini duduk termenung dengan wajah muram, rambut kusut serta pakaian yang berantakan.
tama benar-benar hancur karena jingga meninggalkannnya, surat gugatan cerai yang di berikan jingga sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka kini sudah hancur menjadi beberapa bagian karena sengaja do robek oleh tama, sampai mati pun tama tidak akan pernah menandatangani surat gugatan cerai yang di berikan oleh jingga. tama tidak akan menyerah begitu saja, tama akan berbuat apapun asalkan jingga kembali lagi kepadanya
"maafkan mas jingga, tolong kembalilah. hidup mas hampa tanpa kamu dan sabia, mas sangat mencintai kamu lebih dari apapun. kembalilah sayang" ucap tama menatap foto keluarga kecilnya dengan deraian airmata
tama mengambil ponselnya dan ingin menelfon jingga, setidaknya hanya dengan mendengar suara jingga, tama bisa merasa bahagia.
tama sadar saat ini jingga pasti masih sangat membencinya namun tama tidak ingin menyerah begitu saja , tama akan terus berjuang sesulit apapun itu jalannya asalkan jingga kembali lagi ke dalam pelukannya
berulang kali tama berusaha menghubungi jingga namun sialnya nomor jimgga sama sekali tidak bisa di hubungi
"aarrgghhh JINGGA..... mas cinta sama kamu kembalilah sayang mas mohon" teriak tama seperti seseorang yang sudah kehilangan akal sehatnya
tama membanting barang apa saja yang ada di dekatnya, sampai kamarnya sudah seperti kapal pecah saat ini. tama terus saja menyesali semua yang sudah terjadi tanpa menyadari bahwa semua yang kejadian yang menimpa dirinya saat ini adalah hasil dari keegoisannya sendiri, seharusnya dulu tama bisa lebih tegas untuk memilih melanjutkan hubungannya dengan laras atau menerima perjodohannya dengan jingga namun karena keserakahan tama yang ingin memiliki keduanya membuat tama terjebak dalam sebuah penyesalan yang begitu dalam sampai akhirnya jingga pun pergi meninggalkannya menyisakan patah hati yang begitu dalam bagi tama
__ADS_1
"seandainya waktu bisa di ulang pasti mas akan lebih memilih kamu ji, daripada harus memilih untuk menikahi laras lebih dulu"
kata seandainya kini sudah tidak ada artinya lagi karena mau bagaimanapun keadaannya sekarang tama sudah tidak bisa mengubah apapun. jingga tetap saja terluka dan memilih untuk berpisah dengan tama