JINGGA (The Second Wife)

JINGGA (The Second Wife)
setelah tujuh tahun


__ADS_3

"apanya yang harus di perbaiki? pernikahan kita sudah hancur sebelum kamu mengucap ijab kabul di hari pernikahan kita tujuh tahun lalu.


kenapa kamu lakuin ini semua sama aku mas? apa selama ini kamu menganggap aku sebuah boneka yang bisa kamu permainkan seenaknya? apa kamu pikir aku sebuah robot yang tidak mempunyai hati dan perasaan?" tanya jingga menatap tama yang sejak tadi menunduk dan masih berlutut di kaki jingga


"dulu kamu dan ayah seolah memaksa aku untuk menerima pernikahan kita meskipun tanpa adanya cinta di antara kita, mati-matian aku membunuh perasaan aku untuk kekasihku yang sangat aku cintai saat itu hanya agar ayah tidak kecewa dan menganggap aku anak durhaka, dan setelah aku berhasil melupakannya dan sudah mencintai kamu sepenuh hati, menerima sepenuhnya pernikahan kita dengan hadirnya sabia di antara kita tapi sekarang apa yang aku dapat mas? APA?" nada suara jingga mulai meninggi dengan nafas yang tersengal-tersengal karena tangisannya yang tidak mau berhenti


"pengorbananku selama tujuh tahun ini sia-sia mas, kehadiranku selama ini seolah hanya sebatas bayangan untuk kamu... sakit mas, hati aku benar-benar sakit. kamu jahat" lirih jingga sambil memukul dadanya berharap rasa sakit di hatinya akan sedikit berkurang


*tes


tes


tes*


airmata tama menetes melihat jingga sampai sehancur itu, tama kecewa dengan dirinya sendiri, tama menyesali perbuatannya mengapa harus terjebak dengan posisi rumit dan menjadikan jingga sebagai orang yang paling tersakiti disini. Apalagi ketika mengingat wajah polos sabia membuat dada tama semakin merasa sesak karena sudah menyakiti dua wanita sekaligus, wanita yang paling berharga di hidup tama

__ADS_1


"mas sadar kesalahan mas sangat fatal, waktu itu mas terpaksa menikahi laras karena dia sudah hamil lebih dulu, mas menikahinya semata-mata karena ingin bertanggung kepada bayi yang sedang dia kandung waktu itu. tolong ji pikirkan sekali lagi, beri mas satu kali kesempatan saja untuk memperbaiki semuanya mas janji secepatnya akan menceraikan laras demi kamu" tama terus memohon sambil menggenggam erat tangan jingga


"hanya sebatas tanggung jawab kamu bilang? tapi kenapa sampai wanita itu hamil lagi sekarang? bahkan tiga hari yang lalu pun kamu masih bisa bercintaa dengannya dan dengan sengaja meninggalkan jejak percintaan kalian, kamu pikir hati aku terbuat dari apa mas? faktanya memang kamu tidak pernah puas dengan satu wanita saja PRATAMA dan kamu tahu betul sejak awal aku benci dengan sebuah pengkhiantan" jingga tersenyum miris mendengar pengakuan tama yang membuat dirinya semakin muak


"hukum mas dengan cara apapun asalkan jangan pernah tinggalkan mas, kamu tega memisahkan sabia dengan mas? sabia akan sangat terluka jika seandainya kita benar- benar berpisah, tolong pikirkan sekali lagi. mas minta maaf tolomg beri mas kesempatan"


"kesempatan buat apa? kesempatan untuk terus menyakiti aku dan sabia dengan semua kebohongan kamu? sudah cukup mas semakin lama aku bertahan maka semakin dalam rasa sakit yang aku dapatkan dan itu malah akan berdampak buruk kepada sabia.


kamu jangan khawatir tentang sabia mungkin sekarang bia akan terluka dan kecewa dengan keputusanku tapi lambat laun bia pasti akan mengerti, bia pasti tidak akan mau melihat mami nya terus menangis setiap malam jika terus bertahan dengan pernikahan yang sudah tidak baik-baik saja"


"ji apa tidak ada sedikit saja rasa kasihan kamu untuk mas? apa rasa cinta kamu buat mas sudah hilang begitu saja? mas mohon dengan sangat jingga cabut kembali gugatan cerai kamu, mas tidak bisa hidup tanpa kamu dan sabia, maafkan mas ji maaf" tama menangis terus memohon agar jingga memaafkannya


"aku mungkin bisa memaafkan kamu mas tapi maaf untuk melanjutkan pernikahan kita aku tidak bisa, hati aku terlanjur sakit tidak mudah untuk menerima semuanya kembali seperti dulu" ucap jingga sambil menatap wajah tama yang sudah sembab tanpa segan tama langsung membawa jingga ke dalam pelukannya


"maaf mas pernikahan kita harus berakhir sampai disini, terima kasih untuk tujuh tahun kebersamaan kita. Jujur aku sangat bahagia bisa menikah dengan kamu meskipun banyak sekali kebohongan di dalamnya, terima kasih sudah menjadi papi terbaik untuk sabia.

__ADS_1


bohong kalau aku ngomong sudah gak cinta lagi sama kamu mas tapi luka yang kamu berikan begitu dalam... maaf untuk saat ini aku lebih memilih egois dan lebih menyayangi diriku sendiri" ucap jingga sambil terus menekan rasa sesak di dalam dadanya tidak menyangka pernikahanmya akan berakhir dengan cara seperti ini


"ji mas mohon jangan tinggalkan mas, apa kamu tidak bisa merasakan betapa dalamnya rasa cinta yang mas punya untuk kamu. jangan tinggalkan mas jingga, mas mohon" lagi-lagi tama memohon berharap jingga akan luluh


"sekali lagi aku minta maaf aku gak bisa mas, berbahagialah dengan wanita pilihan kamu itu. aku ingin kita berpisah secara baik-baik, aku berharap kita masih bisa memberikan kasih sayang kepada sabia meskipun kita sudah tidak lagi bersama. maaf jika selama ini aku belum bisa menjadi istri yang baik dan jauh dari kata sempurna" jingga melepaskan pelukan tama dan mengecup kening sampai kedua pipi tama dan berakhir mengecup bibir tama


"aku pergi mas, jaga diri kamu baik-baik"


jingga pergi meninggalkan tama yang semakin menangis meraung-raung meratapi nasib pernikahannya yang kandas setelah tujuh tahun dia pertahankan dengan susah payah.


tama tidak pernah merasakan rasa sakit sampai sedalam ini, dadanya terasa begitu sesak seperti di hantam bongkahan batu yang begitu besar. tama tidak bisa menerima perpisahannya dengan jingga begitu saja.


malam yang tama pikir akan menjadi malam terindah dan paling romantis sepanjang pernikahan mereka tapi ternyata malah menjadi petaka bagi dirinya.


terlintas semua kebersamaan dirinya dengan jingga dan sabia selama pernikahan mereka yang penuh kebahagiaan, canda tawa sabia yang selalu menjadi penyemangat tama kini sudah tidak akan tama dapatkan lagi, pelukan hangat yang jingga berikan setiap malam sudah tidak akan tama rasakan lagi, semua perhatian, rengekan manja serta semua kebiasaan jingga kepada tama kini telah hilang berganti dengan rasa sepi yang akan menemani hari-hari tama mulai saat ini

__ADS_1


"JINGGA..... jangan tinggalkan mas"


teriak tama dengan tangisan yang sudah tidak dapat dia tahan lagi berharap jingga akan kembali, memeluknya dan mengurungkan niatnya untuk berpisah dengan tama


__ADS_2