
waktu sudah menunjukan pukul delapan malam, jingga dan sabia pamit terlebih dahulu karena jarak dari rumah hana ke rumah jemi lumayan jauh jingga takut sampai rumah terlalu malam karena jingga membawa sabia berbeda cerita jika dirinya hanya pergi sendiri
namun saat jingga akan masuk ke dalam mobilnya, jingga melihat ban mobilnya kempes bukan hanya satu tapi keempat ban mobil jingga kempes semuanya
"kok bisa sih padahal tadi siang baik-baik aja" gumam jingga bingung karena melihat sabia yang sudah mengantuk
jingga mencoba menghubungi jemi untuk menjemputnya dan sabia namun sayang berulang kali jingga menelfon jemi tidak ada jawaban sama sekali dari jemi bahkan ketika menelfon maya pun sama malah nomor ponselnya sedang tidak bisa di hubungi
"pada kemana sih mereka" kesal jingga karena jemi dan maya sama sekali tidak bisa di hubungi
"lho ji masih disini kirain udah jalan" seru dimas yang baru keluar dari rumah hana
"ban mobilku kempes dim" tunjuk jingga pada keempat ban mobilnya
"ya Tuhan kok bisa?" tanya dimas dan jingga hanya mengedikan bahunya saja tanda tidak tahu
"maaf ya ji aku gak bisa nganter soalnya barusan istriku nelfon minta di jemput gak jadi nginep dia" ucap dimas merasa tidak enak hati
"it's oke dim, aku bisa pulang naik taksi" sahut jingga sambil menggendong sabia yang mulai memejamkan matanya
"jangan ji, ini udah malem mendingan kamu di antar arthur aja ya... bahaya lho pulang malem-malem apalagi bawa anak" usul dimas membuat jingga ragu
"iya ji aku antar aja lagipula di daerah sini susah dapet taksi" sahut arthur yang dari tadi hanya diam saja
"memangnya gak apa-apa ya? tapi gak usah deh aku minta tolong sama hana aja buat anterin"
tepat saat jingga akan kembali masuk ke dalam rumah hana, lampu rumah hana sudah di matikan pertanda sang pemilik rumah akan segera istirahat
"tuh kamu lihat sendiri kan lampu rumahnya udah di matiin ayok aku antar aja, kamu gak mau ganggu hana dan suaminya yang mau istirahat kan?" tanya arthur sudah tidak sabar ingin mengantar jingga pulang
"ya sudah, kasian bia udah tidur gini gak mungkin juga aku nunggu taksi yang datangnya gak tahu kapan" jawab jingga terpaksa
"ya sudah kalau begitu aku jalan duluan ya, kalian hati-hati" pamit dimas dengan menyunggingkan senyumannya
__ADS_1
arthur membukakan pintu mobilnya untuk jingga karena jingga sedang menggendong sabia yang sudah tertidur
degup jantung jingga berpacu lebih cepat ketika berhadapan dengan wajah arthur sampai sedekat itu sampai membuat wajah jingga merona, begitupun dengan arthur yang semakin tidak bisa mengendalikan perasaannya ketika berdekatan dengan jingga seperti ini, rasanya ingin sekali arthur berteriak memberitahukan pada seluruh dunia bahwa dia sangat mencintai jingga dan tidak ingin kehilangan jingga untuk yang kedua kalinya
"ehemm" arthur sengaja berdehem untuk menormalkan perasaannya
"kita jalan sekarang ya" ucap arthur
"iya" jawab jingga
entah mengapa timbul rasa canggung di antara jingga dan arthur saat ini seperti sepasang ABG yang baru saja akan berkencan, bukan jingga tidak nyaman berada di dekat arthur namun jingga hanya takut jika ada seseorang yang mengenalinya dan menimbulkan salah paham karena jingga di antar oleh pria lain di saat dirinya masih dalam proses perceraian. jingga tidak ingin menyeret arthur ke dalam masalah rumah tangganya namun apa boleh buat jingga terpaksa menerima tawaran arthur karena hati sudah semakin malam dan tidak mungkin membiarkan sabia tidur di pangkuannya terlalu lama
"ar apa kamu masih membenciku?" tanya jingga memberanikan diri
"memangnya siapa yang membencimu?" bukannya menjawab arthur malah bertanya balik kepada jingga
"dari sikapmu sangat terlihat kalau kamu benci sama aku" jawab jingga
"itu hanya perasaan kamu saja ji, aku berusaha untuk berdamai dengan kenyataan meskipun awalnya sulit tapi...." arthur menjeda ucapannya
"aku memang marah waktu itu tapi kalau harus membenci kamu aku tidak bisa, rasa cinta yang aku punya buat kamu terlalu besar"
"maksudnya?"
"sampai sekarang rasa cinta itu masih tetap ada bahkan masih sebesar dulu ji, sulit bagiku untuk melupakan semua kenangan tentang kita meskipun kita berpisah sudah cukup lama dan dengan jarak yang cukup jauh tapi tetap saja, hatiku hanya milikmu"
"ar kamu..."
"jangan terlalu di pikirkan aku tidak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin kamu tahu bahwa dugaanmu yang mengira aku membencimu itu salah. aku cukup tahu diri dengan posisiku dan kamu yang saat ini masih berstatus sebagai istri orang, melihat kamu bahagia itu sudah cukup bagiku ji" ucap arthur
"tapi aku tidak sebahagia yang kamu kira arthur" batin jingga menatap arthur
"jangan menatapku seperti itu, nanti kamu jatuh cinta lagi sama aku ji" celetuk arthur membuat jingga tanpa sadar menitikan airmatanya
__ADS_1
"ini jalannya udah bener kan? gak lucu kan kalau kita nyasar malam-malam begini" tanya arthur mencoba mengalihkan pembicaraan
"iya jalannya sudah benar" sahut jingga menghapus airmata di sudut matanya
arthur bukan tidak mengetahui jika jingga menangis namun arthur mencoba untuk menahan diri agar tidak betindak lebih jauh, sebelum jingga benar-benar berpisah dengan suaminya arthur tidak akan bertindak melebihi batas kepada jingga, arthur tidak mau membuat jingga mendapatkan masalah baru kalau arthur bertindak sesuka hatinya
"rumahnya yang mana ji?" tanya arthur
"yang pagar putih itu" tunjuk jingga kepada pagar berwarna putih yang menjulang tinggi
"mau turun disini apa di antar sampai dalam?" tawar arthur
"disini saja, makasih ya aku sudah merepotkan kamu" ucap jingga sebelum turun dari mobil arthur
"tidak masalah, tunggu dulu jangan dulu turun" cegah arthur membuat jingga mengernyitkan keningnya heran
arthur turun dan mengitari mobilnya membukakan kembali pintu untuk jingga
"sini sabia biar aku gendong, pasti berat kan" tawar arthur mengulurkan tangannya untuk mengambil alih sabia dari pangkuan jingga
bugh...
belum sempat arthur mengambil sabia dari gendongan jingga tiba-tiba sebuah tinjuan melayang ke wajahnya sampai arthur tersungkur
"apa-apaan ini, kenapa kamu tiba-tiba memukul saya?" teriak arthur tidak terima karena tiba-tiba di serang oleh orang tak di kenal
"kamu yang apa-apaan? kenapa kamu mengajak istri dan anak sayang pergi malam-malam begini hah?" sentak tama tak terima ada pria lain yang mengantar jingga dan sabia pulang
"oh jadi ini suaminya jingga lebih tepatnya calon mantan suami" batin arthur menatap tak suka ke arah tama
"kenapa diam saja jelaskan" teriak tama yang sudah tersulut emosi
"oh jadi begini kelakuan kamu, kamu bersikeras ingin kita bercerai karena berselingkuh dengan pria brengsekk ini" tunjuk tama kepada arthur saat jingga keluar dari mobil sambil menggendong sabia
__ADS_1
"tidak usah berteriak aku tidak tuli" sahut jingga santai