JINGGA (The Second Wife)

JINGGA (The Second Wife)
Engga Mau


__ADS_3

"engga mau" ucap Arthur cepat


"jangan terlalu memaksakan kehendak ar, aku gak mau kecewa lagi. Aku harus melindungi hati aku biar gak sakit hati untuk yang kesekian kalinya" sahut Jingga sendu


"tapi aku gak mau kita pisah, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan kamu aja belum ketemu sama ayah bunda aku, kenapa bisa tiba-tiba ngomong kayak gitu" keukeuh Arthur


"tapi aku insecure sama status aku, kamu pasti bisa dapetin wanita yang lebih baik dari aku dan masih gadis pastinya" ucap Jingga tak percaya diri


"apasih ngomongnya jadi ngelantur kemana-mana, aku gak mau putus titik" gerutu Arthur


"jangan egois kita harus mikirin kedepannya akan seperti apa kalau maksain hubungan kita"


"aku gak peduli, cukup dengan kamu tetap di samping aku semuanya akan terasa lebih mudah. Aku mohon kita berjuang sama-sama ya, bantu aku untuk merubah sifat aku yang kurang peka, aku janji gak akan bikin kamu uring-uringan dan cemburu lagi"


"tapi.. Aarrgghh"


"jangan banyak tapi-tapi cukup bilang iya sayang" ucap Arthur sambil menggendong tubuh Jingga seperti karung beras


Arthur memasukan Jingga ke dalam mobilnya, Arthur langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh tanpa mendengarkan omelan Jingga yang duduk di samping kemudi


"kita mau kemana?" tanya Jingga sedikit berteriak


"KUA" jawab Arthur cuek


"what??? Jangan gila kamu ar" pekik Jingga tak percaya dengan ucapan Arthur


"kamu yang udah buat aku gila" sahut Arthur cuek


Sepanjang perjalanan Jingga terus menggerutu bagaimana tidak saat ini Jingga hanya memakai baju rumahan yang sangat tidak cocok di pakai pergi ke luar sedangkan Jingga tidak tahu Arthur akan membawanya kemana.


tiga puluh menit berlalu mobil Arthur memasuki sebuah rumah mewah dengan pagar yang menjulang tinggi tak beda jauh dengan rumah milik ayah Salim, Jingga masih diam tak bertanya apapun kepada Arthur karena masih kesal.


Arthur turun dari mobil dan kembali menggendong Jingga seperti karing beras membuat Jingga semakin bertambah kesal


"bunda, ayah... Calon menantu kalian datang" teriak Arthur yang baru saja masuk ke dalam rumah

__ADS_1


"asraga Arthur... Jangan membuatku malu" protes Jingga memukul kencang pundak Arthur


"aku cuman mau mengenalkan kamu sama ayah, bunda sayang bukan mau bikin kamu malu" sahut Arthur sengaja meremas bokoong Jingga gemasss


"tangannya bisa diem gak hah? Kepalaku pusing turunin aku cepet" rengek Jingga sambil terus memukuli pundak Arthur semakin kencang


"sayang sakit, KDRT nih"


"ada apa ini?" suara bariton ayah Damar membuat fokus Arthur teralihkan


"ayah" gumam Arthur menatap ayah Damar yang sedang berjalan semakin mendekat ke arahnya


"dia siapa? Kenapa kamu menggendongnya seperti itu, cepat turunkan" titah ayah Damar


Akhirnya Arthur menurunkan Jingga dari gendongannya, wajah Jingga terlihat memerah karena menahan rasa kesalnya kepada Arthur jika saja saat ini tidak ada ayah Damar mungkin Arthur sudah habis di cabik-cabik oleh Jingga.


Arthur sengaja menampilkam senyum tanpa dosanya ke arah Jingga membuat Jingga ingin meremas wajah Arthur yang sangat menyebalkan itu


"Ekhemmmm" ayah Damar sengaja berdehem dengan keras


"ayah kenalin ini Jingga, calon menantu ayah" akhirnya Arthur mengenalkan Jingga kepada ayah Damar


"saya ayahnya Arthur, ayok silahkan duduk nak Jingga biar saya panggilkan bundanya Arthur dulu"


"terima kasih om"r


Jingga menatap Arthur nyalang ketika ayah Damar sudah tidak ada disana, Arthur yang memang sangat menyebalkan malah sengaja mengecupp bibir Jingga yang sedang mengerucut, tentu saja apa yang di lakukan Arthur membuat Jingga semakin kesal sungguh jika bisa Jingga ingin menendang Arthur sampai ke pluto


"apa sih yang natap aku kayak gitu banget" ucap Arthur nyeleneh


"sifay menyebalkan kamu itu bisa di ilangin gak sih? Sehari aja jangan bikin aku kesel" sahut Jingga sedikit berbisik karena takut tiba-tiba ayah Damar datang


"nyebelin gimana sih orang aku menggemaskan gini, kamu aja nyampe gak bisa jauh dari aku kan?" lagi-lagi ucapan Arthur membuat Jingga kesal


"bisa kan bilang yang bener kalau mau ngajak aku kesini? Bukannya di angkut kayak karung beras, bikin malu tahu gak" ucap Jingga

__ADS_1


"kalau aku bilang dulu pasti kamu bakalan nolak lagian kenapa harus malu sih orang mau ketemu calon mertua juga"


di sela perdebatan Arthur dan Jingga, ayah Damar datang beserta bunda Nilam


"wah ada tamu istimewa rupanya" seru bunda Nilam sambil melihat ke arah Jingga dengan sumringah


"hallo tante" sapa Jingga mencium punggung tangan bunda Nilam


"nak Jingga apa kabar? Arthur sudah banyak cerita tentang kamu lho sama bunda" ucap bunda Nilam


"alhmdulilah baik tante, wah cerita apa tante?" tanya Jingga kikuk


"katanya kamu sangat cantik dan baik hati, ternyata memang benar kamu sangat cantik Jingga, Arthur juga sudah kebelet ingin nikahin kamu secepatnya"


Jingga yang bingung harus berbicara apa hanya tersenyum menanggapi ucapan bunda Nilam, Jingga merasa senang karena respon kedua orang tua Arthur tidak seburuk yang dia bayangkan dan jika di lihat ekpresi bunda Nilam juga begitu bahagia ketika bertemu dengan Jingga namun Jingga tak ingin berbesar hati terlebih dahulu, karena ini baru awal pertemuan mereka Jingga tidak tahu sikap mereka apakah masih akan seramah ini seterusnya apalagi jika mereka mengetahui status Jingga


"Jingga jangan dulu pulang ya nak, makan siang disini dulu" ucap bunda Nilam


"apa tidak merepotkan tante?" tanya Jingga masih merasa canggung


"sama sekali tidak repot, malah bunda senang Arthur ajak kamu kesini sudah lama lho ayah dan bunda nyuruh Arthur ajak kamu kesini"


"ini juga aku culik bun kalau ngomong dulu pasti gak akan mau"


"engga tante Arthur bohong" sela Jingga sambil melotot ke arah Arthur


"oh iya bun Jingga jago masak lho, gimana kalau bunda ajak Jingga masak sekalian" celetuk Arthur membuat Jingga semakin melotot ke arahnya


"wah paket komplit dong, udah cantik, mandiri, pinter masak lagi. Bunda beruntung lho punya calon menantu seperti kamu" bunda Nilam mengelus pundak Jingga Nilam


"tante bisa aja" sahut Jingga tersenyum malu


Meskipun masih merasa canggung dengan bunda Nilam, Jingga terpaksa ikut memasak bersama calon ibu mertuanya itu. Bukan tidak mau dekat dengan bunda Nilam namun Jingga merasa perkenalan mereka terlalu mendadak membuat Jingga bingung harus bersikap seperti apa namun yang jelas Jingga bisa merasakan jika bunda Nilam mang tulus menerima dirinya dengan tangan terbuka bukan hanya berpura-pura


"Nilam siapa wanita itu?" tanya oma Atika yang tiba-tiba muncul

__ADS_1


"ini Jingga bu, calon istri Arthur" bunda Nilam memperkenalkan Jingga dengan bangga


"atas ijin dari siapa kamu mengklaim jika wanita itu calon istri Arthur?"


__ADS_2