JINGGA (The Second Wife)

JINGGA (The Second Wife)
memberi kesempatan


__ADS_3

Jingga memanggil Jemi yang sedang asyik menonton tv bersama Maya, Rayn, Raisa dan Sabia, karena paksaan Arthur terpaksa Jemi mengikuti keinginan Jingga.


sesampainya di ruang tamu Jemi di sambut dengan senyuman hangat oleh Arthur, entah apa maksud dari senyuman itu.


Jemi segera duduk di hadapan Arthur dengan memasang wajah datarnya


"kenapa Ar? ada sesuatu yang penting kah?" tanya Jemi to the point


"begini kak, selain kedatangan aku kesini mau bertemu dengan Jingga aku juga mau meminta restu sama kak Jemi" jawab Arthur begitu meyakinkan


"restu?" ulang Jemi


"ya, aku ingin melamar Jingga kak. aku sadar mungkin ini terlalu cepat tapi aku sudah tidak bisa lagi menahan semuanya kak, selama ini aku sudah berusaha menghilangkan perasaan ku buat Jingga tapi hasilnya nihil, aku masih sangat mencintai Jingga sampai detik ini" ucap Arthur membuat Jemi sedikit kaget


"kamu yakin dengan ucapan kamu ini? kamu tahu sendiri kan Jingga baru saja bercerai dengan Tama bahkan masa idah nya pun belum selesai" tanya Jemi


"aku sangat yakin kak, dan aku tidak berharap untuk menikah dengan Jingga dalam waktu dekat ini tapi setidaknya kalau aku sudah mendapatkan restu dari kak Jemi aku lega dan gak akan ada pria lain yang akan mendekati Jingga setelah ini. aku bisa menjaga batasanku sebelum Jingga menyelesaikan masa idahnya dengan Tama" jawab Arthur


Jingga benar-benar speechless dengan semua ucapan Arthur, Jingga kira Arthur hanya bercanda tapi ternyata Arthur benar-benar merealisasikan niatnya untuj melamar Jingga kepada Jemi padahal di antara dirinya dan Arthur belum sempat membicarakan hal yang menjurus kepada hubungan mereka terlebih masa idah Jingga belum selesai, tidak pernah terpikirkan dalam benak Jingga untuk kembali menjalin hubungan dengan pria lain secepat ini meskipun itu dengan Arthur yang notabenenya adalah mantan pacarnya sendiri.


"kakak menyerahkan semuanya kepada Jingga ar tapi saran kakak sebaiknya kamu bersabarlah dulu minimal sampai masa idah Jingga selesai, karena kakak tidak ingin sampai orang-orang membicarakan hal yang tidak baik terhadap Jingga, kakak yakin kalau kalian memang berjodoh tidak akan kemana" ucap Jemi bijak


"tapi aku takut Jingga akan di dekati sama pria lain lagi kak, aku akan benar-benar bila kalau sampai hal itu terjadi" sahut Arthur lemas


"secinta itu kami sama adik saya?" tanya Jemi memicingkan matanya


"bahkan lebih dari yang kakak tahu" jawab Arthur


"sebaiknya kamu bicarakan dulu masalah ini berdua dengan Jingga, sepertinya Jingga juga terlihat kaget dengan lamaran dadakan kamu ini" ucap Jemi terkekeh


"baiklah, tapi kakak pasti merestui hubungan kami kan?" tanya Arthur memastikan


"pastikan dulu Jingga masih mau sama kamu atau tidak, jangan-jangan Jingga sudah punya calon lain" jawab Jemi membuat Arthur patah semangat

__ADS_1


Arthur memicingkan matanya ke arah Jingga setelah Jemi pergi meninggalkan ruang tamu, Jingga sedikit menciut melihat tatapan Arthur yang seolah ingin mengintrogasi dirinya.


Jingga berusaha bersikap santai agar tidak tidak terlihat grogi di hadapan Arthur namun nyatanya jantungnya kini berdebar sangat kencang seperti ketahuan selingkuh oleh Arthur, padahal sudah jelas jika di antara keduanya belum menjalin hubungan spesial apapun


"Kenapa ngeliatnya gitu banget sih?" Protes Jingga


"Apa benar sudah ada pria lain yang mendekati kamu ji?" Tanya Arthur dengan tatapan elangnya membuat Jingga semakin menciut


"Kalau iya memangnya kenapa?" Tantang Jingga membuat Arthur semakin mendekat ke arahnya


"Jangam bohong" tekan Arthur


"Iya, iya aku bercanda Ar... Jangan gini dong aku takut" Jingga menyerah karena sudah tidak sanggup menatap wajah Arthur yang seakan ingin menelannya hidup-hidup


"Serius ji, kalau ada pria yang nekad deketin kamu aku gak segan buat habisin dia" ancam Arthur membuat Jingga bergidik ngeri


"Iya aku serius, bahkan aku tidak kepikiran untuk berhubungan lagi dengan pria manapun setelah perceraianku dengan mas Tama"


"Tergantung"


"Tergantung apa?"


"Kamu bisa gak jadi suami sekaligus ayah yang baik buat Sabia" celetuk Jingga membuat Arthur menyunggingkan senyumnya


"Jadi kamu ngasih aku kesempatan buat memperjuangkan hubungan kita kembali?" Tanya Arthur


"Tapi tidak sekarang, untuk saat ini hubungan kita cukup sebatas bos dan sekretaris aja tunggu beberapa bulan ke depan supaya gak timbul masalah dan membuat hubungan kita tambah rumit" jawab Jingga


"Tapi kamu harus janji jangan menghindar dari aku, jangan jaga jarak, jangan dekat dengan pria lain selain aku dan harus cerita apapun sama aku... Ngerti kan?" Ucap Arthur banyak maunya


"Kok gitu? Enak di kamu gak enak di aku dong" protes Jingga


"Katanya mau ngasih kesempatan"

__ADS_1


"Ya itu sama aja kita kayak pacaran dong"


"Ya anggap aja pemanasan"


"Olahraga kali ah pake pemanasan segala"


Arthur terkekeh mendengar gerutuan Jingga namun tak dapat di pungkiri Arthur merasa senang sekaligus lega karena Jingga memberikan kesempatan untuk memperjuangkan hubungan mereka seperti dulu meskipun harus menunggu sampai berbulan-bulan bahkan jika Jingga minta lebih dari itu Arthur akan menyanggupinya, Arthur benar-benar tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah Jingga berikan padanya.


Setelah selesai berbicara cukup serius, Maya meminta Arthur agar makan malam bersama terlebih dahulu sebelum pulang, dengan semang hati Arthur menerima ajakan itu selain ingin berlama-lama dekat dengan Jingga Arthur juga ingin lebih dekat dengan seluruh keluarga Jingga terutama Sabia yang akan menjadi anaknya juga.


Berbeda dengan Arthur yang sedang merasa berbahagia, malam ini Tama malah mendapatkan kabar buruk karena daren di larikan ke rumah sakit.


Tanpa memikirkan apapun Tama langsung menyusul Laras yang sudah lebih dulu tiba di rumah sakit dan saat ini Daren sedang berada UGD


"Apa yang terjadi?" Tanya Tama ketika sampai di rumah sakit


"Aku gak tahu mas, tiba-tiba badan daren menggigil badannya panas banget, mukanya juga pucat" jawab Laras apa adanya


"Sejak kapan?" Tanya Tama lagi


"Tadi pagi mas" jawab Laras


"Kenapa baru bilang sekarang hah? Kamu itu ibu macam apa sih Laras, anak sakit malah di biarin sekarat" bentak Tama membuat Laras takut


"Maaf mas tadi aku sedikit keperluan" ucap Laras menundukan kepalanya


"Anak sakit masih sempet-sempetnya kamu keluyuran? Keterlaluan kamu Laras" lagi-lagi Tama membentak Laras


"maaf mas, aku kira keadaan daren gak separah ini" Laras berusaha membela dirinya


"kalau kamu memang tidak sanggup mengurus daren, biar daren tinggal bersamaku saja" gertak Tama


"kita kan bisa mengurus daren sama-sama mas, kamu dan Jingga sudah resmi bercerai tidak ada salahnya kan kalau aku tinggal di rumah kamu sam daren" usul Laras namun membuat Tama semakin tersulut emosi

__ADS_1


__ADS_2