
"jangan nangis sayang, mami disini" bisik Jingga sambil terus menciumi pucuk kepala Sabia
"mi... mami gak akan ninggalin bia kan?" tanya Sabia sambil terisak
"tidak akan pernah sayang, kita akan terus sama-sama selamanya" jawab Jingga memeluk Sabia begitu erat
"tapi teman-teman bia bilang mami mau ninggalin bia dan sudah tidak sayang sama bia lagi makanya tidak pernah antar bia ke sekolah lagi" ucap Sabia menatap Jingga dengan deraian air mata membuat Jingga terenyuh
"jadi karena itu bia nangis dan ngamuk sama semua orang yang di rumah ini?" tanya Jingga lembut dan Sabia pun menganggukan kepalanya sebagai jawaban
"sayang dengerin mami ya nak, bia kan tahu mami gak pernah antar Sabia sekolah karena mami kerja, cari uang yang banyak buat bia. mami sayang sekali sama bia, tidak mungkin mami ninggalin bia putri kesayangan mami" ucap Jingga
"kan papi sudah kerja mi, kenapa mami juga harus ikut kerja? biar papi aja yang cari uang buat kita, mami diam saja di rumah ya" pinta sabia
Jingga menghela nafas berat bagaimana cara menjelaskan kepada Sabia jika dirinya dan Tama tidak lama lagi akan segera berpisah, Jingga takut Sabia akan kembali mengamuk namun jika tidak di beri pengertian Sabia pasti akan selalu menanyakan keberadaan Tama jika tidak ada bersama mereka.
Jingga memutar otaknya jawaban apa yang harus dia ucapkan kepada Sabia agar putri semata wayangnya itu mengerti bahwa Jingga dan Tama sudah tidak bisa bersama-sama lagi dalam ikatan pernikahan
"bia sayang dengerin mami ya nak" Jingga menatap Sabia dengan penuh kelembutan
"mami sama papi sudah tidak akan tinggal satu rumah lagi, mami sama papi juga tidak akan terus sama-sama tapi bia jangan khawatir mami sama papi akan tetap sayang sama bia, tidak akan meninggalkan bia, bia mengerti kan maksud mami?" tanya Jingga
"memangnya papi mau kemana? kenapa mami sama papi gak akan tinggal satu rumah lagi? mami marahan lagi sama papi ya?" ucapan polos Sabia benar-benar membuat Jingga kebingungan
__ADS_1
"papi tidak akan kemana-mana sayang tapi mami sama papi sudah gak bisa tinggal sama-sama lagi, bia gak apa-apa kan kalau hanya tinggal sama mami?" tanya Jingga lagi
"pasti papi jahat lagi sama mami, papi buat mami nangis lagi kan? makanya mami gak mau tinggal lagi sama papi. kalau begitu bia mau punya papi baru saja seperti yang di bilang uncle Dimas kemarin" celetuk Sabia membuat Jingga mengerutkan keningnya
"maksud bia cari papi baru gimana sayang?"
"uncle Arthur yang ganteng itu mi, bia mau dia yang jadi papi baru buat bia"
"ya Tuhan Dimas kenapa ngajarin Sabia yang tidak-tidak sih" gerutu Jingga di dalam hatinya
"ya sudah sekarang bia jangan nangis lagi, bia jangan marah-marah lagi ya kasihan aunty Maya, Raisa dan rayn nanti mereka ketakutan kalau lihat bia marah-marah, sekarang bia minta maaf sama aunty ya, sama Raisa dan rayn juga" bujuk Jingga menggendong tubuh Sabia menghampiri Maya yang berada di dalam kamar
"iya mi" sahut Sabia mengalungkan kedua tangannya di leher Jingga
Setelah mengantarkan Sabia ke kamar Rayn dan Raisa serta berbincang sejenak dengan mbak Maya, Jingga pamit sebentar untuk membersihkan tubuhnya yang masih terasa lengket karena sehabis pulang bekerja. Saat sedang mengguyur badannya d bawah shower Jingga teringat kembali dengan ucapan Dimas tentang Arthur, dulu saat Jingga dan Arthur berpacaran memang sangat terlihat jika Arthur sangat mencintai Jingga bahkan Arthur tidak segan-segan untuk menolak para wanita yang terang-terangan mendekatinya meskipun tahu jika Arthur sudah mempunyai kekasih namun saat itu Jingga tidak mempunyai pilihan lain sehingga terpaksa menerima perjodohan yang di inginkan oleh Ayah Salim dan harus rela melepaskan Arthur padahal saat itu Jingga masih sangat mencintai Arthur dan ternyata sampai saat ini pun getaran-getaran itu masih terasa jika Jingga bertemu dengan Arthur apalagi berinteraksi secara intens dengan Arthur
"seandainya waktu bisa diputar kembali Tuhan, mungkin aku tidak akan pernah meninggalkan Arthur hanya demi menikah dengan pria brengsekk seperti Tama" gumam Jingga sambil memejamkan matanya dan entah kenapa tiba-tiba bayangan Arthur lah yang melintas dalam pikirannya
"Astagfirullah...." ucap Jingga menggeleng-gelengkan kepalanya dan segera menyudahi acara mandinya
Jingga segera mengenakan pakaiannya dan keluar dari kamarnya untuk menyiapkan makan malam, semenjak tinggal di rumah Jemi memang Jingga yang selalu menyiapkan makan malam meskipun sudah asisten rumah tangga tetap saja Jingga ingin melakukannya karena memang sejak dulu Jingga sangat senang memasak
"kak kapan pulang?" tanya Jingga saat melihat Jemi sedang menonton TV bersama anak-anak
__ADS_1
"barusan Ji, kakak dengar tadi Sabia mengamuk. kenapa dia?" tanya balik Jemi
"biasalah ada yang ngebully Sabia di sekolah, tapi sudah aku kasih pengertian kok
"jangan di anggap sepele lho tindak pembullyan kayak begitu Ji, kamu harus bersikap tegas pada anak yang sudah berani membuly Sabia supaya gak terjadi hal kayak itu lagi" nasehat Jemi
"iya besok rencananya aku mau ke sekolah Sabia kak" sahut Jingga
"gimana proses perceraian kamu? masih mau di lanjutkan? tadi ayah sengaja menemui kakak di kantor, ayah tetap minta kakak buat bujuk kamu supaya kamu gak jadi bercerai dengan Tama" ucap Jemi membuat Jingga tak habis pikir dengan jalan pikiran ayahnya sendiri
"di lanjut lah kak orang berkasnya udah masuk ke pengadilan tinggal nunggu sidang, ayah itu sebenarnya kenapa sih, segitu sayangnya sama Tama sampai gak rela aku cerai sama dia" gerutu jingga sambil berjalan ke arah dapur
"ayah itu keras kepalanya sama kayak kamu Ji, makanya kamu sama Ayah kalau berdebat gak ada yang mau mengalah satu sama lain" ucap Jemi
"tapi kan ini masalahnya beda kak, udah jelas anaknya di poligami tetep aja maksa buat bertahan. sebenarnya aku beneran anak kandung ayah apa bukan sih kak?" celetuk Jingga membuat Jemi tertawa
"kamu itu kalau ngomong suka sembarangan, gak lihat wajah kamu sama wajah kakak mirip banget? cuman beda gender doang, kakak yakin kalau kakak juga perempuan pasti semua orang bakal ngira kita kembar Ji"
"tapi ayah kok kayak yang gak sayang sama aku kak"
"udah jangan di bahas terus nanti juga ayah capek sendiri, buruan masak kakak udah laper banget ini"
Jingga menghela nafas panjang, entah apa yang sudah Tama berikan kepada Ayah Salim sampai membuat Ayah Salim sampai sesayang itu kepada Tama, padahal sudah jelas sejak awal Tama bukan pria baik tapi Ayah Salim masih bersikukuh untuk menikahkan Jingga dengan Tama dan akhirnya kini Jingga dan Tama malah sedang dalam proses perceraian
__ADS_1