JINGGA (The Second Wife)

JINGGA (The Second Wife)
Arthur Cemburu


__ADS_3

enam bulan berlalu


hubungan Jingga dan Arthur semakin dekat bahkan setiap weekend Arthur selalu menyempatkan waktu untuk mengajak Sabia bermain, entah itu di rumah ataupun ke tempat hiburan anak-anak. Selama itu pula Tama tidak pernah muncul di hadapan Jingga hanya sesekali mengirim pesan itupun untuk menanyakan keadaan Sabia, namun nafkah dari Tama khusus untuk Sabia selalu Tama transfer ke rekening Jingga setiap bulan karena Tama tidak ingin di sebut sebagai ayah yang tidak bertanggung jawab


"mi, papi kok gak pernah kesini? udah gak sayang sama bia lagi ya?" tanya Sabia dengan wajah sendunya


"papi lagi ada kerjaan di luar kota sayang, nanti kalau papi sudah pulang pasti kesini" jawab Jingga bohong


"masa kerja nya lama banget, mami bohong ya sama bia?" todong Sabia membuat Jingga gelagapan


"engga sayang, mami gak bohong. gimana kalau mainnya sama uncle Arthur aja?" tawar Jingga


"tapi bia mau main make up sama boneka mami, pasti uncle Arthur gak mau" Sabia mencebikkan bibirnya


"kalau mau main make up sama boneka sama Raisa aja atau sama mami ya" bujuk Jingga


"gak mau, dulu papi pasti selalu nurutin kalau bia mau make up'in wajah papi, papi gak pernah protes malah papi bilang papi jadi cantik mirip kayak mami" sahut Sabia masih mengerucutkan bibirnya lucu


Jingga hanya bisa menghela nafas panjangnya, Jingga mengerti saat ini Sabia pasti sangat merindukan sang ayah bermain make up dan boneka hanya di jadikan alasan saja oleh Sabia, tidak ingin membuat Sabia merasakan sedih yang berkepanjangan, Jingga mencoba menghubungi Tama untuk menanyakan keberadaannya dan menyuruh Tama untuk datang menemui Sabia meskipun hanya sebentar namun sayang nomor ponsel Tama sedang tidak bisa di hubungi.


Jingga terus membujuk Sabia dengan mengajaknya membeli pizza sebanyak yang Sabia mau.


Jingga langsung pergi tanpa membawa ponselnya karena Jingga pikir hanya membeli pizza tidak akan begitu lama.


Baru saja mobil Jingga menghilang dari halaman rumah Jemi tak lama kemudian datanglah Arthur dengan membawa banyak makanan untuk Sabia


"lho Arthur" sapa Maya yang kebetulan sedang berada di teras rumah karena Rayn dan Raisa juga ikut bersama Jingga


"itu Jingga mau kemana mbak?" tanya Arthur melihat mobil Jingga ke luar


"Sabia lagi pengen makan pizza, Rayn sama Raisa juga ikut gak akan lama kok. ayok tunggu di dalam aja" ajak Maya


Arthur pun masuk dan menunggu Jingga di ruang keluarga sambil menonton acara tv biasanya jika ada Jemi pasti mereka selalu bermain catur tapi sekarang Jemi sedang ada tugas ke luar kota.


Arthur melihat ponsel Jingga yang terus berbunyi di atas nakas, penasaram Arthur langsung melihat siapa yang menelfon Jingga sampai beberapa kali.

__ADS_1


Wajah Arthur memberengut ketika melihat nama yang tertera di ponsel Jingga, apalagi ketika melihat ada pesan masuk di ponsel Jingga dari orang yang sama yaitu Tama


"ji maaf tadi ponsel mas mati, minggu depan mas usahakan pulang dan langsung kesana buat ketemu Sabia ya"


Begitulah isi pesan Tama kepada Jingga, Arthur berdecak kesal karena Jingga masih terlihat mesra dengan sang mantan suami. Arthur Cemburu sangat cemburu


"jadi mereka masih sering berkomunikasi, kalau untuk menanyakan Sabia kan bisa langsung telfon ke nomor Sabia langsung, hah menyebelkan" gerutu Arthur


terdengar suara deru mobil yang memasuki halaman rumah, Arthur buru-buru keluar rumah untuk memastikan siapa yang datang, Arthur takut jika Tama tiba-tiba datang dan mengganggu waktunya bersama Jingga namun ternyata yang datang adalah Jingga bersama anak-anak


"kamu disini Ar? dari kapan kok gak ngabarin?" tanya Jingga yang baru keluar dari mobilnya


"belum lama, kenapa gak bilang aku aja kalau bia pengen pizza" ucap Arthur sedikit ketus


"gak enak kalau ngerepotin kamu terus, lagian aku gak ada kerjaan juga" sahut Jingga


"uncle Arthur...." teriak Sabia, Rayn dan Riasa bersamaan


"Liat bia beli pizza banyak banget, uncle mau?" Sabia menunjuk beberapa kotak pizza yang di bawa oleh Jingga


"mami bilang uncle sibuk makanya gak di ajak" jawab Sabia


"ya sudah makan dulu pizza nya, uncle mau ngomong sama mami" Arthur menurunkan Sabia dari gendongannya


Arthur menghampiri Jingga yang sudah duduk manis di sofa ruang keluarga, dengan wajah cemberutnya Arthur duduk di samping Jingga


"handphone kamu dari tadi bunyi terus" ucap Arthur jutek


"masa sih? siapa yang nelfon? kenapa gak kamu jawab aja" sahut Jingga mengambil ponselnya yang masih berada di atas nakas


"mantan terindah kamu" ketus Arthur


"oh mas Tama, tadi Sabia ngerengek pengen ketemu sama papi nya pas aku mau telfon nomor nya gak bisa di hubungi" ucap Jingga


"bukannya Sabia juga pegang handphone ya kenapa harus pake handphone kamu" sahut Arthur dengan nada tidak suka

__ADS_1


"handphone Sabia kan di kamar repot kalau harus ngambil dulu ke atas, lagian sama aja kan mau pake handphone aku ataupun punya Sabia"


"kamu masih sering komunikasi sama dia?" tuduh Arthur


"engga, cuma sekarang aja biasanya juga Sabia suka langsung hubungi mas Tama langsung ini kebetulan aja aku lagi ada di rumah" sahut Jingga


"oh, masih mesra juga ya kamu sama mantan suami kamu" sungut Arthur


"kamu kenapa sih di tekuk gitu mukanya? gak enak di liat banget" tanya Jingga yang belum peka dengan kecemburuam Arthur


"kesel" jawab Arthur


"kesel sama siapa? aku?" tunjuk Jingga pada wajahnya sendiri


"ya iyalah sama kamu, masa aku kesel sama Sabia. kayak gitu aja gak peka" tajuk Arthur persis seperti bocah


"ya ampun, kamu kesel gara-gara aku telfon mas Tama?" tanya Jingga


"tuh kan sama dia aja manggilnya mas, giliran sama aku aja cuman manggil nama doang. nyebelin kan"


Tawa Jingga seketika pecah melihat tingkah Arthur yang benar-benar seperti bocah, hanya karena Tama menghubungi Jingga, Arthur sampai cemburu seperti itu padahal sudah jelas Tama hanya ingin menanyakan keadaan Sabia bukan untuk bernostalgia bersama Jingga, tapi tetap saja Aethur tidak terima apalagi mendengar Jingga menyebut Tama dengan sebutan "MAS" membuat Arthur kepanasan


"kamu cemburu?" tanya Jingga menatap Arthur begitu lekat


"JELAS" jawab Arthur lantang membuat Jingga semakin tertawa


"gak usah ketawa, gak ada yang ngelawak disini dan gak ada yang lucu juga" lanjut Arthur masih dengan wajah masamnya


"kamu lucu tahu kalau lagi cemburu gini, gemesin" Jingga mencubit kedua pipi Arthur gemas


"jangan sentuh-sentuh, aku lagi kesel" rajuk Arthur membuat Jingga terus menahan tawanya


"keselnya ngelebihin anak perawan ya" ledek Jingga


"sayang ih, bukannya di bujuk malah di ledekin"

__ADS_1


__ADS_2