JINGGA (The Second Wife)

JINGGA (The Second Wife)
Interview


__ADS_3

setelah mengantarkan sabia dan bi idah ke sekolah jingga langsung menemui hana di sebuah perusahaan dimana jingga akan melamar pekerjaan, jingga sengaja meminta bi idah untuk menemani sabia selama di sekolah karena jika harus mencari pengasuh yang baru rasanya jingga tidak percaya lagi pula bi idah sudah jingga anggap seperti ibu nya sendiri karena sejak kecilpun selain sang bunda yang merawatnya bi idah juga membantu merawat jingga.


jingga di sambut sangat antusias oleh hana, hana langsung mengajak jingga untuk bertemu HRD di perusahaan tempatnya bekerja untuk menyerahkan cv miliknya dan pagi itu juga jingga langsung melakukan interview sesuai arahan yang sudah di beritahukan kepada pihak HRD dari asisten pribadi pemilik perusahaan itu, jingga sedikit curiga karena biasanya proses penyerahan cv dengan interview penerimaan karyawan tidak secepat ini namun karena alasan yang di berikan hana cukup masuk akal jingga percaya saja dan bodohnya jingga, sampai saat ini dia belum sadar jika pemilik perusahaan itu adalah mantan kekasihnya sendiri yaitu Arthur Pradipta


"na gimana?" tanya dimas melihat hana yang baru saja keluar dari ruangan HRD


"beres, kalau gak hari ini mungkin besok jingga sudah mulai kerja" jawab hana dengan senyum sumringah


"baguslah, aku gak sabar buat lihat reaksi arthur kalau yang jadi sekretarisnya kali ini adalah jingga" ucap dimas terkekeh


"tapi kamu yakin arthur gak akan mengubah keputusan pihak HRD dan mencari pengganti jingga lagi? aku takut lho dim secara sikap arthur kemarin galak banget sama jingga" hana bergidik ngeri membayangkan tatapan mata arthur seperti yang ingin melahap jingga hidup-hidup saat bertemu di cafe kemarin siang


"tenang aja serahin semuanya sama aku, di jamin beres" dimas menepuk dadanya membanggakan diri


"awas aja kalau hasilnya gak sesuai ekspektasi kita" hana menatap dimas seakan memberi ancaman


"jangan bawel semuanya udah aku atur, kamu mending balik ke ruangan kamu sebelum ketahuan sama bos kamu yang super galak itu" bisik dimas karena setahunya arthur sudah berada di ruangannya sejak setengah jam yang lalu


dimas menormalkan ekpresi wajahnya seakan tidak tahu apa-apa tentang sekretaris baru yang sedang di interview hari ini. dengan langkah tegap dimas masuk ke ruangan arthur untuk membicarakan laporan hasil meeting kemarin dengan perusahaan yang dari luar negri


*tok


tok


tok*


"masuk" seru arthur dari balik pintu


"pagi bos" sapa dimas dengan senyuman nyelenehnya


"hhmm, bagaimana hasil meeting kemarin dengan klien yang dari kuala lumpur itu dim? tanya arthur yang fokus dengan tab di tangannya


"semuanya berjalan dengan baik, perusahaan mereka juga menyetujui dengan syarat kerjasama yang di ajukan oleh perusahaan kita" jawab dimas serius

__ADS_1


"baguslah, kapan mereka akan meminta tanda tangan kontrak kerjasamanya?" tanya arthur lagi


"minggu depan bos" jawab arthur


"baiklah, apa kamu sudah mendapatkan sekretaris baru yang akan menggantikan mitha?" tanya arthur lagi


"sudah sekarang sedang di interview oleh pihak HRD" jawab dimas sambil mengulum senyum


"kamu serius dim? kenapa senyum-senyum seperti orang tidak waras? dan kenapa langsung interview? seharusnya cv nya kamu berikan dulu kepada saya" sarkas arthur menatap tajam ke arah dimas


"serius bos , dari pihak HRD meminta untuk segera di adakan interview karena deadline perusahaan bos karena sudah hampir tiga minggu hanya dia satu-satunya pelamar yang memenuhi kriteria yang bos inginkan" dimas beralasan


"sejak kapan keputusan di perusahaan ini di tentukan oleh pihak HRD? apa tidak ada kandidat lain yang melamar?" arthur menatap dimas curiga


"tidak ada bos" sahut dimas mencoba terlihat santai


"sesulit itukah mencari seorang sekretaris?" arthur menatap dimas seakan tak percaya dengan yang dimas ucapkan


"yang mungkin mereka tahu jika akan bekerja dengan seorang bos yang galak dan tidak berperasaan" sindir dimas membuat arthur semakin mengeraskan rahangnya


"baik bos, saya permisi"


dimas keluar dari ruangan arthur dengan mengulum senyum rasanya ada kepuasan tersendiri jika sudah berhasil membuat bosnya itu merasa kesal


dimas berjalan ke ruangannya sambil bersiul riang, entah kenapa hari ini dimas merasa sangat bahagia seperti sedang mendapatkan undian


"dim, dimas gimana?" tanya hana yang sengaja menunggu dimas keluar dari ruangan arthur


"gak gimana-gimana, jingga di suruh ke ruangan arthur kalau sudah selesai interview" jawab dimas apa adanya


"arthur udah tahu kalau calon sekretatisnya itu jingga?" tanya hana lagi


"belum, kan kejutan man boleh aku kasih tahu" jawab dimas yang terus mengembangkan senyummya

__ADS_1


"sekarang kamu mau kemana?"


"mau jemput calon ibu bos kita"


hana hanya mencebik melihat tingkah sahabatnya yang menurutnya absurd itu, hanak kembali masuk ke dalam ruangannya dan kembali bekerja.


sedangkan ayah salim saat ini sedang mencoba menghubungi jingga untuk menanyakan kabar tentang jingga yang melamar pekerjaan di perusahaan lain, tadi pagi tama memang sudah memberi kabar kepada ayah salim tentang niat jingga yang ingin kembali bekerja tapi bukan di perusahaan milik keluarga melainkan mencari pekerjaan di perusahaan lain yang belum jelas, ayah salim merasa sedikit kecewa dengan keputusan yang jingga ambil padahal ayah salim sudah berniat untuk menyuruh jingga kembali perusahaan untuk membantu jemi tapi kenyataannya jingga malah memilih jalannya sendiri


"ayah ada apa? tanya jemi melihat ayah salim murung


"apa kamu tahu kalau adik kamu memilih bekerja di perusahaan orang lain ketimbang di perusahaan kita?" tanya balik ayah salim


"ayah kata siapa?"


"tama, dia bilang sama ayah katanya pagi ini jingga interview kerja di perusahaan Pradipta Corporation" jelas ayah salim


"Pradipta Corporation?" ulang jemi mengernyitkan keningnya


"ya, perusahaan milik Damar Pradipta yang saat ini di pimpin putranya sendiri, dan kamu tahu siapa? Arthur Pradipta" ucap ayah salim menahan kekesalan di dalam hatinya


"Arthur? mantan pacar jingga?" tanya jemi


"ayah tidak mengerti dengan jalan pikiran adik kamu jem, bagaimana bisa dia bekerja dengan mantan pacarnya. apa dia tidak memikirkan perasaan tama" jawab ayah salim penuh amarah


"mungkin ini cara jingga untuk mengutarakan rasa kecewanya kepada tama ayah" ucap jemi membuat alis ayah salim bertaut


"maksud kamu apa jemi?" tanya ayah salim


"ayah pasti tahu betul apa maksud ucapanku" jawab jemi penuh penekanan


"jadi kamu mendukung apa yang di lakukan oleh adik kamu?" bentak ayah salim


"aku akan mendukung apapun itu asalkan adik kesayanganku bahagia" jawab jemi menatap penuh intimodasi kepada ayah salim

__ADS_1


"berhentilah bersikap terlalu keras kepada jingga ayah, biarkan jingga memilih jalannya sendiri. jangan melakukan kesalahn yang sama dua kali jika ayah tidak ingin menyesal dan membuat jingga kecewa untuk yang kedu kalinya" tekan jemi lalu pergi meninggalkan ayah salim


__ADS_2