
disaat seperti ini jingga sangat membutuhkan seorang ibu untuk sekedar memeluknya dan membuat dirinya merasa tenang namun sampai detik ini jingga tidak tahu dimana keberadaan ibu kandungnya sendiri yang sudah sepuluh tahun terakhir ini menghilang tanpa ada alasan yang jelas setiap kali bertanya kepada ayahnya jingga selalu mendapat jawaban yang sama yaitu bundanya pergi karena ingin terbebas dari kekangan ayahnya dan jawaban itu tidak membuat jingga percaya
sampai saat ini pun jingga masih berusaha mencari kabar tentang ibunya tanpa sepengetahuan ayah salim dan kakaknya jemi namun nihil jingga belum menemukan titik terang apapun
"bunda jingga rindu" lirih jingga sambil memeluk foto sang bunda bersama dirinya saat sebelum jingga menikah dengan pratama
jingga terlelap dengan memeluk foto sang bunda, dan tanpa jingga tahu ternyata ayah salim melihat itu membuat rasa bersalah di hatinya semakin dalam.
ayah salim mengelus pucuk kepala jingga dengan deraian airmata yang sudah tidak bisa lagi dia bendung, dadanya terasa semakin sesak mengingat apa yang sudah dia lakukan di hidup jingga dan terlalu memaksakan kehendaknya sampai jingga berada kondisi seperti ini
"maafkan ayah jingga, maaf" lirih ayah salim memadang wajah cantik jingga yang sudah terlelap dan menyisakan airmata di sudut mata jingga
pagi menjelang jingga terbangun dan segera membersihkan dirinya, setelah selesai dengan semua ritual pagi yang selalu jingga lakukan kini jingga turun ke dapur untuk membantu bi sumi menyiapkan sarapan
subuh tadi jingga sudah mendapatkan pesan dari suaminya bahwa tama sedang bersiap-siap untuk ke bandara. jingga merasa bingung sendiri sikap seperti apa yang harus dia tunjukan kepada tama saat tama pulang nanti sedangkan rasa sakit dan kecewanya sampai saat ini masih mendominasi
"non jingga awas tangannya kena pisau non" seru bi sumi melihat jingga yang melamun sambil memotong sayuran
"astagfirullah" ucap jingga mengelus dadanya yang sedikit kaget
"non sepertinya non sedang banyak pikiran biar bibi saja yang masak ya, non jingga istirahat saja di kamar" bi sumi takut terjadi sesuatu kepada majikannya itu
"eh maaf bi jingga malah ngelamun bikin bibi makin repot aja" seru jingga tak enak hati
"wes rapopo non, bibi sudah biasa di repotkan" ucap bi sumi
"ya sudah jingga ke kamar dulu ya bi" pamit jingga
"mau bibi buatkan teh hangat atau susu hangat non? biar pikiran non jingga sedikit rileks" tawar bi sumi
__ADS_1
"boleh bi nanti tolong antarkan ke kamar aja ya" pinta jingga
"nggeh non"
jingga berniat kembali masuk ke dalam kamarnya namun berpapasan dengan ayah salim yang baru saja keluar dari kamarnya, menuju taman belakang untuk membaca koran sambil meminum teh hangat
"ji kamu baik-baik saja nak?" tanya ayah salim melihat wajah jingga sedikit memucat
"jingga sedikit pusing yah, mau istirahat bentar aja sambil nunggu sarapan" ucap jingga memaksakan senyumnya
"kalau pusingnya gak hilang-hilang periksa ke dokter ya nak, ayah gak mau kamu kenapa-kenapa" titah ayah salim cemas
"iya ayah" sahut jingga memandang wajah tua renta ayah salin dengan tatapan tak biasa
"ayah" panggil jingga ketika ayah sudah berjalan menuju taman belakang
"kenapa nak?" tanya ayah salim
deg....
ayah terpaku mendengar pertanyaan sang anak bungsu dia tidak menyangka jika tiba-tiba jingga menanyakan keberadaan dang bunda yang sudah lama tidak dinketahui keberadaannya
"jingga yakin ayah tahu dimana buna berada saat ini, dimana bunda yah? jingga ingin bertemu dengan bunda" lanjut jingga membuat ayah salim berjalan ke arahnya
"maafkan ayah jingga, ayah belum.bisa menemukan dimana keberadaan bunda kamu" ucap ayah salim mengelus lembut pucuk kepala jingga
"apa selama ini ayah sudah berusaha mencari keberadaan bunda dengan benar? sepertinya ayah terlihat biasa saja sejak kepergian bunda, ayah tidak merasa kehilangan sama sekali" tuduh jingga membuat ayah salim terdiam
"benar kan apa jingga katakan? ayah tahu dimana bunda sekarang?" tambah jingga karena melihat sang ayah hanya diam saja
__ADS_1
"ayah benar-benar tidak tahu dimana bunda kamu nak, jika pun ayah tahu dimana keberadaan kamu pasti ayah sudah membawanya pulang ke rumah ini. ayah sudah berusaha semampu ayah untuk menacari bunda kamu bahkan sampai menyuruh anak buah ayah untuk membantu mencarinya tapi semuanya tidak mudah nak" sahut ayah salim panjang lebar berharap jingga akan percaya dengan penjelsannya
"sepuluh tahun itu bukan waktu yang singkat ayah, apa perlu jingga ikut turun tangan untuk mencari keberadaan bunda?" pancing jingga sengaja ingin melihat ekpresi wajah ayah salim
"ti...tidak perlu nak ayah dan anak buah ayah bisa mencari bunda kamu, kamu fokus saja sama rumah tangga kamu sendiri sayang" sahut ayah salim sedikit gugup membuat jingga semakin menaruh rasa curiga
"baiklah jingga istirahat dulu"
jingga meninggalkan ayah salim yang masih termenung di depan pintu kamar jingga, sebenarnya ayah salim sudah tidak sanggup untuk menyimpan rahasia ini seorang diri apalagi mengingat dirinya yang sudah semakin menua, ayah salim takut jika dia akan meninggal membawa rahasia yang belum sempat dia ceritakan kepada dua anaknya namun ada satu hal yang membuat ayah salim masih menyimpan rapat tentang rahasia itu terlebih kepada jingga
"ayah kenapa melamun disini?" tanya maya yang hendak ke dapur membantu bi sumi menyiapkan sarapan
"eh may, ayah habis memeriksa keadaan jingga katanya dia sedang tidak enak badan" jawab ayah salim
"lho jingga masih sakit? kenapa gak di bawa ke rumah sakit saja yah" usul maya
"jingga menolak may, dia hanya istirahat katanya" sahut ayah salim
"semoga jingga tidak kenapa-napa ya yah, maya ke bawah dulu mau bantu bi sumi nyiapin sarapan" pamit maya
"iya"
jingga membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuk miliknya, kepalanya memang terasa sedikit pusing mungkin karena semalam dia menangis terlalu lama. jingga memijit-mijit keningnya sendiri berharap rasa pusing di kepalanya akan menghilang sampai akhirnya jingga tertidur kembali dengan posisi kakinya yang masih menjuntai di ujung ranjang
jingga tertidur cukup lama dan tidak ada satu orang pun yang berani membangunkannya karena semua tahu jika jingga sedikit kurang enak badan
ceklek
pintu kamar jingga pun terbuka terlihat sosok pria yang datang dan menghamppiri jingga yang masih tertidur, pria itu membenarkan posisi tidur jingga yang terlihat seperti tidak nyaman namun pergerakan yang di buat oleh pria membuat jingga terusik dari tidurnya
__ADS_1
"eughhhh...." jingga menggeliat karena merasa tubuhnya melayang
"mas...." gumama jingga melihat seseorang yang memandang wajahnya begitu lekat