
Jingga memutuskan untuk menyusul Sabia dengan mengajak Jemi, Maya beserta Rayn dan Raisa.
bukan tidak percaya kepada bunda hasna dan ayah afif namun secara usia bunda hasna dan ayah afif sudah tak lagi muda, Jingga khawatir bunda hasna dan ayah afif akan kewalahan mengajak bermain Sabia yang sedang aktif-aktifnya, terlebih Jingga sudah sangat lama tidak menghabiskan waktu dengan kedua keponakannya dengan berjalan-jalan, Sabia juga pasti senang karena akan ada teman untuknya bermain
Jemi langsung mengendarai mobilnya menuju mall tempat Sabia bermain saat ini, di dalam perjalanan Rayn dan Raisa tak henti berceloteh karena senangnya akan di ajak jalan-jalan oleh Jingga. Sesampainya di mall Jingga langsung menghampiri bunda hasna yang sedang memesan burger beserta minuman untuk Sabia
"sayang kamu sudah sampai" seru bunda hasna melihat Jingga, Jemi, Maya beserta kedua anaknya
"iya bun, Sabia mana?" tanya Jingga clingak-clinguk mencari keberadaan sang putri
"lagi ke toilet sama ayah ji, kita tunggu disini saja ya" jawab bunda hasna
"tante gak apa-apa nih saya sama keluarga saya ikut gabung?" tanya Jemi berbasa-basi
"gak apa-apa jem, malahan tante senang kita bisa jalan rame-rame kayak gini. jarang-jarang kan kita kumpul sambil jalan-jalan kayak gini" jawab bunda hasna
"Rayn sama Raisa mau burger juga?" tawar bunda hasana kepada Rayn dan Raisa
"memang boleh?" tanya balik Raisa
"boleh dong sayang, sini sama nenek"
Setelah Sabia dan ayah Afif kembali dari toilet, para anak-anak langsung merengek ingin bermain timezone karena memang tujuan mereka datang ke mall itu untuk bermain timezone bukan untuk sekedar makan atau hanya nongkrong saja.
__ADS_1
tanpa menunggu lama ayah Afif langsung membawa Sabia, Rayn dan Raisa masuk ke dalam area timezone setelah mengisi kartu agar mereka puas bermain, ayah afif tidak sendiri melainkan di temani oleh Jemi karena ketiga bocil sedang dalam masa aktif-aktifnya tidak mungkin Jemi membiarkan ayah Afif seorang diri bermain dengan Sabia, Rayn dan Raisa
sedangkan Jingga, Maya dan bunda Hasna menunggu di bangku yang sudah di sediakan untuk para pengunjung sambil menikmati cemilan yang mereka beli
"Ji makasih ya nak kamu sudah menginjinkan bunda dan ayah mengajak Sabia bermain" ucap bunda Hasna
"gak usah berterima kasih bunda, Sabia kan memang cucu bunda sama ayah, aku gak mungkin larang bunda dan ayah untuk bertemu sabia" sahut Jingga tersenyum
"seandainya Tama tidak melakukan kesalahan yang membuat kamu sangat terluka mungkin saat ini rumah tangga kalian masih baik-baik saja, dan kalian pasti hidup bahagia" ucap bunda hasna sendu masih tidak rela jika pernikahan Jingga dan Tama berakhir
"Jingga minta maaf bunda, bukan Jingga merasa benar sendiri tapi kalau Jingga memaksakan diri untuk terus bertahan itu hanya akan membuat luka batin yang semakin dalam, setiap melihat mas Tama, Jingga selalu membayangkan mas Tama bermain dengan wanita Lain saling berbagi peluh dan berbagi kenikmatann di atas ranjang membuat hati Jingga sakit bun sangat sakit membayangkan pria yang sangat Jingga cintai membagi perasaannya dengan wanita lain" Jingga menghela nafas dalam mencoba menahan untuk tidak meneteskan airmatanya
"bunda pasti kecewa dengan sikap Jingga yang keras kepala tapi apa salah kalau Jingga ingin bahagia? mas Tama sudah beberapa kali berjanji untuk menceraikan laras dan menjadikan Jingga istri satu-satunya tapi sampai detik ini mereka masih bersama bun, perasaan Jingga seperti di permainkan" Jingga terus menekan rasa sesak yang terus menggerogoti dadanya
erat
"Jingga dan mas Tama berpisah secara baik-baik bun, kami akan bekerja sama agar Sabia tidak kekurangan kasih sayang dan perhatian kami.
Mungkin memang jodoh Jingga dan mas Tama hanya sampai disini, mau bagaimanapun mas Tama tidak ingin berpisah tapi kalau semesta sudah tidak mengijinkan kami bersama akhirnya kita berpisah juga.
Jingga juga tidak membatasi mas Tama kapanpun mas Tama mau bertemu dengan Sabia begitupun dengan bunda dan ayah jangan sungkan mengabari Jingga kalau bunda kangen sama Sabia" Jingga menatap wajah renta bunda Hasna yang terlihat sedih dan matanya yang sudah basah karena airmata
"terima kasih sayang, terima kasih meskipun Tama sudah menyakiti kamu tapi kamu masih berbaik hati menerima kami dengan tangan terbuka kamu memang menantu idaman setiap mertua, kamu juga jangan sungkan kalau butuh bantuan bunda dan ayah ya sayang? bunda dan ayah akan selalu ada untuk kamu dan Sabia"
__ADS_1
Bunda hasna memeluk Jingga begitu erat seolah mereka tidak akan bertemu lagi, Maya yang sejak tadi menjadi pendengar setia hanya diam dan memperhatikan tanpa berniat untuk ikut campur, Maya bisa melihat rasa sayang bunda Hasna terhadap Jingga sangat besar dan begitu tulus, beruntung sekali Jingga memiliki ibu mertua sebaik dan setulus bunda Hasna namun sayang sekali pernikahannya dengan Tama harus kandas di tengah jalan.
setelah hampir 2 jam menunggu akhirnya ayah Afif dan Jemi keluar dari area timezone dengan nafas yang terengah-engah dan bercucuran keringat berbeda dengan ketiga bocil yang terlihat sangat senang bahkan tidak terlihat mereka kelelahan.
tidak tega melihat ayah Afif dan Jemi kelelahan bunda Hasna mengajak mereka untuk makan terlebih dahulu sebelum pulang karena bunda Hasna tahu mengajak anak-anak bermain itu sangat menguras tenaga
"akhirnya nemu minum juga, haus banget" seru Jemi pesanan mereka sudah terhidang di atas meja
"cape banget ya mas?" tanya Maya terkekeh
"banget, hampir semua permainan di cobain sama anak-anak mas sama om afif sampai kelelahan sayang" jawab Jemi
"ya sudah sekarang makan yang banyak biar tenaganya balik lagi" Maya menyodorkan makanan yang sudah di pesan ke hadapan Jemi
mereka pun makan begitu lahap terutama Jemi dan Ayah Afif yang memang sangat kelelahan, bukan hanya makanan, Jemi dan ayah Afif sampai menghabiskan 3 gelas minuman saking hausnya
"wah enak banget ya keluarga bahagia lagi quality time" celetuk seoran wanita yang tiba-tiba muncul di restoran tempat mereka makan
"Laras" gumam Jingga saat menoleh ke arah sumber suara
"hai maduku, sepertinya kamu sudah tahu ya kalau selama ini kamu hanya menjadi istri kedua suamiku" ucap laras dengan suara yang begitu kencang sampai semua pengunjung di restoran itu melihat ke arah mereka
"kenapa diam aja? bener kan yang aku omongin seorang Jingga Maharani putri dari seorang pengusaha terkenal di kota surabaya hanya menjadi seorang PELAKOR" lanjut Laras dengan suaranya yang semakin menggema membuat Jingga mengepalkan tangannya begitu kuat
__ADS_1