
"honey kamu dari mana saja? sudah satu jam aku menunggu kamu disini" tanya dokter
Andi yang memang sudah bosan menunggu Laras di depan apartemennya
"kamu ngapain kesini?" tanya balik Laras dengan nada tidak suka
"aku rindu, akhir-akhir ini kamu sangat susah di hubungi" jawab dokter semakin mendekat ke arah Laras dan langsung mengecupp bibir Laras
"aku sibuk sebaiknya kamu pulang" usir Laras
"aku rindu sangat rindu masa kamu tega gak nyuruh aku masuk dulu, sudah hampir satu minggu lho kita gak bercintaa, aku kangen goyaangan kamu" bisik dokter Andi di telinga Laras
"daren sakit an, aku harus cepat-cepat kembali ke rumah sakit" sahut Laras
"hanya satu ronde aku janji, aku udah gak tahan... coba pegang udah turn on dari tadi" dokter Andi mengarahkan tangan Laras tepat ke area sensitifnya yang sudah menegangg sempurna
"ya sudah ayok masuk" ajak Laras
"yes, thank you honey"
terpaksa Laras harus memuaskan birahii dokter karena Laras masih ingat dengan ancaman dokter Andi jika Laras menolak ajakannya sekali saja, dokter Andi tidak akan segan membongkar skandal mereka ke hadapan Tama, Laras yang memang belum siap untuk kehilangan Tama terpaksa memenuhi keinginan dokter mesum itu meskipun Laras sendiri sangat menikmati permainan panasnya dengan dokter Andi.
sudah lebih dari tiga puluh menit Laras dan Dokter Andi bergelut di atas ranjang, dokter Andi yang mengatakan jika mereka akan bermain hanya satu ronde nyatanya bohong, seakan tidak pernah puas dokter Andi terus menghujam milikmya ke dalam loyang surgawi milik Laras sampai lebih dari dua ronde, ingin menolak namun Laras pun juga sangat menikmati dan menyukai permainan dokter Andi yang selalu membuatnya puass dan ketagihan.
Tanpa Laras sadari ternyata anak buah Tama sejak tadi terus memperhatikan apa yang Laras lakukan termasuk saat Laras membawa dokter Andi masuk ke dalam apartemen, Laras tidak sadar jika Tama memasang CCTV di setiap sudut ruangan apartemen itu termasuk kamar yang saat ini di gunakan Laras dan dokter Andi berbagi peluh
"brengsekkk....." teriak Tama marah ketika mendengar laporan dari anak buahnya
"tuan bisa langsung cek CCTV di dalam apartemen untuk memastikan jika informasi yang saya berikan memang benar adanya" ucap anak buah Tama yang bertugas mengikuti Laras
"tolong ambilkan laptop saya di mobil" titah Tama kepada anak buah yang lainnya
setelah anak buah Tama mengambilkan laptop milik Tama, tanpa membuang banyak
__ADS_1
waktu lagi Tama langsung mengecek setiap sudut CCTV yang dia pasang di apartemen laras bukan hanya rekaman hari ini saja, Tama juga membuka rekaman CCTV sejak tiga bulah terakhir semenjak dirinya sudah sangat jarang menemui Laras ke apartemennya dan ternyata hasil yang Tama lihat membuat Tama meradang, Tama benar-benar marah dan kecewa dengan kelakuan Laras apalagi di saat Laras memperlakukan Daren begitu kasar dan bukan hanya itu akhirnya Tama mengetahui apa saja yang di lakukan Laraa saat Tama tidak mengunjunginya, Tama langsing menyalin semua rekaman CCTV itu ke dalam ponselnya untuk di jadikan bukti, semuanya akan Tama bongkar saat hasil tes DNA dirinya dengan Daren sudah keluar
"benar-benar menjijikan" geram Tama mengepalkan kedua tangannya
"apa sudah cukup tuan?" tanya anak buah Tama
"sudah, tolong simpan lagi laptop saya ke dalam mobil dan ingat jangan dulu bertindak apapun biar saya yang akan memberi pelajaran kepada wanita jalaang itu" tekan Tama dengan ekpresi wajahnya yang begitu dingin
"baik tuan, kalau begitu kami permisi" pamit anak buah Tama
"ya" jawab Tama
Tama merenung, membayangkan nasibnya yang begitu menyedihkan semenjak di tinggalkan oleh Jingga dan yang Tama sesali adalah kenapa semuanya harus ketahuan sekarang kenapa tidak di saat dirinya masih menjadi pasangan suami istri dengan Laras mungkin Tama bisa mempertahankan Jingga dan melepaskan Laras tanpa berpikir dua kali. belum lagi dengan hasil tes DNA dirinya dengan Daren, jika terbukti Daren bukan anak biologisnya sudah dapat di pastikan bagaimana hancurnya hidup. Tama di bodohi oleh seorang wanita yang dia pikir tulus mencintai nya selama ini namun pada kenyataannya Laras tidak lebih dari seorang wanita Ular.
lagi, lagi rasa penyesalan semakin menyeruak menggerogoti hati Tama
*
*
*
"ar kamu masih waras kan?" tanya Jingga membuat Arthur langsung menoleh ke arahnya
"emangnya kalau aku udah gak waras kenapa?" tanya balik Arthur membuat Jingga semakin merasa heran
"aku gak mau lah satu mobil sama orang gila" gerutu Jingga membuat Arthur menyemburkan tawanya
"aku juga gila gara-gara kamu" ucap Arthur membuat Jingga melotot
"kok aku?"
"iya, cuma bayangin wajah kamu aja bisa bikin aku senyum-senyum sendiri"
__ADS_1
"gombal"
"aku serius Ji, aku seperti menemukan kembali sesuatu yang pernah hilang dan itu kamu... kamu adalah hidup aku, dulu hidup aku suram tanpa kamu tapi sekarang semuanya jadi lebih indah dan berwarna karena kamu mau kembali lagi sama aku"
"dihh percaya diri sekali anda pak bos, aku kan belum bilang iya"
"tapi aku yakin kok kamu gak mungkin nolak aku"
"rasa percaya diri kamu itu memang sudah akut ternyata"
"percaya diri itu harus Ji"
"tapi ar apa kamu yakin mau menjalin kembali hubungan sama aku? semuanya udah berbeda gak akan sama kayak dulu"
"maksud kamu?"
"tidak perlu di jelaskan pun pasti kamu udah paham"
"karena kamu seorang single mother? masalahnya dimana?"
"kalau seandainya aku terima kamu lagi, apa keluarga kamu bisa nerima aku dengan status aku ini? aku gak yakin Ar, keluarga kamu pasti mau kamu memiliki pasangan yang lebih baik dari aku dan tentunya dengan status yang belum pernah meniikah apalagi punya anak" ucap Jingga sendu
"aku tidak peduli tentang semua itu Ji, lagipula keluarga aku gak sekolot itu pemikirannya, mereka pasti mendukung apapun keputusan aku asalkan itu membuat aku bahagia dan sumber kebahagiaan aku itu cuma kamu" Arthur menggenggam tangan Jingga yang mendadak dingin seperti es
"hilangkan ketakutan kamu itu, sekalipun seluruh dunia menentang hubungan kita aku akan tetap memilih kamu dan kita akan hadapi semuanya sama-sama" Arthur mengecup tangan Jingga membuat Jingga melotot ke arahnya
"orang lagi ngomongg serius ini malah modus" Jingga melepaskan tangannya dari genggaman tangan Arthur
"nyicil dikit gak akan dosasayang"
blushh...
wajah Jingga merona mendengar Arthur memanggilnya dengan sebutan sayang, tidak dapat dipungkiri masih getaran-getaram aneh yang dia rasakan ketika berdekatan dengan Arthur namun Jingga tidak ingin terlalu mudah menyimpulkan bahwa itu adalah bahwa getaran cinta, masih banyak pertimbangan yang Jingga pikirkan tapi jika harus jujur Jingga sangat nyaman berada di dekat Arthur
__ADS_1