
Jemi yang dari kejauhan memperhatikan Jingga dan Tama sejak tadi ikut menangis apalagi ketika melihat Sabia tiba-tiba datang menghampiri kedua orang tuanya, hati Jemi benar-benar terasa di remat oleh ribuan tangan tak kasat mata. Jemi merasa gagal sebagai seorang kakak tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk adik tercintanya bahkan dulu di saat ayah Salim memaksa Jingga untuk menikah dengan Tama, Jemi tidak bisa berbuat apa-apa.
"mas" panggil Maya mengelus pundak Jemi
"sayang" Jemi menoleh ke arah sang istri dan langsung menghapus sisa airmatanya
"kamu sedih melihat Jingga dan Tama akan berpisah?" tanya Maya
"aku tidak kuat melihat Sabia sayang, hatiku sakit melihat Sabia menangis karena menyaksikan kedua orang tuanya yang akan berpisah, seandainya waktu bisa di ulang kembali aku pasti akan mencegah pernikahan antara Tama dan Jingga dulu jika tahu kalau Jingga hanya akan dijadikan istri kedua" jawab Jemi lirih
"tidak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi mas, aku yakin di balik kejadian ini pasti ada hikmahnya. Jingga pasti sudah memikirkan keputusan yang dia ambil secara matang Jingga tidak mungkin gegabah mas" ucap Maya menenangkan Jemi
"aku tidak menyangka jika kehidupan adik satu-satunya yang paling aku sayangi akan seperti ini, sejak dulu jingga selalu di tekan oleh ayah dan di tuntut untuk menjadi seperti apa yang ayah mau meksipun hati jingga tidak ingin melakukannya, aku sudah gagal menjadi kakak yang baik untuk Jingga" Jemi menundukan kepalanya dengan rasa sesak yang semakin dia rasakan
"Husssss,, kamu jangan bicara seperti itu mas. kamu kakak yang terbaik dan paman yang hebat bagi Jingga dan Sabia jangan pernah menyalahkan diri kamu sendiri. kamu adalah sumber kekuatan bagi Jingga setelah jingga di kecewakan oleh ayah, percayalah Jingga pasti bangga memiliki kakak seperti kamu mas. sudah ya jangan nangis lagi kita doakan semoga keputusan yang jingga ambil benar-benar keputusan yang tepat dan bisa membawa jingga menemukan kebahagiaannya"
"makasih ya sayang kamu selalu mengerti aku dan sangat menyayangi jingga seperti adik kamu sendiri"
"sudah kewajiban ku mas, adik kamu ya berarti adik aku juga. aku tulus menyayangi jingga dan sabia"
Maya mengajak Jemi untuk masuk ke dalam kamar sambil menunggu Jingga dan Tama selesai bicara,
sedangkan saat ini Tama masih berharap hati Jingga akan tersentuh melihat adanya Sabia namun ternyata pikiran Tama salah Jingga masih tetap teguh pada pendiriannya untuk berpisah dengan Tama.
__ADS_1
Bagi Jingga seorang pria yang tidak bisa setia dengan satu wanita bukanlah pria yang tepat untuk di pertahankan, sebesar apapun cinta yang Jingga milikki untuk Tama namun ketika suaminya sendiri sudah membagi hati apalagi sudah berbagi peluh dengan wanita lain sudah tidak ada lagi kesempatan kedua, semuanya sudah berakhir dan tidak akan ada season kedua dalam pernikahan mereka.
Jingga berjalan mendekati Sabia yang masih terisak di dalam pelukan Tama, Sabia menatap Jingga seakan penuh permohonan jika kedua orang tuanya jangan berpisah
"sayang, sekarang kamu sudah mengerti kan kenapa mami dan papi sudah tidak bisa tinggal sama-sama lagi?" tanya Jingga lembut
"papi jahat dan sudah bikin mami nangis" jawab Sabia membuat Tama semakin menundukan kepalanya
"bia harus tahu meskipun mami sama papi berpisah, mami sama papi tetap sayang sama bia" ucap Jingga membuat Sabia semakin terisak
"bia nakal ya mi makanya mami sama papi mau berpisah, bia janji gak akan nakal lagi kok, bia janji akan jadi anak yang baik dan nurut sama papi dan mami" sahut Sabia
"sayang dengerin mami ya, ada sesuatu hal yang belum bia mengerti tapi nanti ketika bia sudah dewasa mungkin bia akan mengerti kenapa mami dan papi berpisah bukan karena bia nakal atau tidak nurut sama mami dan papi. sekarang bia Salim sama papi ya, papi mau pulang"
bukan bermaksud untuk tega kepada sang putri namun Jingga memilih mengatakannya sekarang dari pada harus di tunda-tunda lagi mungkin saat ini Sabia belum mengerti sepenuhnya tentang apa arti dari sebuah perpisahan namun disini Jingga mencoba memberikan pengertian jika kedua orang tua Sabia sudah tidak bisa hidup bersama-sama lagi. seiring berjalannya waktu dan jika nanti Sabia sudah beranjak semakin dewasa, Sabia pasti akan mengerti dengan sendirinya tentang arti dari perpisahan kedua orang tuanya biarlah semuanya mengalir seperti air tanpa harus dipaksakan
urusan perasaan Jingga kepada Tama biarlah waktu yang akan menghapus semuanya karena seiring berjalannya waktu semuanya bisa berubah tanpa kita sadari
*
*
*
__ADS_1
keesokan harinya Jingga akan beraktifitas seperti biasanya, setelah mengantar Sabia dan mbak Maya ke sekolah, Jingga melajukan mobilnya menuju perusahaan dimana tempatnya bekerja.
meskipun saat ini perasaannya sedang tidak baik-baik saja namun tetap saja Jingga harus tetap profesional dalam bekerja, tidak ada alasan bagi Jingga untuk terpuruk meratapi kesedihannya, Jingga harus kuat karena ada Sabia yang masih membutuhkannya.
Jingga masuk ke dalam ruangannya yang kebetulan masih satu ruangan dengan Arthur namun terhalang oleh dinding kaca yang cukup besar, Jingga mulai memeriksa jadwal sang bos untuk satu bulan ke depan, Jingga begitu cekatan dalam pekerjaannya dan Arthur sangat menyadari kemampuan Jingga dalam bekerja meskipun menjadi sekretaris adalah profesi yang baru saja Jingga kerjakan berbeda di tempat bekerjanya dulu yang menjabat sebagai wakil CEO yaitu wakil dari kakaknya sendiri yaitu Jemi.
"ngopi kayaknya seger kali ya" gumam Jingga sambil melirik jam di pergelangan tangannya
"pak mau sekalian saya buatkan kopi?" tawar Jingga kepada Arthur yang sudah sampai di ruangannya
"boleh, kopi hitam ya Ji jangan terlalu manis" sahut Arthur sambil menatap Jingga
"baik pak"
Jingga berjalan menuju pantry, Jingga sengaja ingin membuat kopi dengan tangannya sendiri tanpa menyuruh OB untuk melakukannya.
beberapa saat kemudian Jingga sudah kembali ke dalam ruangan dengan membawa dua cangkir kopi yang masih mengepul
"silahkan pak" Jingga menyimpan kopi milik Arthur di atas meja kerjanya
"makasih Ji, oh ya apa jadwal saya hari ini?" tanya Arthur sambil meminum kopi yang Jingga sajikan
"jam 9 bapak ada meeting dengan ketua divisi sampai makan siang untuk membahas laporan perusahaan bulan lalu, dan setelah jam makan siang jadwal bapak kosong sampai sore" jawab Jingga dengan lugas
__ADS_1
"baiklah, kamu bisa kembali ke meja kamu" titah Arthur
"baik pak"