
beberapa minggu berlalu dan hari ini tepat hari dimana seharusnya Jingga dan Tama melakukan sidang mediasi namun Jingga memilih untuk tidak menghadiri sidang mediasi itu sesuai instruksi yang di berikan oleh Regan, Regan yang akan bertanggung jawab sepenuhnya tentang proses penceraian antara Tama dan Jingga.
Tama kecewa dengan tidak hadirnya Jingga seakan memberikan pertanda jika Jingga memang sudah sangat yakin ingin segera berpisah dari Tama.
awalnya Tama percaya diri jika Jingga akan membatalkan niatnya untuk bercerai darinya karena Tama tahu jika Jingga masih sangat mencintainya namun ternyata dugaannya salah, Jingga benar-benar merealisasikan keinginannya untuk bercerai dari Tama
Tama berulang kali menghubungi Jingga untuk menanyakan keberadaan wanita yang sampai saat ini masih berstatus sebagai istrinya itu namun sayang nomor ponsel Jingga tidak bisa di hubungi entah memang sengaja tidak di aktifkan atau Jingga yang sudah memblokir nomor Tama.
Tama menghela nafas kasar, Jingga benar-benar sukses membuat Tama resah kali ini
"Ji kamu gak menyesali keputusan kamu kan?" tanya Hana yang sudah kembali sehat
"tidak Na, aku sudah yakin dengan keputusanku sendiri" jawab Jingga sendu
"tapi kok murung? jujur sama aku Ji" desak Hana membuat Jingga tiba-tiba menangis
"kalau kamu mau membatalkan semuanya masih bisa kok Ji mumpung belum terlambat, ini baru sidang mediasi bukan keputusan akhir" Hana memeluk Jingga dan mengusap punggung Jingga untuk menenangkannya
"bukan itu Na, aku masih tidak menyangka jika pernikahanku akan berakhir dengan cara seperti ini padahal dulu aku berharap akan menikah sekali seumur hidupku tapi ternyata Tuhan berkehendak lain" sahut Jingga masih terisak
"Ji lihat aku" titah Hana mengangkat wajah Jingga yang sejak tadi tertunduk
"kamu menyesal karena mau berpisah dengan Tama? kamu ingin kembali lagi padanya?" tanya Hana dengan tatapan matanya yang begitu dalam
"aku hanya belum siap menyandang status sebagai janda beranak satu na, apa orang-orang tidak akan memandang aku sebelah mata?" jawab Jingga jujur
"sejak kapan sekarang Jingga Maharani peduli dengan tanggapan orang lain hm?" tanya Hana
"apa untuk sementara aku dan Sabia pindah saja ke luar negeri ya na, biar hidup kami tenang" cetus Jingga membuat Hana tergelak
__ADS_1
"memangnya kamu melakukan kejahatan apa sampai harus kabur ke luar negeri segala?" tanya Hana tertawa
"Na jangan meledekku" rengek Jingga seperti anak kecil
"Ji dengarkan aku baik-baik ya, kamu memilih untuk tetap bertahan dengan status sebagai istri kedua atau melepaskan dan mencari kebahagiaan kamu sendiri? kalau kamu memilih bertahan yang namanya menjadi istri kedua tetap saja di cap sebagai perebut suami orang mau bagaimanapun jalan ceritanya orang-orang tidak akan mau tahu dan kalau kamu memilih melepaskan Tama kamu akan terbebas dari tuduhan sebagai pelakor dan tidak akan jadi cibiran orang" ucap Hana membuat Jingga terdiam
"aku bukan mau ikut campur terlalu dalam tapi aku cuma mau kamu bahagia, carilah kebahagiaan kamu yang belum sempat kamu raih setelah kamu menikah dengan Tama, aku yakin kamu akan lebih bahagia jika sudah berpisah dengan Tama jangan dengarkan apa kata orang toh kamu gak minta makan sama mereka kan ngapain nanggepin omongan orang lain yang tidak tahu apa-apa tentang kita" lanjut Hana
Jingga merenungkan setiap ucapan Hana yang memang masuk akal, Jingga sudah merasakan sendiri bagaimana sakit dan kecewanya saat Tama membohonginya selama tujuh tahun pernikahan mereka, bahkan untuk menyembuhkan lukanya pun Jingga belum tahu bagaimana caranya, sedangkan Tama yang berjanji akan menceraikan Laras sampai detik ini pun masih mempertahankan istri pertamanya yang di nikahinya secara siri itu
"sudah jangan melamun, kita makan siang dulu sekarang" ajak Hana mengajak Jingga untuk makan siang di kantin kantor
"makan di kantin? tumben?" tanya Jingga
"waktunya mepet Ji, kamu gak lihat sekarang jam berapa?" jawab Hana sambil menunjukan jam di pergelangan tangannya
"ya Tuhan na aku lupa siang ini Arthur ada meeting, aku belum menyiapkan berkas-berkasnya, aku gak jadi makan siang ya kamu saja" ucap Jingga kemudian berjalan tergesa-gesa menuju ruangannya
sedangkan Jingga yang terburu-buru masuk ke dalam ruangannya sampai tidak menyadari jika di dalam ruangan itu ada Arthur yang sedang menikmati makan siangnya yang dikirimkan oleh bundanya, tanpa menyapa Jingga, Arthur terus memperhatikan apa yang Jingga lakukan
"ehemmm" deheman Arthur membuat Jingga sedikit kaget
"lho pak sudah ada disini tidak makan siang?" tanya Jingga
"ini saya lagi makan, kamu sendiri kenapa malah bekerja di waktu makan siang seperti ini?" tanya balik Arthur
"saya lupa ada berkas yang belum di periksa untuk meeting siang ini pak" jawab Jingga sambil fokus pada berkas-berkas di atas meja kerjanya
"jadi kamu belum sempat makan siang?" tanya Arthur dan jingga hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban
__ADS_1
"sini makan sama saya, pekerjaan kamu simpan dulu nanti lanjutkan lagi setelah selesai makan" ajak Arthur
"tapi pak" sela Jingga
"tidak ada tapi-tapian Jingga, waktunya makan ya seharusnya makan bukan di gunakan untuk bekerja"
"ini saya makan berdua sama bapak?" tunjuk Jingga pada makanan yang hanya ada satu kotak saja
"memangnya kamu mau makan satu RT?" tanya Arthur
"bukannya gitu tapi apa bapak tidak keberatan makan bareng sama saya" sahut Jingga
"jangan banyak ngomong Ji, ayok sini makan dulu" Arthur menarik tangan Jingga untuk duduk di sampingnya
Jingga merasa seperti kembali ke beberapa tahun yang lalu, dimana Jingga dan Arthur selalu menghabiskan waktu makan siang mereka dengan makan dalam wadah yang sama.
Jingga terhenyak saat Arthur mengusap ujung bibirnya yang berantakan karena sisa makanan ya g menempel
"makannya hati-hati ji, aku gak bakalan abisin kok" ucap Arthur tersenyum
bukannya menjawab Jingga malah menatap wajah Arthur yang sejak tadi juga menatapnya, entah apa yang di rasakan Jingga saat ini yang pastinya perasaannya sudah tidak karuan dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya apalagi ketika melihat sorot mata Arthur yang membuat Jingga terhanyut dalam pesona seorang Arthur Pradipta
"I love you" ucap Arthur dengan gerakan bibirnya tanpa suara membuat Jingga melongo
"hah?" sahut Jingga dengan mulut yang menganga
"I love you Jingga Maharani" ucap Arthur membuat jantung Jingga merasa tidak aman dan sudah di pastikan wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus
Jingga salah tingkah mendengar ungkapan cinta dari mantan kekasih terindahnya itu, Arthur lebih berani dan terang-terangan untuk mengungkapkan perasaanya kepada Jingga sedangkan saat ini Jingga masih berstatus sebagai istri Tama, apakah pantas Jingga mendapatkan ungkapan cinta dari pria lain di saat dirinya masih dalam proses perceraian dengan Tama
__ADS_1
"yang sabar Ji, ini ujian"