
Arthur yang baru saja sampai di loby clingak-clinguk mencari keberadaan Jingga sampai matanya melotot ketika melihat Jingga yang sedang di seret dan di paksa masuk ke dalam mobil dengan begitu kasar sampai kening Jingga terkena pintu mobil.
Arthur mengepalkan tangannya, tidak terima melihat wanita yang sangat dia cintai di perlakukan begitu kasar oleh suaminya sendiri.
Arthur langsung keluar dari mobil dan berlari sekencang mungkin menghampiri Jingga dan Tama
"brengsekk" umpat Arthur sambil melayangkan bogeman mentah ke wajah Tama
"bisa tidak memperlakukan Jingga jangan sekasar itu" bentak Arthur dengan sorot mata yang begitu tajam
"oh ini dia pria tidak tahu malu yang dengan terang-terangan ingin merebut istri orang, badjingan" Tama membalas pukulan Arthur tepat mengenai hidung mancung Arthur
"ternyata kamu baru sadar kalau Jingga masih menarik di mata pria lain tapi kamu sendiri malah menyia-nyiakannya, pria tidak tahu di untung" sahut Arthur kembali memukul wajah Tama
"STOP......." teriak Jingga ketika melihat Tama akan kembali membalas pukulan Arthur
"kalau kalian mau adu jotos di atas ring sana bukan di pinggir jalan seperti ini, memalukan" ucap Jingga yang sudah muak melihat kelakuan Arthur dan Tama
"Ji ayo aku antar pulang" teriak seseorang yang sengaja mengajak Jingga pulang
"silahkan lanjutkan sampai kalian masuk rumah sakit sekalian" sungut Jingga kemudian masuk ke dalam mobil meninggalkan Tama dan Arthur yang sama-sama terdiam
"gara-gara kamu kan Jingga jadi pergi" lagi-lagi Tama menyalahkan Arthur
"itu semua gara-gara kamu yang memaksa Jingga untuk pulang, harusnya kamu sadar diri sebentar lagi pernikahan kamu dan Jingga akan segera berakhir jangan ganggu Jingga lagi" tekan Arthur tidak mau kalah
"cihhhh, aku tidak akan pernah menceraikan Jingga apalagi harus merelakan Jingga dengan pria badjingan seperti kamu"
__ADS_1
Arthur dan Tama terus saja beradu mulut seperti anak kecil yang sedang berebut mainan membuat security yang sedang berjaga terpaksa turun tangan untuk memisahkan mereka berdua karena sangat menganggu kenyamanan yang lain.
sedangkan Jingga saat ini sedang menekan rasa kesalnya karena tingkah Tama dan Arthur yang benar-benar membuatnya jengkel membuat Jingga berpikir ingin menghilang saja dari kedua pria yang membuat hidupnya semakin rumit saja
"are you oke Ji?" tanya Dimas, ya pria yang mengajak Jingga pulang tadi adalah Dimas
"aku baik-baik saja Dim, makasih ya kamu datang tepat waktu" jawab Jingga menghela nafas kasar
"aku sengaja mengajak kamu pulang karena bukan ide yang bagus terus-terusan berada di antara dua pria yang kelakuannya seperti bocah, bikin malu saja" ucap Dimas tak kalah kesal melihat tingkah Arthur dan Tama
"sudah dua kali aku berada di posisi itu, sampai muka Tama dan Arthur babak beluk tapi mereka tidak pernah kapok selalu saja mengulang kesalahan yang sama benar-benar seperti anak kecil" sahut Jingga
"aku tidak habis pikir kenapa Arthur bisa terpancing emosinya seperti itu, padahal dia di kantor terkenal bijaksana lho gak pernah gegabah dalam mengambil keputusan, mungkin ini kali ya yang di namakan bucin tingkat dewa" ucap Dimas tergelak
"jangan ngaco kamu dim"
"bukan ngaco Ji, ini fakta lho kalau ibarat jalan Arthur tuh udah mentok di kamu gak ada jalan menuju hati yang lain lagi, benar-benar tergila-gila dia sama kamu" Dimas kembali tergelak
"setahu aku sih memang gitu Ji selama di Amerika pun banyak wanita yang menggoda Arthur tapi dia tidak tertarik sama sekali malah dengan terang-terangan bilang sama aku mau nunggu kamu jadi janda... gila kan" jawab Dimas tertawa
"ngomong-ngomong kamu pulang kemana nih?" lanjut Dimas
"ke rumah kak Jem di komplek diamond hill, masa Arthur sampai segitunya sih Dim dia kan ganteng dan punya segalanya pasti gampang lah buat cari pengganti aku"
"kan aku udah bilang, cintanya mentok di kamu meskipun ada seribu wanita cantik yang deketin dia kalau di mata Arthur kamu yang paling istimewa. kita bisa apa. ngomong-ngomong kak Jem duitnya banyak ya Ji bisa beli rumah di perumahan elite gitu"
Jingga terdiam mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut Dimas, Jingga tidak menyangka jika Arthur mempunyai rasa cinta sedalam itu untuknya jika saja dulu Jingga mempunyai keberanian untuk menentang ayah Salim mungkin saat ini Jingga akan menjadi wanita paling bahagia sedunia karena di cintai dengan begitu sempurna oleh Arthur yang notabenenya banyak di gilai oleh para kaum hawa namun apa mau di kata saat ini kenyataannya sudah berbeda sekalipun nanti Jingga sudah bercerai dari Tama, Jingga merasa tidak pantas untuk kembali bersanding dengan Arthur lagipula kedua orang tua Arthur tidak mungkin memberikan restu jika Jingga dan Arthur kembali menjalin kasih.
__ADS_1
Arthur pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari jingga, yang masih gadis dan sederajat dengannya tidak seperti Jingga yang akan menjadi seorang janda beranak satu, begitulah menurut pikiran Jingga
"rumahnya yang mana Ji?" tanya Dimas ketika mereka sudah memasuki kawasan perumahan dimana Jemi tinggal
"JINGGA.... kok bengong sih mikirin apaan?" Dimas sedikit berteriak membuyarkan lamunan Jingga
"eh iyaa kenapa Dim? maaf aku gak mudeng tadi" sahut Jingga menggaruk tengkuknya
"pasti mikirin sang mantan kan, kalau jodoh gak akan kemana Ji" ledek Dimas
"apaan sih Dim aku gak mikirin dia" elak Jingga
"iya, iyaa... jadi rumah kak Jemi yang mana?" tanya Dimas
"itu yang pagarnya cat putih" tunjuk Jingga
"wah bener-bener keren ya rumah disini Ji, istriku pasti betah nih kalau di ajak pindah kesini" ucap Dimas berdecak kagum melihat area perumahan di sekitar rumah Jemi
"pindahlah, uang kamu udah banyak juga. pahalanya gede lho kalau nyenengin istri" sahut Jingga terkikis
"iya nanti lah aku pikir-pikir dulu, habis ini aku sama istriku mau langsung ke rumah sakit nengokin Hana mau titip pesan gak?" tanya Dimas
"tolong bilang aja sama Hana aku gak jadi ke rumahnya buat ambil mobil, by the way thanks ya Dim udah nganterin"
"it's oke Ji, ya sudah aku balik ya" pamit Dimas
"oke, hati-hati Dim"
__ADS_1
setelah mobil Dimas benar-benar pergi Jingga segera masuk ke dalam rumah, Jingga terkejut ketika melihat Sabia yang sedang mengamuk di ruang tamu bahkan terlihat mbak Maya yang sedang membujuk Sabia tapi Sabia malah semakin menangis histeris. perlahan Jingga mendekati sang putri dan langsung memeluknya, mengecup pucuk kepala Sabia dengan pembuat membuat Sabia mendongak merasa tidak asing dengan bau parfum yang sangat familiar di indera penciumannya
"mami"