
Keesokan paginya Jingga sengaja tidak masuk kantor karena masih malas untuk bertemu dengan Arthur, Jingga menyalakan sebentar ponselnya untuk mengabari Hana jika hari ini dia ijin tidak bekerja setelah itu Jingga langsung mematikan ponselnya kembali.
Untuk saat ini Jingga benar-benar tidak ingin bertemu dengan Arthur, semalam pun saat Arthur datang ke rumah Jingga berpura-pura tidak tahu dan sengaja mengunci pintu kamarnya dari dalam agar tidak ada yang mengganggunya
Arthur sengaja datang lebih pagi karena ingin berbicara terlebih dahulu bersama Jingga sebelum memulai pekerjaan mereka namun sialnya sampai jam 8 pun Jingga belum menampakan batang hidungnya membuat Arthur semakin frustasi, Arthur menghubungi Jingga sampai puluhan kali namun nomor ponsel Jingga masih belum bisa di hubungi sampai saat ini
"masih pagi udah ngomel aja si bos" seru Dimas yang datang ke ruangan Arthur
"Jingga ngambek dim, dari kemarin dia gak balas pesanku" sahut Arthur lemas
"lagian kamu gak bisa tegas Ar jelaslah Jingga kecewa, nih aku kesini mau ngasih ini sama kamu jangan lupa tanda tangan"
"apa nih?" tanya Arthur
"baca saja sendiri" jawab Dimas cuek
"siapa yang minta cuti dadakan hhmm?" tanya Arthir seraya membuka isi amplop yang di berikan Dimas tadi
"disitu kan ada namanya" tunjuk Dimas
"What??? Jingga???" pekik Arthur tak percaya
"lebay" cibir Dimas
"Jingga belum bisa ambil cuti dong dim dia kan baru kerja disini, engga aku gak akan tanda tangan" tolak Arthur menyerahkan kembali surat pengajuan cuti milik Jingga
"kalau kamu gak tanda tangan siap-siap aja dapet amukan dari Jingga" Dimas menakuti-nakuti Arthur
"aku mau samperin Jingga ke rumah kak Jemi, kamu handle urusan kantor ya" titah Arthur sambil bergegas pergi meninggalkan ruangannya
"Ar tunggu sebentar"cegah Dimas
__ADS_1
"apalagi dim? Aku takut Jingga tiba-tiba pergi"
"makanya kamu harus tegas sama Tania bilang sama dia kalau kamu sudah punya calon istri biar dia tahu diri dan gak ganggu hubungan kamu sama Jingga lagi" ucap Dimas sedikit kesal dengan sikap Arthur
"aku sama Tania itu gak ada hubungan apa-apa kita murni cuman temen gak lebih dan aku gak yakin kalau Tania punya niat lain, apalagi sampai punya perasaan lebih dari temen" sahut Arthur benar-benar membuat Dimas jengkel
"jangan terlalu naif Arthur, sudah jelas dari cara Tania mandang kamu dia punya perasaan lain sama kamu. Jangan sampai kamu menyesal ketika Jingga sudah benar-benar pergi ninggalin kamu"
Dimas langsung pergi ke ruangannya setelah mengatakan itu kepada Arthur, Arthur berpikir sejenak memikirkan ucapan Dimas yang cukup membuat hatinya terusik, apa mungkin Jingga juga berpikiran sama dengan Dimas sampai Jingga begitu marah kepada Arthur namun Arthur belum benar-benar yakin jika Tania mempunyai perasaan lebih terhadapnya dan berniat untuk mengacaukan hubungan Arthur dengan Jingga.
Urusan Tania biar nanti Arthur cari tahu sendiri sekarang yang lebih penting adalah meminta maaf kepada Jingga, Arthur bergegas menuju rumah Jemi karena takut Jingga benar-benar pergi meninggalkannya namun sebelum benar-benar meninggalkan kantornya Arthur melihat seorang OB kekuar dari ruangannya membawa kantong sampah yang cukup besar seketika Arthur mengernyitkan keningnya melihat kantung sampah besar itu karena seingatnya di dalam ruangannya tidak begitu banyak sampah
"cup sini sebentar" titah Arthur kepada ucup sang OB
"ada apa pak bos?" tanya ucup
"itu kamu bawa sampah dari mana? Banyak banget perasaan di ruangan saya sampahnya tidak sebanyak itu" tanya Arthur balik sedikit curiga
"oh ini, saya juga tidak tahu apa pak tapi saya temuin ini di bawah meja mbak Jingga kayaknya kotak makanan pak isinya juga masih penuh tapi dari aromanya seperti sudah basi, kalau bapak gak percaya boleh cek sendiri" jawab Arthur menyodorkan kantung sampah itu ke arah Arthur
Dengan terpaksa ucup mengeluarkan kotak makanan yang sudah beraroma tidak sedap itu ke hadapan Arthur dan benar saja ada 4 kotak makanan yang sudah basi dan isinya masih penuh seperti tak pernah tersentuh sama sekali, seketika rasa bersalah menyeruak ke dalam hati Arthur karena sudah membuat Jingga sangat kecewa keadanya.
Arthur memandang kotak makanan itu dengan tatapan nanar membayangkan betapa kecewanya Jingga ketika hasil masakannya seakan tidak di hargai olehnya, Arthur yang meminta untuk di buatkan bekal tapi dia sendiri yang memilih makan siang dengan wanita lain
"maaf sayang" lirih Arthur
"pak kotak makannya harus saya apakan?" tanya ucup membuyarkan lamunan Arthur
"buang saja lagian sudah tidak bisa di makan juga" jawab Arthur dengan berat hati
"baiklah, saya permisi ke belakang pak" pamit ucup
__ADS_1
"ya"
Niat awalnya ingin segera menemui Jingga namun Arthur malah merenung, meratapi kebodohannya sendiri yang sudah bersikap sangat keterlaluan kepada Jingga.
Jingga memang tak pernah menunjukan jika dirinya kecewa terhadap Arthur namun seharusnya Arthur yang peka karena sejatinya tidak ada seorang wanita yang rela melihat kekasihnya pergi bersama wanita lain
Sementa di rumah Jemi saat ini sedang kedatangan tamu yang sudah beberapa bulan terakhir ini menghilang tanpa kabar,
Jingga tertegun melihat pria yang kini ada di hadapannya begitu berbeda dari saat terakhir kali mereka berjumpa, tubuh yang terlihat lebih kurus serta wajahnya yang di tumbuhi bulu-bulu halus beserta kumis yang terasa asing di penglihatan Jingga
"Mas Tama" lirih Jingga
"hai Ji, apa kabar?" sapa Tama mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Jingga
"a...aku baik mas, kamu baik-baik saja? Badan kamu terlihat lebih kurus" tanya Jingga dengan suara serak seperti menahan tangis
"really?" ucap Tama terkekeh
"mas baik-baik saja mungkin karena terlalu semangat bekerja jadi tidak terlalu mementingkan penampilan" lanjut Tama dengan senyuman khasnya
Jingga menatap lekat Tama, entah kenapa hatinya merasa pilu melihat penampilan Tama yang begitu berantakan tidak seperti Tama saat masih bersamanya dulu, yang selalu terlihat tampan, gagah dan berkarisma.
Apa kehidupan Tama sekarang tidak lebih baik? Seharusnya Tama sudah bahagia dengan Laras namun kenapa Tama terlihat seperti hidup tertekan dan tidak bahagia???
itulah yang ada di pikiran Jingga saat ini
"jangan menatap mas seperti itu, mas tahu sekarang mas jelek kan? Berantakan seperti tidak terurus" celetuk Tama membuat Jingga merasa bersalah
"eehh... Bukan gitu maksud aku mas, aku hanya pangling saja melihat penampilan kamu sekarang" sahut Jingga sedikit tergagap
"sengaja agar kamu semakin membenciku Ji" ucap Tama membuat hati Jingga mencelos
__ADS_1
"aku sama sekali tidak membencimu mas, yang lalu biarkan saja berlalu jangan di bahas lagi" tekan Jingga
"mas rindu kamu dan Sabia, sangat Rindu" ucap Tama dengan mata yang sudah berkaca-kaca