
"sini biar sabia aku yang gendong, kamu selesaikan saja urusan kamu dengannya" arthur mengulurkan tangannya untuk mengambil alih sabia dari gendongan jingga
"wahhh romantis sekali, baru kali ini aku melihat orang berselingkuh terang-terangan seperti ini" sarkas tama sambil bertepuk tangan
"aku gak nyangka kamu semurahann ini jingga, aku kira selama ini kamu wanita terhormat yang bisa menjaga kehormatan dan nama baik kamu yang masih berstatus sebagai seorang istri" lanjut tama membuat jingga mengepalkan kedua tangannya
"gak bisa dapat kepuasan dari suami kamu, lalu kamu mencari pelampiasan bersama pria lain di luar rumah? hebat ternyata ini alasan kamu cepat-cepat meninggalkan rumah kita karena ingin bebas bertemu dengan selingkuhan kamu iya?" bentak tama dengan mata yang menyorot tajam
Plak
plak
dua kali tamparan jingga layangkan di pipi tama, jingga sudah tidak tahan lagi mendengar setiap ocehan yang keluar dari mulut tama yang justru malah menyudutkan dirinya seolah-olah dirinya yang berselingkuh dan mengkhianati tama padahal sudah jelas-jelas disini tama lah yang berselingkuh
"jaga bicara kamu tama, jangan memutar balikan fakta. aku bukan wanita gila yang membawa anakku sendiri untuk berselingkuh dengan pria lain" sentak jingga
"jangan berkilah jingga, mana ada seorang maling yang mengaku dirinya maling" sahut tama mencengkram lengan jingga sangat erat
"aku bukan kamu tama, baru melihat aku pulang di antar pria lain saja kamu sudah belingsatan apalagi aku yang diam-diam kamu jadikan istri kedua hah? siapa yang mengkhianati siapa?" teriak jingga sudah tidak mampu lagi menahan emosinya
"tujuh tahun aku di bodoh-bodohi, selama tujuh tahun aku berbagi suami dengan wanita lain tanpa aku ketahui, kamu pikir aku ini apa? apa tidak ada lagi luka yang bisa kamu berikan lebih sakit dari pada ini? dan sekarang tiba-tiba kamu menuduh aku yang berselingkuh hanya karena aku di antar pulang oleh pria lain hah? lalu aku harus menyebut kamu apa?" teriak jingga sampai membuat jemi dan maya yang sedang berada di dalam rumah mendengarnya
arthur yang tidak tega melihat tangan jingga di cengkram begitu kuat oleh tama sampai jingga meringis menahan sakit, membaringkan sabia yang masih tertidur ke dalam jok mobil.
"lepaskan, bicara ya hanya mulut yang berbicara saja jangan tangan pun kamu ajak untuk bicara" ucap arthur melepaskan cengkraman tangan tama dari lengan jingga
"jangan ikut campur, ini urusan rumah tanggaku dengan jingga" sahut tama menatap arthur tajam
__ADS_1
"akan jadi urusanku kalau kamu berbuat kasar pada jingga" sarkas arthur tak mau kalah
"jingga siapamu? ada hubungan apa kamu dengan jingga hah? sampai membela jingga seperti ini, apa jangan-jangan benar kamu memang selingkuhan istriku?" tuduh tama membuat arthur naik pitam
"untuk saat ini aku memang bukan siapa-siapa jingga tapi aku pastikan jika kalian sudah resmi bercerai aku akan menjadikan jingga satu-satunya istriku tidak seperti kamu yang tidak tahu diri ingin memiliki dua istri"
"brengsekk, tahu apa kamu tentang rumah tanggaku dan jingga hah? jangan mimpi kamu akan menikahi jingga, selagi aku masih hidup tak akan pernah aku melepaskan jingga apalagi untuk pria sepertimu" ucap tama mencengkram sweater arthur begitu erat
"kita buktikan saja, apa jingga masih mau bertahan dengan pria yang tidak akan pernah bisa setia sepertimu"
*bugh
bugh
bugh*
"ini pukulan untuk membalas rasa sakit yang sudah kamu berikan untuk jingga, selama ini mungkin jingga bisa sabar menghadapi semua yang sudah kamu lakukan terhadapnya tapi tidak dengan aku, segala sesuatu yang berhubungan dengan jingga mulai saat ini akan menjadi urusanku apalagi kalau sampai jingga terluka aku pastikan kamu akan mendapatkan balasan lebih dari itu" ucap arthur sambil memukul wajah tama begitu kencang sampai tama tersungkur mencium aspal
"BERHENTI.... apa-apaan kalian hah?" teriak jemi yang baru saja keluar dari rumah bersama maya
"jingga ada apa ini? kenapa sampai berkelahi di pinggir jalan seperti ini?" tanya jemi melihat jingga yang sedang memeluk sabia karena takut terbangun
"sayang bawa sabia ke dalam" titah jemi kepada maya
"tama tiba-tiba menyerang arthur kak, dia mengira aku berselingkuh dengan arthur padahal arthur hanya mengantarku pulang karena ban mobilku pecah di rumah hana" jingga menjelaskan kejadian yang sebenarnya
"tapi dia terang-terangan mau merebut jingga dariku kak, padahal aku dan jingga belum tentu bercerai tapi jingga sudah berani pergi bersama pria lain di belakangku" tunjuk tama kepada arthur seolah dialah yang menjadi korban disini
__ADS_1
"ar lebih baik kamu pulang dulu sekarang biarkan jingga menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu dengan suaminya, kakak tidak ingin kamu terseret dalam masalah mereka" titah jemi kepada arthur tanpa memperdulikan ocehan tama
"baiklah lah kak, maaf aku sudah ikut campur. aku pulang ji" pamit arthur kepada jingga dan jemi
"ya hati-hati ar" sahut jingga merasa tidak enak karena arthur rela babak belur demi membela dirinya
tama cemburu melihat jingga yang perhatian kepada arthur bahkan sudah sangat lama tama tidak pernah di perhatikan seperti itu oleh jingga.
selama ini tama memang belum mengetahui arthur sebagai mantan kekasih jingga yang jingga tinggalkan demi menikah dengannya. tama hanya tahu jingga memiliki mantan kekasih yang sangat jingga cintai sebelum menikah dengannya
"bicarakan masalah kalian di dalam" titah jemi menatap jingga dan tama bergantian
"baik kak"
jingga dan tama berjalan mengekori jemi yang sudah berjalan terlebih dahulu , tama meringis sambil memegangi sudut bibirnya yang terluka akibat pukulan arthur.
jingga melirik tama yang sedang meringis kesakitan namun jingga tidak ada niat sedikitpun untuk membantu mengobati luka yang ada di wajah tama, jingga tidak mau sampai tama besar kepala karena jingga kembali memberikan perhatian kepadanya
"kenapa kamu dan arthur bisa berkelahi seperti itu tama? bagaimana kalau tetangga ada yang lihat pasti akan menimbulkan salah paham" tanya jemi kepada tama
"kakak mengenal pria itu?" bukannya menjawab pertanyaan jemi, tama malah bertanya balik kepada jemi
"kenal, jawab pertanyaan kakak tama" tekan jemi
"aku tidak suka melihat jingga di antar pulang oleh pria lain, aku cemburu kak. aku juga tidak terima jika jingga mendekatkan sabia dengan dia mau bagaimanapun kondisinya aku tetap ayah kandung sabia, aku tidak rela jika ada pria lain yang lebih dekat dengan anakku kecuali kak jem dan ayah" jawab tama
"tapi kamu bisakan bicara baik-baik tanpa menggunakan kekerasan, untung saja sabia tidur kalau sabia sampai melihat kelakuan kalian, apa yang akan kalian jelaskan padanya?"
__ADS_1
"maaf kak, aku terlanjur emosi"