
sampai saat ini Laras belum mengetahui jika Tama dan Jingga sedang dalam proses perceraian, Tama sengaja menutup rapat kabar ini kepada Laras karena Tama tahu kalau Laras sangat menunggu perpisahan antara dirinya dan Jingga, Tama tidak ingin membuat Laras besar kepala dan merasa Laras menang karena sudah berhasil menghancurkan pernikahan Tama dengan Jingga lagipula Tama sangat yakin jika pernikahannya dengan Jingga masih bisa untuk di selamatkan
saat ini Tama sudah sampai di kediaman ayah Salim untuk membicarakan hasil sidang mediasi pagi tadi yang entah sengaja atau tidak jingga tidak menghadirinya, Tama memencet bel dan menunggu cukup lama karena rumah dalam keadaan sangat sepi
Ting nong
Ting nong
"kenapa lama sekali" gerutu Tama karena pintu rumah tak kunjung di buka
ceklek
pintu rumah pun terbuka memperlihatkan wajah bibi yang terlihat cemas
"bi kenapa lama sekali membuka pintunya?" tanya Tama
"maaf den tadi bibi sedang di belakang tidak dengar suara bel berbunyi" jawab bibi
"ayah Salim ada? kenapa wajah terlihat cemas?" tanya Tama lagi
"Tuan ada tapi saat ini tuan sedang tidak sehat den, tadi pagi sempat mengeluh pusing dan sesak sekarang sedang istirahat" jawab bibi
"boleh saya melihatnya?"
"masuk saja den, tuan ada di kamar"
Tama berjalan menuju kamar ayah Salim, perlahan Tama membuka pintu kamar ayah Salim. Tama melihat ayah Salim yang sedang terbaring di atas tempat tidur namun matanya masih terjaga, ayah Salim menengok ke arah pintu ketika Tama membuka pintu kamarnya
"ayah" seru Tama berjalan mendekat ke arah ayah Salim
"ayah sakit?" tanya Tama sambil menyalami ayah Salim
__ADS_1
"ayah hanya sedang tidak enak badan saja, ada apa Tama? tidak mungkin kamu datang kalau tidak ada sesuatu yang penting kan?" selidik ayah Salim yang sudah bisa menebak dengan kedatangan Tama
"hari ini aku baru saja melakukan sidang mediasi yah tapi jingga tidak menghadirinya, entah sengaja atau tidak karena sampai saat ini nomor ponsel jingga sama sekali tidak bisa di hubungi" ucap Tama dengan wajah sendunya
"Jingga memang sangat keras kepala tidak ada seorang pun yang bisa membujuknya apalagi kamu sudah membuatnya kecewa dan terluka begitu dalam Tama, ayah juga sudah kehilangan cara untuk membujuk Jingga agar membatalkan perceraian kalian" sahut ayah Salim putus asa
"tapi aku tidak mau berpisah dengan Jingga ayah, apalagi sekarang ada pria yang terang-terangan mau merebut jingga dariku, aku tidak akan pernah rela jika Jingga di dekati pria lain"
"pria? siapa dia?"
"bos nya di kantor tempat Jingga bekerja ayah"
Ayah Salim terdiam mendengar ucapan Tama, sudah pasti Arthur lah pria yang di maksud oleh Tama namun ayah Salim pura-pura tidak mengetahuinya, ternyata dengan membuat Jingga menikah dengan Tama tak lantas membuat Arthur menyerah untuk mendapatkan jingga bahkan sudah bertahun-tahun lamanya pun Arthur masih setia menunggu Jingga, Arthur memang terlihat sangat mencintai Jingga bahkan sampai Jingga berstatus sebagai istri orang pun Arthur masih setia menunggu Jingga menjadi seorang janda
"sia-sia dulu aku memisahkan Jingga dengan Arthur jika akhirnya mereka akan kembali bersama" batin ayah Salim
"ayah kenapa kok malah melamun?" tanya Tama
"tidak, ayah hanya penasaran dengan pria yang kamu ucapkan tadi" kilah ayah Salim
"nanti biar ayah pikirkan sekarang lebih baik kamu pulang saja dulu, ayah mau istirahat kondisi tubuh ayah belum benar-benar stabil"
"baiklah aku pulang dulu, maaf sudah mengganggu waktu istirahat ayah. lekas sembuh ya yah aku permisi"
"iya hati-hati"
setelah kepergian Tama dari rumahnya ayah Salim berusaha untuk menghubungi Jingga meskipun ayah Salim tidak yakin jika Jingga mau menjawab panggilan telfon darinya namun ayah Salim tak ingin menyerah, ayah Salim terus menghubungi Jingga sampai berpuluh-puluh kali namun tetap saja sekalipun Jingga tak menjawab panggilan telfon dari ayah Salim
ayah Salim menghela nafas kasar ternyata Jingga masih sangat kecewa kepadanya bahkan sekedar untuk menjawab panggilan telefon darinya Jingga tidak mau melakukannya
sedangkan di tempat lain Jingga sedang termenung menatap layar ponselnya yang terus berdering, setiap kali mengingat Ayah Salim hatinya terasa sangat sakit, entah sampai kapan rasa kecewa terhadap ayah kandungnya itu akan hilang. sebenarnya jauh di lubuk hati Jingga yang paling dalam, Jingga tidak mau berada dalam posisi seperti ini mau bagaimanapun juga ayah Salim tetaplah ayah kandungnya namun kebohongan yang sudah di ciptakan ayah Salim dan Tama sangat membuat Jingga terluka, butuh waktu untuk Jingga bisa menerima semuanya
__ADS_1
"Ji kenapa belum siap-siap untuk pulang?" tanya Arthur membuyarkan lamunan Jingga
"ini baru mau siap-siap pak" jawab Jingga yang kembali berkata formal dengan Arthur
"kamu pulang sendiri?" tanya Arthur lagi
"iya tapi aku mau mampir ke rumah Hana dulu, ada sesuatu yang mau dibahas dengan suaminya" jawab Jingga apa adanya
"apa perlu aku temani" tawar Arthur
"tidak usah ar, aku tidak ingin membuat masalahku semakin rumit kamu tahu sendiri kan saat ini statusku seperti apa?" sahut Jingga tidak mau terus melibatkan Arthur dalam masalah rumah tangganya
"baiklah aku mengerti, tapi kalau kamu butuh sesuatu jangan sungkan-sungkan buat hubungin aku ya"
"iya, ya sudah aku duluan ya Hana pasti sudah menungguku" pamit Jingga
"iya , hati-hati"
Jingga berjalan menuju parkiran benar saja di sana sudah berdiri menunggunya, sejak mengetahui jika Hana tengah mengandung Regan tidak mengijinkan Hana untuk menyetir sendiri.
Regan selalu menyempatkan waktu untuk mengantar jemput Hana ketika Hana bekerja namun hari ini berhubungan Jingga akan mampir ke rumahnya Regan sengaja tidak menjemput Hana dan membiarkan pulang dengan Jingga
"maaf lama na, barusan pak bos ngajak ngobrol dulu" ucap Jingga sambil membuka kunci mobilnya
"aduh pak bos kita semakin terang-terangan ya buat balikan sama kamu" ledek Hana membuat Jingga mengerucutkan bibirnya
"jangan di bahas terus Na, aku suka malu sendiri kalau membahas tentang Arthur" sahut Jingga
"kenapa harus malu? memang kenyataan Arthur masih mengharapkan kalian untuk kembali kan Ji? Arthur juga sudah terang-terangan mengakui perasaannya sama kamu" ucap Hana
"iya tapi dengan posisiku yang masih berstatus sebagai istri orang rasanya tidak pantas mendapat pernyataan cinta dari pria lain" keluh Jingga
__ADS_1
"mungkin Arthur takut keduluan sama pria lain makanya dia sengaja menyatakan perasaannya agar kamu tidak tertarik kepada pria lain setelah pisah dari Tama" tebak Hana terkekeh
"ada-ada saja kamu na, aku cukup sadar diri lah mana pantas aku bersanding dengan Arthur dengan status yang sebagai calon janda beranak satu" sahut Jingga tertawa miris