
Laras yang kebetulan baru saja selesai makan siang dengan teman arisannya tidak sengaja melihat kebersamaan Jingga, Arthur, Jemi, Hana dan Dimas.
Mereka semua terlihat tertawa lepas karena saling melempar canda satu sama lain, terlihat sangat bahagia dan tanpa beban. Namun pemandangan itu justru membuat Laras tidak suka bagaimana bisa Jingga masih bisa tertawa disaat Jingga baru berpisah dengan Tama seharusnya saat ini Jingga terpuruk, menangis dan meratapI nasibnya yang sudah menjadi seorang janda namun pada kenyataannya semua yang di pikirkan Laras salah besar bahkan sedikitpun Jingga tidak memperlihatkan raut wajah kesedihan.
Laras semakin merasa iri dengan kehidupan Jingga yang masih saja di kelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya berbeda dengan dirinya yang hidup sebatang kara bahkan untuk berjuang demi kehidupannya sendiri pun Laras harus menipu Tama agar kehidupannya dapat terjamin dan jauh dari kata kesusahan, sebentar saja Laras ingin merasakan bagaimana rasanya berada di posisi Jingga yang hidup penuh dengan kemewahan sejak kecil dan dikelilingi oleh orang-orang yang tulus menyayanginya tidak seperti dirinya yang selalu di tinggalkan oleh orang-orang yang dia sayangi termasuk kedua orang tuanya.
Awalnya Laras sama sekali tidak pernah merasa iri dengan kehidupan siapapun termasuk Jingga namun setelah insiden dimana Tama menerima perjodohannya dengan Jingga timbulah rasa iri di hati Laras, setelah kepergian kedua orang tuanya hanya Tama yang Laras punya sebagai sandaran hidupnya namun semuanya berubah ketika Tama bertemu dengan Jingga, Laras merasa semuanya tidak adil Jingga yang sudah mendapat kehidupan yang sempurna kenapa harus menghancurkan kehidupannya yang jauh dari kata bahagia. Jingga memang tidak bersalah dalam masalah ini namun karena kehadiran Jingga di antara Tana dan Laras membuat kehidupan Laras kembali menderita
"Akan aku pastikan kebahagiaan kamu tidak akan bertahan lebih lama lagi Jingga, kamu harus merasakan lebih sakit dari apa yang sudah aku rasakan" gumam Laras sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat
Pukul 13:30
Jingga, Arthur, Dimas dan Hana sudah kembali ke kantor begitupun dengan Jemi dan asistennya. Mereka semua akan kembali dengan pekerjaan mereka yang tidak pernah ada habisnya.
Laras pun sudah menghilang entah kemana saat Jingga beserta sahabat-sahabatnya akan kembali ke kantor
"kayaknya Arthur mulai terang-terang deketin kamu Ji" ucap Hana ketika mereka sudah kembali ke kantor
"Entahlah, pagi ini Arthur juga aneh banget, tiba-tiba ngasih aku coklat sama bunga persis kayak waktu kita pacaran dulu" sahut Jingga
"Terus kamu terima?" Tanya Hana
__ADS_1
"Ya coklat sama bunga nya aku terima orang dia maksa" jawab Jingga jujur
"tapi suka kan di romantisin gitu sama sang mantan" goda Hana membuat Jingga merona
"Apa sih Na, aku bukan gadis remaja lagi sepertu dulu yang bisa luluh cuma di kasih coklat sama bunga" elak Jingga membuat Hana semakin tertawa gemas
"Gak suka tapi kok mukanya merona gitu? Jujur aja kalau kamu juga seneng kan Arthur kembali kayak dulu? Gak ada salahnya kamu coba buka hati kamu lagi buat dia Ji" saran Hana
"Tapi apa harus secepat ini? aku sama mas Tama aja cerai belum genap satu bulan masa iya mau mulai menjalin hubungan lagi dengan Arthur apa kata orang-orang"
"Kalau sama-sama cinta kenapa engga? Toh kamu sekarang single, bebas kan mau deket sama siapa aja"
"Iya, awas jangan senyum-senyum sendiri nanti di kira sakit jiwa" ledek Hana
"Sembarangan kamu" Jingga mencebik kemudian berjalan menuju ruangannya
Sedangkan Jemi yang sudah sampai di kantor dikagetkan karena kehadiran ayah Salim yang tiba-tiba duduk di kursi ruangannya, ayah Salim menatap Jemi dengan tatapan yang sulit di artikan namun mau bagaimanapun itu Jemi berusaha untuj menghormati ayah Salim sebagai orang tuanya apalagi perusahaan ini adalah perusahaan yang sudah di bangun oleh ayah Salim dari nol sampai menjadi sebesar dan sesukses sekarang
"Ayah sudah lama disini?" Tanya Jemi mendekat ke arah ayah Salim dan mencium punggung tangan ayah Salim
"Satu jam yang lalu" jawab ayah Salim
__ADS_1
"Apa ada masalah?" Tanya Jemi lagi
"Kenapa kamu menyetujui kerjasama dengan perusahaan milik keluarga Pradipta tanpa bicara dulu dengan ayah Jem?" Tanya ayah Salim dengan nada tidak suka
"Maaf tapi setelah aku baca semua proposal yang di ajukan oleh Arthur semuanya bagus, bahkan proyek yang akan kita tangani ini bukan proyek kecil ayah, ini kesempatan langka" jawab Jemi apa adanya
"Tapi seharusnya kamu bicara dulu dengan ayah jangan sembarangan mengambil keputusan, kamu lupa siapa pemilik perusahaan ini hah?" Sentak ayah Salim membuat Jemi tersinggung
"Aku tidak akan pernah lupa siapa pemilik perusahaan ini lagipula aku tidak mempunyai rencana untuk mengambil alih perusahaan ini, kalau saja ayah tidak memaksaku untuk mengelola perusahaan milik ayah ini aku tidak akan mau, aku masih bisa berdiri di atas kakiku sendiri dan satu lagi jika memang kerja sama perusahaan ayah dan perusahan milik keluarga Pradipta merugikan perusahaan ayah batalkan saja, mungkin aku kurang berkompeten untuk jadi seorang pemimpin" sahut Jemi membuat ayah Salim merasa bersalah
"Ayah bukan meragukan kemampuan kamu Jem tapi kamu tahu sendiri ayah tidak suka dengan Arthur, dia terus saja mendekati Jingga bahkan saat Jingga masih bersama Tama pun dengan tidak tahun malunya dia mau merebut Jingga dari Tama" ucap ayah Salim membuat Jemi menggeleng-gelengkan kepalanya
"Kalau aku jadi Arthur, aku juga akan melakukan hal yang sama tapi satu hal yang ayah lupa, jangan sesekali mencampur adukkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan apalagi alasan ayah tidak masuk akal, setahuku selama ini Arthur baik-baik saja, dia tidak pernah menyakiti Jingga, dia tidak pernah melakukan hal kriminal atau berurusan dengan hukum" sahut Jemi yang sudah tidak tahan dengan sikap ayah Salim
"Tapi Jem, Arthur bukan pria yang baik buat Jingga" kekeuh ayah Salim
"Yang terbaik menurit versi ayah bukan berarti yang terbaik juga buat Jingga, jangan sampai ayah melakukan kesalahan yang sama dua kali kalau ayah tidak ingin hubungan ayah dan Jingga benar-benar seperti orang asing" nasehat Jemi kemudian pergi meninggalkan ruangannya
Jemi memutuskan untuk pulang karena berada satu ruangan dengan ayah Salim hanya memacu emosinya semakin meluap, mau bagaimanapun sikapnya ayah Salim tetaplah ayah kandungnya Jemi tidak ingin menjadi anak durhaka meskipun sikap ayah salim benar-benar menguji kesabarannya, entah terbuat dari apa hati dan otak ayah Salim sampai bisa sekeras batu yang sulit untuk di luluhkan sangat berbeda dengan sifat Jingga dan dirinya...
Jemi mengehembuskan nafasnya kemudian mulai melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan
__ADS_1