
jingga yang berniat untuk segera tidur mengurungkan niatnya ketika mendengar suara mobil tama yang memasuki halaman rumah mereka, jingga melihat jam yang menempel di dinding kamarnya baru menunjukan pukul 21:00
jingga mengernyitkan keningnya merasa aneh karena biasanya tama selalu pulang di atas pukul 22:00
jingga yang awalnya berbaring di atas ranjang kini tengah duduk sambil memainkan ponselnya tiba-tiba rasa ngantuknya hilang begitu saja
ceklek
pintu kamar terbuka memperlihatkan wajah lelah tama yang masuk ke dalam kamar sambil menenteng tas kerja dan jasnya yang sudah dia lepaskan dari tubuh tegapnya
tama tersenyum ketika melihat jingga yang masih terjaga, tama berpikir jika jingga sengaja menunggunya pulang untuk melanjutkan kegiatan mereka tadi pagi yang sempat tertunda
tama berjalan ke arah jingga dengan senyuman terbaiknya
"kenapa belum tidur hmm?" tanya tama mengecup kening jingga
"belum ngantuk" jawab jingga yang masih sibuk dengan ponselnya
"sibuk banget sih sampai aku pulang gak di lirik sama sekali" lanjut tama
"lagi balas pesan dari hana" sahut jingga
"udah makan belum? mas lapar sayang temenin mas makan yuk" ajak tama duduk menempel di samping jingga
jingga melirik tama sekilas terbayang saat tama meninggalkannya tadi pagi di saat jingga sedang panas-panasnya seketika rasa kesal menyeruak di dalam dadanya ketika melihat wajah tama yang tersenyum tanpa dosa apalagi mengingat tama yang tadi pagi keluar dari sebuah gedung apartemen membuat pikiran jingga semakin tidak karuan
"tumben mau makan di rumah" sinis jingga
"tadi mas gak sempet makan malam di kantor" elak tama
"aku gak masak" ucap jingga masih bernada ketus
__ADS_1
"mas makan seadanya gak apa-apa asal di temenin sama kamu" sahut tama membuat jingga memutar bola matanya malas
"ya sudah kamu mandi dulu sana aku panasin dulu makanannya" titah jingga kemudian beranjak dari tempat tidur
selesai membersihkan dirinya tama langsung menyusul jingga yang sedang menyiapkan makan malam untuknya
jingga yang memang selalu mengenakan baju tidur super seksi membuat birahii tama seketika memanas otaknya terus meminta tama untuk melakukan sesuatu yang membuat keduanya melayang penuh kenikmatan, perlahan tama berjalan menghampiri jingga yang masih menyiapkan makanan untuk sang suami jika berhubungan dengan jingga tama tidak bisa menahan dirinya lagi apalagi jingga mengenakan baju tidur yang super seksi dan sangat menerawang membuat tama semakin tidak sabar untuk menjamahh setiap lekuk tubuh seksi jingga
"kamu seksi banget sayang" bisik tama memeluk jingga dari belakang
"bikin kaget aja kamu mas, ayok makan dulu katanya laper" jingga memukul pelan tangan tama yang melingkar erat di pinggang rampingnya
"mas mau makan kamu boleh" tama membalikan tubuh jingga agar menghadap ke arahnya
"makan dulu aku udah siapin" titah jingga
"suapin ya?" pinta tama manja
"kangen di manja sama kamu sayang, oh ya bia udah tidur?" tanya balik tama
"udah dari tadi mas, ya udah duduk sini aku suapin" jingga menyuruh tama untuk duduk di sampingnya namun tama malah menarik pinggang jingga untuk duduk di pangkuannya
tama sangat menikmati setiap suapan yang di berikan oleh jingga, senyum tama terus menyungging melihat jingga yang tidak menolak keinginan tama yang ingin bermanja-manja kepadanya, jingga memang masih merasa kesal dengan tama karena kejadian tadi pagi namun jingga tidak dapat memungkiri perasaannya sendiri jika dirinya sangat merindukan momen seperti ini dengan sang suami sejenak jingga melupakan kekesalannya dan bersikap layaknya pasangan suami istri yang harmonis
"mas aku mau tanya sesuatu" ucap jingga saat tama sudah menyelesaikan makan malamnya
"tanya apa?" tanya tama menatap lekat wajah jingga yang semakin hari terlihat semakin cantik di matanya
"tari pagi aku melihat mas keluar dari gedung apartemen yang cukup mewah, mas bertemu siapa?" tanya jingga to the point
"ke...ketemu klien sayang" jawab tama sedikit gugup
__ADS_1
"klien? di apartemen? sepagi itu?" tanya jingga lagi semakin memicingkan matanya
"ii..iya klien mas sedang kurang sehat makanya mas yang samperin dia ke apartemennya" lagi-lagi tama menjawab dengan gugup membuat jingga semakin curiga
"gak mungkin kan seorang pengusaha tidak memiliki asisten pribadi atau sekretaris untuk membantunya apalagi dalam keadaan sakit tidak perlu klien mas yang harus turun tangan kan?" tanya jingga semakin membuat tama kehabisan kata-kata untuk menjawab
"mas bohong sama aku?" tanya jingga lagi karena tama tidak lagi menjawab pertanyaannya
jingga memang wanita yang sangat kritis jika memang ada sesuatu yang menganggu pikirannya jingga akan mencari tahu sampai ke akar-akarnya namun saat ini jawaban tama tidak membuat jingga percaya dan membuat kekesalan jingga semakin bertambah, jingga bangkit dari pangkuan tama dan berjalan menuju kamarnya tanpa memperdulikan teriakan tama yang berulang kali memanggil dirinya
pikiran buruk kembali terlintas dalam benak jingga membuat dada jingga terasa begitu sesak
"sayang mas bisa jelaskan, mas gak macam-macam mas benar-benar menemui klien mas di apartemen itu" ucap tama yang sudah berada di kamar dan mencoba menjelaskan kepada jingga
"aku ngantuk mau tidur" jingga sudah lelah dengan semua alasan tama dan saat ini jingga benar-benar merasa tama sedang menyembunyikna sesuatu darinya
"kamu gak marah sama mas kan sayang" tama menyentuh pipi jingga namun dengan kasar jingga menepisnya
"sayang" seru tama karena jingga sama sekali tidak mau di sentuh olehnya
"mas pernah dengar pepatah kan kalau perasaan seorang istri itu tidak akan pernah salah dan sekarang yang aku rasakan mas sedang menyembunyikan sesuatu dariku, aku butuh kejujuran bukan hanya penjelasan omong kosong" tegas jingga dengan sorot mata yang begitu tajam
"ji tolong percaya sama mas, mas sangat mencintai kamu tidak mungkin mas macam-macam di belakang kamu" elak tama berusaha membuat jingga percaya
"sudahlah aku capek terus berdebat sama kamu mas, lakukan saja apa yang mau kamu lakukan aku lelah" putus jingga lalu kembali berbaring dan memunggungi tama yang menatapnya penuh dengan rasa bersalah
"kalau memang kamu tetap tidak mau jujur biar aku yang akan cari tahu sendiri tama, sekalipun aku harus kecewa tapi itu lebih baik dari pada harus terus hidup dengan penuh kebohongan seperti ini" batin jingga mencoba untuk memejamkan matanya
"maafkan mas jingga, mas belum berani untuk berkata jujur mas sangat takut kehilangan kamu dan sabia jika kamu tahu yang sebenarnya mas sangat mencintai kamu dan sabia melebihi apapun" batin tama menatap jingga penuh rasa bersalah dan penyesalan
cup
__ADS_1
"selamat tidur sayang, mimpi indah" ucap tama setelah mengecup pucuk kepala jingga penuh kasih sayang