
jingga dan dimas asik berbincang membicarakan masa lalu mereka yang cukup lucu membuat keduanya tertawa mengenang masa-masa sekolah dulu tanpa di sadari keduanya dari sebrang jalan arthur memperhatikan interaksi keduanya dengan tatajam tajamnya, rasanya arthur tidak rela melihat jingga bisa tertawa lepas dengan pria lain meskipun itu sahabatnya sendiri hanya arthur satu-satunya alasan agar jingga bisa tertawa meskipun keadaan mereka sekarang berbeda tapi perasaan arthur kepada jingga tidak pernah pudar sedikitpun bahkan arthur tidak segan-segan akan merebut jingga dari tama jika tama sampai melukai hati jingga
"dimas prasetyo" teriak arthur menggema membuat jingga dan dimas menoleh bersamaan
"arthur" gumam jingga tak percaya sang mantan kekasihnya ada di hadapannya saat ini setelah sekian purnama keduanya tidak saling bertemu
"apa sih ar teriak-teriak begitu, berisik" protes dimas berjalan menghampiri arthur
"balik ke kantor sekarang" titah arthur dengan nada tegas
"kamu gak mau nyapa mantan terindah kamu dulu hm" goda dimas
"dia bukan mantanku" arthur berdecih meninggalkan dimas yang masih melongo tidak percaya dengan ucapan sahabat sekaligus bosnya itu
"ji aku duluan ya, kapan-kapan kita ngobrol lagi" pamit dimas sedikit berteriak karena jaraknya dengan jingga agak jauh
"see you dim, hati-hati" balas jingga menatap kepergian arthur dan dimas dengan perasaan yang entah
"kenapa jantungku masih berdebar saat bertemu dengannya" gumam jingga memegangi dadanya yang bergetar hebat sejak melihat kehadiran arthur
jingga menepis perasaannya yang masih selalu salah tingkah jika bertemu dengan arthur padahal hubungan di antara keduanya sudah berakhir sejak lama, jika masuk ke dalam mobil dan bergegas pulang karena sudah meninggalkan sabia terlalu lama khawatir jika putri semata wayangnya akan menangis mencari dirinya
sementara itu arthur yang sudah duduk di balik kemudi mobilnya memandang lurus ke depan dengan tatapan kosongnya, arthur tidak menyangka tiba-tiba bertemu dengan jingga tanpa dia rencanakan, arthur mengusap wajahnya kasar mencoba mengendalikan perasaannya yang semakin menggila melihat sosok sang mantan kekasih yang sampai saat ini masih sangat dia cintai
"kamu semantik cantik ji" gumam arthur
__ADS_1
"siapa yang cantik ar? jingga ya?" goda dimas yang tiba-tiba masuk mobil dan duduk di samping kemudi
"ngapain aja sih? lama banget" tanya arthur ketus sengaja mengalihkan pertanyaan dimas
"pamit dulu lah sama jingga gak enak kan kalau pergi gitu aja, lagian kamu kenapa sih pergi gitu aja pake bilang jingga bukan mantan kamu lagi, bisa sakit hati dia kalau denger kamu gak ngakuin dia sebagai mantan terindahnya" cerocos dimas panjang lebar
"berisik, memang jingga bukan mantanku tapi jingga calon isriku yang tertunda" sahut arthut percaya diri
"bilangnya calon istri tapi di cuekin malah pergi gitu aja, katanya udah nekad jadi pebinor tapi cuman ngeliat wajah jingga aja udah ketar ketir... cemen" pancing dimas sengaja membuat arthur emosi
"ngomong macam-macam lagi aku kirim kamu ke pedalaman papua, mau?" ancam arthur yang sukses membuat dimas tergelak
"emang kamu bisa kerja sendiri tanpa aku hah?" lagi-lagi dimas memancing emosi sang bos
"dimas sudah bosan hidup kamu hah?" teriak arthur geram
"jingga nangis?" ulang arthur
"sepertinya begitu, tapi gak tahu juga sih ayok cepetan jalan mikirnya nanti aja. pak damar udah nunggu di kantor" ajak dimas sambil mengenakan set beltnya
"ayah? ngapain ayah ke kantor?" tanya arthur
"mana aku tahu" dimas mengedikan bahunya acuh
arthur langsung melajukan mobilnya menuju perusahaan dia tidak ingin di ceramahi oleh sang ayah karena membuat ayahnya menunggu terlalu lama
__ADS_1
arthur pradipta adalah salah satu pengusaha muda sukses di kota surabaya, wajahnya yang tampan rupawan, badan tinggi tegap, rahang yang tegas dan memiliki kulit putih bersih seperti artis korea membuat semua wanita tidak dapat menolak pesona seorang arthut pradipta putra sulung dari seorang pengusaha damar pradipta, arthur memang sudah terlahir dari turunan konglomerat tidak jauh berbeda dengan jingga namun sampai saat ini di usianya yang hampir menginjak kepala tiga arthur masih betah mempertahankan status lajangnya meskipun tidak sedikit wanita cantik dan kaya berlomba-lomba untuk mendapatkan arthur namun tidak ada satupun wanita yang mampu menarik perhatiannya tentu saja alasannya karena jingga sang mantan kekasih yang sampai detik ini masih sangat arthur cintai dan parahnya arthur sampai nekad untuk menjadi seorang pebinor hanya demi seorang jingga maharani
"dari mana saja kalian? bukannya meeting selesai sejak satu jam yang lalu?" sentak ayah damar emosi
"kami sekalian makan siang ayah, ada apa ayah datang ke kantor?" tanya arthur to the point
"kamu tidak suka ayah datang ke kantor? mentang-mentang sudah jadi presdir kamu melarang ayah datang ke kantor hah?" lagi-lagi ayah damar berkata dengan nada membentak
"maksudnya bukan seperti itu, kalau ayah kasih kabar dulu kan aku dan dimas akan langsung kembali setelah meeting dan tidak akan membiarkan ayah menunggu lama" kilah arthur menyikut lengan dimas
"alasan saja, cepat masuk ke ruangan ada yang mau ayah bicarakan. kamu lanjut kerja saja dim saya mau bicara empat mata dengan anak saya" titah ayah damar dengan tegas
"baik pak saya permisi" pamit dimas kemudian pergi meninggalkan dua pria yang berbeda generasi itu
dengan langkah malas arthur mengekori sang ayah yang sudah masuk terlebih dahulu ke dalam ruangannya, arthur mendudukan bokoongnya di hadapan ayah damar yang sudah duduk di atas sofa ruangan itu
ayah damar masih menatap nyalang kepada putra sulungnya itu membuat arthur tidak mengerti kesalahan apa yang sudah dia perbuat sampai membuat ayahnya murka seperti itu
"kenapa kamu membatalkan pertemuan dengan tania? kamu sadar tidak sudah membuat ayah dan bunda malu karena kelakuan kamu ar" tanya ayah damar dengan nada suara yang mulai lembuti
"astaga.. jadi ayah datang kesini hanya untuk membicarakan soal tania? come on ayah ini bukan jaman siti nurbaya dan aku gak mau di jodoh-jodohlan seperti tidak laku saja" arthur mendengus kesal
"buktinya sampai sekarang kamu belum mengenalkan satupun wanita kepada ayah dan bunda sebagai calon istrimu? bertahun-tahun tinggal di amerika apa tidak ada satupun bule yang kamu kencani?" sinis ayah damar
"aku jauh-jauh ke amerika bukan untuk mencari wanita tapi untuk belajar, sudahlah ayah tidak perlu repot-repot mencarikan calon istri lagi nanti aku akan membawa calon istriku ke hadapan ayah dan bunda" tegas arthur percaya diri
__ADS_1
"kapan? usia kamu sudah tidak muda lagi arthur apa kamu mau di langkahi adik-adik kamu hah?"