
tok
tok
tok
"ji boleh mbak masuk?" seru maya dari balik pintu
"masuk saja mbak, pintunya gak di kunci" sahut jingga
ceklek
pintu kamarpun terbuka, maya masuk dengan membawa satu nampan sarapan untuk jingga beserta minumnya
"kamu belum sarapan kan? ini mbak bawakan nasi goreng buat kamu" ucap maya menyimpan nampan berisi makanan itu di atas nakas
"kenapa repot-repot mbak, kalau lapar aku bisa ambil sendiri ke bawah" sahut jingga merasa tidak enak karena merepotkan kakak iparnya
"tidak repot sama sekali, orang patah hati itu kalau tidak di paksa untuk makan tidak akan mau makan sendiri. ayo habiskan nasi gorengnya, mbak gak mau kamu sakit gara-gara patah hati" ucap mbak aya tersenyum jahil
"mbak jangan meledek" rengek jingga membuat maya tertawa
"ji jangan sungkan sama mbak, jangan pendam semuanya sendiri anggap mbak sebagai pengganti bunda meskipun ada mas jemi tapi tetap saja kamu pasti sosok seorang ibu untuk di jadikan tempat berkeluh kesah" ucap maya sambik menggenggam tangan jingga lembut
"makasih mbak, aku hanya tidak enak kalau terlalu merepotkan mbak dan kak jemi dengan keberadaan aku dan sabia disini. aku tidak ingin menambahn beban mbak dan kak jemi" sahut jingga menundukan kepalanya
"jangan bicara seperti itu, mbak sama mas jemi itu keluarga kamu, sudah seharusnya kami sebagai keluarga di repotkan oleh saudara sendiri. mbak sayang sama kamu dan sabia. jangan bicara seperti itu lagi ya" maya memeluk jingga yang mulai terisak
"ayok makan dulu nasi gorengnya, mbak mau lihat anak-anak dulu" lanjut maya menyimpan nasi goreng di atas pangkuan jingga
"iya mbak"
__ADS_1
maya keluar dari kamar jingga dan menutup kembali pintunya dengan rapat, maya kembali ke ruang makan untuk memastikan jemi dan anak-anak sudah selesai sarapan
saat menuruni anak tangga, maya terhenyak karena melihat jemi sedang berbicara dengan tama. tidak ingin terjadi keributan maya menghampiri jemi dan ikut bergabung di ruang tamu
"lho ada tama, kapan kesini?" sapa maya basa basi
"baru saja sampai mbak" sahut tama menyalami tangan maya
"aku kesini mau minta maaf sama kak jemi dan mbak maya atas semua yang terjadi, aku tahu kesalahan aku sangat fatal dan tidak bisa di maafkan tapi sungguh aku bisa kalau harus berpisah dengan jingga apalagi dengan sabia" ucap tama menyampaikan niat kedatangannya ke rumah jemi
"jadi kamu tetap ingin memiliki jingga dan wanita itu begitu? dan selamanya jingga akan tetap menjadi istri keduamu?" tanya jemi sinis
"bu...bukan begitu kak secepatnya aku akan segera menceraikan laras. aku benar-benar mencintai jingga. tolong kak bantu aku membujuk jingga agar membatalkan gugatan cerainya" mohon tama dengan tidak tahu malunya
"saya benar-benar kecewa sama kamu tama, saya kira selama ini kamu memang pria yang benar-benar setia tapi nyatanya kamu malah membuat jingga terluka sepertu ini" ucap jemi mengubah panggilannya menjadi lebih formal, terlihat sekali sorot mata kekecewaan dari mata jemi
"sebenarnya tangan saya sudah sangat gatal ingin menghajar kamu sampai babak belur bahkan sampai masuk rumah sakit namun sisi kewarasan saya masih berfungsi dengan baik. lagipula percuma saja jika saya membuat kamu babak belur tidak akan merubah rasa sakit jingga menjadi lebih baik.
buktikan kalau kamu memang sungguh-sungguh mencintai jingga dan selesaikan dulu masalah kamu dengan wanita itu tapi jika memang jingga sudah tidak mau kembali lagi sama kamu saya tidak bisa memaksanya, saya tidak ingin mencampuri urusan adik saya terlalu dalam, jingga berhak menentukan kebabahagiaannya sendiri" lanjut jemi sedangkan tama hanya diam
"bukan waktu yang tepat kalau kamu mau bertemu jingga sekarang, biarkan jingga menangkan hati dan pikirannya dulu. beli jingga ruang tama jangan terlalu memaksakan apapun kepadanya, jingga benar-benar rapuh saat ini" ucap jemi membuat tama tertunduk sedih
"papiiii...." teriak sabia sambil berlari membuat tama langsung menoleh ke arah sang putri
"jangan lari-lari sayang nanti kamu jatuh" protes tama dan membawa sabia ke dalam gendongannya
"bia kangen sama papi, papi kesini mau jemput bia dan mami kan?" tanya sabia dengan mengerjapkan matanya
"papi juga kangen sama bia, tapi papi masih ada kerjaan tidak apa-apa kan kalau bia nginep lagi disini sama mami?" jawab tama bohong
"kenapa papi sibuk kerja terus? mami sampai nangis kemarin, apa papi jahat lagi sama mami?" tanya bia polos
__ADS_1
"mami marah karena papi sibuk kerja terus sayang" jawab tama menekan rasa sesak di dalam dadanya mendengar ucapan sang putri
"tapi mami bilang papi mamu pergi jauh, papi mau ninggalin bia dan mami?"
"tidak sayang, papi gak akan kemana-mana. papi janji setelah pekerjaan papi selesai papi akan jemput bia dan mami disini. bia gak apa-apa kan nungguin papi dulu di sini?"
"papi jangan bohong"
"engga sayang"
jemi dan maya hanya saling pandang melihat percakapan antara tama dan sabia, sebenarnya jemi tidak sampai hati melihat kesedihan sabia jika benar-benar jingga dan tama berpisah namun jemi tidak akan memaksa jingga untuk mengubah keputusannya jika bukan jingga sendiri yang menginginkannya. mungkin benar saat ini jingga hanya butuh waktu untuk sendiri merenungkan semua keputusannya dan jika keputusan jingga memang sudah tidak bisa di ubah, jemi hanya akan mendukung asalkan jingga bahagia.
di lain tempat laras yang kini sedang ada janji bertemu dengan seseorang merasa sangat kesal karena apa yang sudah dia rencanakan ternyata tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan. dan saat ini laras sedang menunggu orang suruhannya untuk menyuruh orang itu melakukan rencana laras selanjutnya
"kenapa lama sekali sih?" bentak laras saat pria bertubuh tinggi besar dengan banyak tato di tubuhnya bari saja datang
"ada apa lagi bu laras? bukannya urusan kita sudah selesai" sahut pria itu dengan wajah sangarnya khas seorang preman pasar
"belum selesai jika dia masih hidup dan hidup bahagia di atas penderitaanku" tekan laras dengan suara menggebu-gebu menahan emosi
"apa yang ibu inginkan sekarang?" tanya pria itu lagi
"kamu harus bisa mencelakai dia lebih parah dari kemarin bahkan kalau bisa sampai mati pun aku tidak peduli" ucap laras yakin
"wowww, apa ibu yakin akan menjadi seorang pembunuh? kalau polisi sampai tahu akibatnya bisa fatal bu, saya memang seorang berandalan tapi saya bukan seorang pembunuh" sahut pria itu seolah menolak keinginan laras
"saya akan membayar kamu tiga kali lipat dari yang kemarin" ucap laras berharap pria itu akan tergiur dengan tawarannya
"maaf bu, ibu cari orang lain saja. saya permisi" tolak pria itu dan langsung meninggalkan laras
"cihhh sok suci sekali kamu, jadi gelandangan saja sombong masih untung kemarin saya membayar kamu meskipun pekerjaan kamu tidak membuat saya puas" teriak laras membuat pria itu menghentikan langkahnya
__ADS_1
"kalau ibu tidak puas dengan hasil kerja saya kenapa ibu masih meminta bantuan kepada saya? saya memang gelandangan tapi saya tidak licik seperti anda, saya punya uang untuk sekedar makan saja sudah untung jadi berhati-hatilah kalau berbicara jika tidak ingin jiwa berandalan saya benar-benar keluar" sahut pria itu lalu pergi meninggalkan laras
"brengsekkkk" umpat laras karena rencana yang dia buat tidak sesuai seperti apa yang dia inginkan