
"mas" gumam jingga saat melihat sosok suaminya yang sedang menatapnya penuh kerinduan
"kamu sakit sayang?" tanya tama menyentuh kening jingga yang masih terbaring di atas ranjang
"hanya sedikit pusing sekarang udah baikan, kamu kapan sampai?" tanya balik jingga
"baru saja langsung kesini mastiin keadaan kamu, yakin sekarang udah gak apa-apa hm? apa perlu di periksa ke dokter?" tawar tama
"gak usah mas, aku baik-baik aja" tolak jingga
"kita sarapan dulu yuk kata ayah kamu belum sempat sarapan tadi" ajak tama membantu jingga untuk bangun
"kamu udah ketemu bia belum?" tanya jingga lagi
"udah tadi di bawah, kuat jalan gak? perlu mas gendong?" tawar tama
"gak usah mas, aku cuci muka dulu"
jingga berjalan sambil memegangi kepalanya yang masih sedikit berdenyut
tama mengecek ponselnya sambil menunggu jingga selesai dari kamar mandi, tama menghela nafasnya ketika melihat banyak sekali pesan dan panggilan dari laras yang sengaja dia abaikan. tama benar-benar sudah muak dengan tingkah laras yang seperti anak kecil dan semakin posesif tidak jelas kepadanya. tama memilih memblokir sementara nomor laras karena tidak ingin membuat jingga curiga
ceklek...
pintu kamar mandi pun terbuka terlihat jingga yang lebih segar dari sebelumnya...
"ayok" tama menggandeng tangan jingga untuk turun ke bawah
jingga mengekor tama dari belakang dengan perasaan yang campur aduk, entah harus senang atau sedih dengan perlakuan tama yang semakin manis kepadanya
"ji makan dulu nak..." titah ayah salim yang masih berada di ruang makan
"iya yah... bia mana?" tanya jingga cilngak clinguk mencari keberadaan sang putri
__ADS_1
"lagi ke minimarket sama jemi... ayok sekalian ajak tama makan juga"
jingga yang memang sudah sangat merasa lapar langsung mengisi piringnya dan piring tama dengan nasi dan lauknya. mereka makan begitu lahap sampai semua isi piring mereka habis tak tersisa
ayah salim menatap tama dengan tatapan tak biasa membuat jingga penasaran
"ayah kenapa liatin mas tama kaya gitu?" tanya jingga
"gak apa-apa, ayah sudah lama saja tidak bertemu dengan tama ternyata sekarang tubuh tama lebih berisi ya" jawab ayah salim
"bagaimana keadaan cabang perusahaan kamu yang di jakarta tam? apa masalahnya sudah selesai?" tanya ayah salim kepada pratama
"alhamdulilah sudah selesai ayah dan karyawan yang berbuat curang di perusahaan juga sudah di amankan oleh pihak yang berwajib" jawab tama
"syukurlah kalau begitu, kamu bisa lebih fokus sama jingga dan sabia mulai sekarang" ucap ayah salim
"iya yah, rencananya tama mau ajak jingga dan bia liburan" sahut tama
"baguslah ayah senang mendengarnya"
"bagaimana hubunganmu dengannya tam?" tanya ayah salim dengan tatapan lurus ke depan
"biasa saja ayah, sekarang tana sudah jarang menemuinya bahkan di saat tama berangkat ke jakarta kemarin tama tidak pernah mengabarinya" jawab tama
"bukanya sekarang dia sedang hamil lagi?" celetuk ayah salim membuat tama menundukan kepalanya merasa sangat bersalah
"ii...iya ayah" sahut tama gugup
"kapan kamu akan menceraikannya tama jangan sampai jingga tahu lebih dulu dan akhirnya jingga yang akan meninggalkanmu" ucap ayah salim seolah memberi peringatan kepada tama
"setelah anak itu lahir tama pasti akan langsung menceraikannya, tama tidak ingin sampai jingga dan sabia meninggalkan tama yah" lirih tama dengan wajah sendu
"bagaimana kalau jingga mengetahui semuanya sebelum anak itu lahir?" tanya ayah salim
__ADS_1
"jangan sampai hal itu terjadi, tama bisa gila jika jingga benar-benar meninggalkan tama"
"sebenarnya ayah ingin segera kamu menceraikan wanita itu dan fokus kepada jingga dan sabia tapi ayah sadar disini juga ayah yang salah karena memaksa kamu untuk menyetujui perjodohan yang ayah ajukan padahal ayah tahu saat itu kamu sudah mempunyai pasangan, jujur saja hati ayah sakit ketika melihat jingga dan sabia, hati ayah terasa sangat hancur karena sudah menyakiti putri dan cucu ayah begitu dalam tapi semuanya sudah terlambat dan ayah harap kamu bisa memberikan kebahagiaan yang seutuhnya untuk jingga dan sabia" ucap ayah salim panjang lebar dengan menahan rasa sesak di dalam dadanya
"tama janji akan segera menceraikannya ayah, tama mohon ayah masih mau membantu tama untuk menyembunyikan semuanya. tama benar-benar mencintai jingga, tama tidak ingin kehilangan jingga" sahut tama begitu yakin
"buktikan saja ucapanmu tam namun jika sudah mencapai waktu yang kamu tentukan kamu belum juga menceraikan perempuan itu ayah sendiri yang akan membawa jingga dan sabia pergi dari hidup kamu" tama langsing terdiam mendengar ucapan ayah salim yang terdengar bukan sekedar ancaman
"tama akan buktikan ayah" sahut tama yakin
penyesalan yang ayah salim rasakan sekarang tidak akan mengubah apapun, sejak awal memang ayah salim lah yang mempunyai andil besar dalam perjodohan jingga dan tama saat itu. dengan alasan pratama adalah sosok pria yang pekerja keras, bertanggung jawab dan sangat menyayangi keluarga terutama ibunya dan yang paling penting tama sudah sangat mapan dalam segi financial menjadikan ayah salim gelap mata dan memaksa tama untuk menerima perjodohannya dengan jingga tanpa memikirkan akan seperti apa kedepannya dan sekarang terbukti jingga, tama dan laras terjebak dalam keadaan yang sangat rumit dan sulit mencari jalan keluarnya
"papiii....." teriak sabia membuat tama sedikit kaget
"habis darimana sayang? kok belanjaan bia banyak banget" tanya tama sambil mendudukan sabia di pangkuannya
"bia di jajanin sama uncle jemi dan aunty maya, banyak banget pi liat deh" jawab sabia antusias
"bilang makasih gak sama uncle dan aunty nya?" tanya tama menguyel-uyel pipi gembul sabia
"udah dong... papi kapan kita pergi liburan? jangan bohong lagi ya" sabia menatap tajam tama sambil memegang satu buah es krim di tangannya
"kalau minggu depan gimana? papi kan udah janji masa bohong sama bia, ayokakan dulu es krimnya nanti keburu lumer" tama membukakan es krim yang di pegang oleh sabia
"kalau bohong bia gak mau ngomong sama papi" ancam sabia dengan bibir mengerucut
"papi gak akan bohong sayang" tama meyakinkan sabia agar percaya kepadanya
"bia makan es krimnya sendiri aja, eyang gak di kasih nih?" goda ayah salim
"eyang gak boleh makan es krim nanti giginya sakit, es krimnya buat bia aja" sahut sabia membuat ayah salim dan tama tergelak
"jadi bia gak akan sakit gigi kalau makan es krim?" tanya ayah salim
__ADS_1
"no eyang soalnya kata mami gigi bia kuat kalau eyang kan giginya udah rontok nanti kalau giginya abis gimana?" ayah salim semakin tergelak mendengar jawaban sang cucu sungguh menggemaskan batinnya