JINGGA (The Second Wife)

JINGGA (The Second Wife)
cinta pertama memang sulit di lupakan


__ADS_3

setelah urusannya selesai jingga berniat ingin langsung pulang ke rumah, bi idah sudah mengabari jingga jika sabia dan bi idah sudah berada di rumajlh sekitar satu jam yang lalu namun saat dalam perjalanan ponsel jingga berdering menampilkan nama sang kakak yang menelfonnya, jingga memasang earphone di telinganya untuk menjawab panggilan telefon dari jemi karena jingga masih menyetir


"hallo kak"


"kamu dimana ji? bisa kita ketemu?"


"aku sedang di jalan, boleh mau ketemu dimana?"


"di resto biasa sebentar lagi kakak berangkat"


"oke ka"


jingga langsung melajukan mobilnya menuju restoran favoritnya bersama jemi, kurang dari tiga puluh menit jingga sudah sampai terlebih dahulu karena memang jarak perusahaan arthur ke restoran itu tidak begitu jauh.


jingga memesan segelas cappucino dingin sambil menunggu kedatangan jemi, jingga duduk di meja paling pojok di restoran itu sambil jari jemarinya berselancar di akun sosial media miliknya


"sayang kamu dimana? gimana interviewnya lancar?"


satu pesan masuk dari tama membuat jingga menghela nafas berat, rasanya tidak sebahagia dulu ketika mendapat pesan manis dari tama,


"baru selesai, mampir sebentar di restoran untuk makan siang"


balas jingga tanpa menanyakan tama yang sudah makan siang atau belum rasanya jingga sudah malas berbasa-nasi dengan suaminya itu


"sudah lama menunggu ji?" seru jemi yang baru sampai dan langsung duduk di hadapan jingga


"baru beberapa menit kak, aku sudah pesan minuman kakak mau sekalian pesan?" tanya jingga


"kenapa tidak pesan makanan?"


"aku nunggu kakak dulu, jadi mau pesan apa? biar aku pesankan"


"terserah kamu saja ji yang penting bisa buat perut kakak kenyang" ucap jemi sambil mengelus perutnya yang sudah keroncongan


"baiklah"

__ADS_1


jingga memesan makanan yang sama dengan jemi karena memang selera mereka tidak jauh berbeda dan jemi tidak pemilih dalam hal makanan, jingga menyeruput cappucinno miliknya karena merasa tenggorokannya sangat kering apalagi setelah berhadapan dengan arthur tadi


"sudah lebih baik ji?" tanya jemi


"seperti yang kakak lihat" jawab jingga dengan seulas senyum di bibirnya


"jangan menutupi apapun dari kakak ji, kakak tahu gak mudah buat kamu untuk menerima semuanya" pinta jemi


"aku berusaha untuk tidak terlalu larut dalam kesedihan kak, ada sabia yang sangat membutuhkanku. sebisa mungkin aku harus terlihat baik-baik saja di hadapan sabia" jingga mencoba meyakinkan jemi agar tidak terlalu khawatir kepadanya


"kamu wanita kuat kakak yakin kamu bisa melalui semuanya, oh ya kakak mau tanya sesuatu sama kamu"


"apa itu?"


"apa benar kamu melamar pekerjaan di perusahaan milik keluarga pradipta?"


"kakak tahu dari siapa?"


"ayah"


"kenapa ayah bisa sampai tahu ya padahal aku belum sempat cerita kepada siapapun kecuali mas tama"


jingga tidak menyangka jika tama akan langsung melaporkan masalah ini kepada ayah salim, tidak ingin menimbulkan salah paham jingga membicarakan rencananya kepada jemi tanpa ada yang jingga tutupi dari jemi.


jemi hanya manggut-manggut mendengar penjelasan dari jingga sambil menyantap makanan yang baru saja di siapkan oleh pelayan restoran itu. jemi tidak akan memaksa jingga untuk mengurungkan niatnya karena jemi tahu jika keputusan yang jingga ambil sudah jingga pikirkan dengan sangat matang lagi pula jingga sudah dewasa, jingga berhak menentukan jalan hidupnya sendiri asalkan keputusan yang jingga ambil akan membuat jingga bahagia jemi pasti akan mendukung apapun itu


"tapi kamu tahu kan jika presdir di perusahaan itu mantan pacar kamu sendiri?" ledek jemi dengan tersenyum jahil


"aku tahu kak" sahut jingga menundukan wajahnya karena malu


"apa kamu sengaja kerja disana supaya kembali dekat dengan arthur hmm? kakak dengar sampai saat ini arthur masih melajang ji" ucap jemi membuat jingga salah tingkah


"engga lah kak awalnya aku memang tidak tahu jika perusahaan itu milik keluarga arthur karena hana yang merekomendasikannya makanya aku terima" elak jingga untuk menutupi rasa malunya


"kenapa masih mau bekerja disana ketika tahu itu perusahaan keluarga arthur?" tanya jemi lagi

__ADS_1


"terlanjur kak aku sudah tanda tngan kontrak kalau aku melanggar bisa kena finalty" jawab jingga


"masa sih ji? emang ada peraturan perusahaan yang seperti itu? atau jangan-jangan kamu juga seneng ya bisa kerja satu kantor sama arthur? kakak rasa arthur masih cinta sama kamu buktinya dia masih belum menikah sampai sekarang"


"kakak sok tahu"


"bukan sok tahu tapi memang faktanya kayak gitu, kamu masih ada rasa gak sama arthur hm?" jemi tak henti-hentinya menggoda jingga sampai membuat jingga merona


"rasa bersalah mungkin lebih tepatnya kak karena dulu aku yang meninggalkan dia dan memutuskan menikah dengan tama" ucap jingga sendu


"udah jangan sedih, kalau jodoh kan gak akan kemana, bisa saja arthur adalah jodoh kamu yang tertunda ji" sahut jemi terkekeh


"kakak apaan sih, gak mungkin aku mengharapkan berjodoh dengan pria lain disaat statusku masih menjadi seorang istri, jangan ngaco deh" ucap jingga


"iya, iya.. kakak cuma bercanda ji kenapa kamu jadi salah tingkah begitu"


jingga memukul lengan jemi kesal karena terus saja menggodanya, sebetulnya jingga juga tidak yakin jika perasaannya kepada arthur sudah hilang sepenuhnya mengingat dulu jingga dan arthur menjalin kasih cukup lama pasti banyak kenangan-kenangan indah di antara mereka yang sulit untuk di lupakan. jingga juga tidak dapat memungkiri masih ada sedikit getaran jika dirinya bertemu dengan arthur.


memang cinta pertama itu sulit untuk di lupakan


"kak aku pulang duluan ya, sabia sudah menunggu di rumah" ucap jingga ketika makanan di piringnya sudah habis


"kakak juga mau balik ke kantor lagi ji" sahut jemi


"ya sudah jangan bilang-bilang ayah kalau bertemu sama aku ya" pinta jingga


"sejak kapan kakakmu ini punya mulut yang ember hmm?" jemi mencubit pipi jingga gemass


"iya, iya.. aku percaya sama kakak. aku pulang ya kakak hati-hati" pamit jingga


"kamu juga hati-hati ji jangan ngebut, kalau perlu bantuan kakak segera hubungi kakak atau mbak mu ya"


"siap kak"


jingga menyempatkan untuk membeli beberapa makanan kesukaan sabia sebelum pulang sebagai bentuk permintaan maafnya karena sudah meninggalkan sabia cukup lama.

__ADS_1


sampai di sebuah food court jingga langsung memesan makanan kesukaan sabia namun tanpa di duga jingga melihat laras yang sedang berbicara dengan seorang wanita paruhbaya tepat di taman samping food court yang dia kunjungi.


jingga mengernyitkan keningnya ketika melihat laras seperti yanh sedang marah-marah kepada ibi itu sampai menunjuk wakah ibu-ibu itu dengan tatapan penuh amarah


__ADS_2