
malam ini jingga menyiapkan makan malam untuk tama dan sabia, meskipun kondisi badannya sedikit kurang baik tapi jingga tetap memaksakan untuk memasak beberapa hidangan masakan kesukaan sabia dan tama.
sabia yang ikut duduk di meja makan menatap ke arah pundak dan sikut jingga yang terluka, saat ini jingga memang sedang mengenakan pakaiam tidur dengan taki spageti sehingga bekas memar dan luka di bagian lengannya bisa terlihat
"sayang kok ngelamun?" tanya tama yang baru saja pulang
"tangan mami terluka pi" bisik sabia sambil menunjuk ke arah jingga yang masih sibuk memasak
"bia tunggu sebentar disini ya nak" titah tama di balas anggukan kepala oleh sabia
"sayang masak apa? wangi banget" tamya tama memeluk jingga dari belakang
"awwwww" ringis jingga karena dagu tama menekan luka memar di pundaknya
"kenapa?" tanya tama mengernyitkan keningnya
"gak apa-apa, sebentar aku selesai kamu tunggu di meja makan saja mas" titah jingga
"tangan kamu kenapa ada memar sama luka?" tanya tama
"tadi jatoh di kantor" bohong jingga
"jatoh? sampai lecet dan memar gini?" ulang tama
"iya, udah jangan di bahas terus aku gak apa-apa kok" sela jingga
"gak apa-apa gimana? ini memar kamu lumayan gede lho, ini juga sikut kamu lukanya lumayan dalem jangan di biarin aja nanti infeksi. sini mas obatin dulu" protes tama membawa jingga duduk di atas sofa ruang tengah
__ADS_1
dengan telaten tama mengobati luka jingga padahal tadi siang luka itu sudah lebih dulu di obati oleh arthur namun jingga memilih untuk diam membiarkan tama untuk kembali mengobati lukanya
"mas weekend kamu bisa luangin waktu gak?" tanya jingga
"kenapa memangnya?" tanya tana balik
"aku mau ngajak kamu dinner, hanya kamu dan aku" ucap jingga
"sabia?" tanya tama
"bia titip di rumah kak jem aja, aku mau quality time bareng kamu. bisa?"
"bisa banget sayang, oh iya soal tanda di..." tama menggantung ucapannya
"udah gak usah di bahas aku udah lupain kok" sela jingga sambil tersenyum
"ayok kita makan, makanannya udah siap" jingga menarik tangan tama untuk ikut ke meja makan dimana sabia dan bi diah sudah menunggu untuk makan malam
namun tetap saja tama sudah berniat akan menceraikan laras karena tama tidak ingin sampai melukai jingga lebih dalam lagi dan tama tidak mau jika sampai jingga lebih dulu meninggalkannya
sementara itu di apartemen laras sedang kelimpungan mencari daren yang entah kemana sejak siang tadi, laras sudah bertanya kepada security yang berjaga di apartemennya namun tetap saja mereka sama sekali tidak melihat daren. biasanya di saat seperti ini laras selalu meminta bantuan kepada angga untuk membantu mencari daren namun sejak kejadian di mall tempo hari, angga sudah tidak lagi menghubungi laras bahkan jika laras menyuruh angga untuk datang ke apartemen, angga punya seribu macam cara untuk menolaknya
"sialaann" umpat laras karena saat ini tidak ada satu orang pun yang bisa membantu dirinya
dengan terpaksa laras menghubungi panti asuhan dimana laras dulu mengadopsi daren saat pertama kali lahir untuk di jadikan anaknya dengan tama
"hallo bu sulis apa daren ada di panti?"
__ADS_1
"...................."
"kok bisa? saya sudah bilang kan jika daren ingin menginap suruh pulang saja kalau papinya tahu bagaimana? saya yang akan dapat masalah"
"......................"
"ya sudah biar saya yang jemput kesana sekarang"
laras langsung pergi meninggalkan apartemen untuk menjemput daren ke panti asuhan, daren memang bukan anak kandung laras dan tama. dulu laras sengaja mencari bayi yang baru lahir untuk dia adopsi untuk di jadikan bukti bahwa dia sudah melahirkan anaknya dengan tama. laras sengaja melakukan cara licik seperti itu agar bisa menjerat tama agar bisa tetap bersamanya dan tidak akan menceraikan dirinya. entah tama yang bodoh atau laras yang terlalu pintar sampai tidak pernah menaruh rasa curiga kepada laras selama bertahun-tahun hidup dengan laras bahkan anak yang di akui laras sekarang sebagai anak kedua mereka itu semua bohong karena pada kenyataannya laras tidak lebih dari seorang wanita mandull yang tidak bisa memiliki anak namun karena otak licik laras lah sampai akhirnya laras membuat kebohongan sebesar ini kepada tama
tiga puluh menit berlalu akhirnya laras sampai di panti asuhan yang dia tuju. laras langsung masuk ke dalam panti dengan nafas yang memburu karena menahan kesal kepada daren
"mana daren?" tanya laras langsung masuk begitu saja tanpa mengucap salam
"wa'alaikum salam bu laras" sindir bu sulis selaku pengurus panti itu
"saya tidak punya banyak waktu bu sulis, mana daren? saya mau membawanya pulang" sinis laras tak peduli dengan sindiran yang berikan oleh bu sulis
"tenang saja bu laras saya akan memberikan daren kepada anda tapi asalkan anda jangan bersikap kasar dan terlalu keras kepada daren bu, daren masih kecil bu seharusnya ibu bisa lebih sabar dalam menghadapi kenakalan daren, usia daren saat ini sedang masa aktif-aktifnya bu" ucap bu sulis penuh penekanan
"bu sulis tidak perlu mengajari saya, apa ibu lupa kalau semenjak saya mengdopsi daren, daren sudah sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya dan masa tama, saya tahu mana yang terbaik untuk daren" sahut laras tak mau kalah
"saya tidal akan ikut campur kalau ibu memperlakukan daren dengan baik seperti janji ibu saat pertama kali menhadopsi daren, ingat ya bu saya tidak segan-segan akan mengambil daren kembali jika ibu masih bersikap seperti ini" ancam bu sulis
"anda berani mengancam saya? jika bu sulis sampai nekad melakukan itu saya pastikan seluruh penghuni panti akan menjadi gelandangan, saya tidak pernah main dengan ucapan saya" laras mengancam balik bu sulis
"astagfirullahaladzim, ternyata saya sidah salah menilai bu laras selama ini" ucap bu sulis mengusap-ngusap dadanya tak percaya dengan apa yang laras ucapkan
__ADS_1
"gak usah sok suci bu, saya tahu anda juga tidak mungkin mau merawat seluruh anak di panti ini jika tidak mendapatkan bayaran yang setimpal. ibu juga jangan sampai lupa sampai saat ini saya masih menjadi salah satu donatur terbesar di panti ini" sahut laras menyombongkan diri
"saya rasa sudah cukup lama saya disini, saya harus pulang masih banyak hal lebih penting yang harus saya urus, panggilkan daren sekarang" lanjut laras dengan gaya arogannya