JINGGA (The Second Wife)

JINGGA (The Second Wife)
laras keguguran


__ADS_3

"mas minta maaf kalau perkataan mas semalam menyinggung perasaan kamu, mas hanya cemburu, mas tidak rela kamu di antar oleh pria lain" ucap tama


"baru begitu saja kamu kamu sudah cemburu mas, bagaimana dengan aku yang sudah di madu selama tujuh tahun pernikahan kita mungkin lebih dari kata cemburu jika aku ingin protes tapi ya sudahlah nasi sudah menjadi bubur" sahut jingga menghela nafas panjang


"permisi pak tama istri anda mencari anda, dia menyuruh anda untuk segera masuk ke dalam ruangannya" ucap seorang perawat menyela obrolan tama dan jingga


jleb


jingga tersenyum miris mendengar ucapan sang perawat itu, ternyata tama berada di rumah sakit itu karena menemani istri pertamanya yang entah sedang sakit apa. ternyata apa yang di ucapkan oleh tama hanyalah sebuah omong kosong belaka, kenyataannya sampai saat ini tama masih sangat perhatian kepada laras berbeda dengan pernyataannya yang mengatakan bahwa tama akan segera menceraikan laras dan akan menjadikan jingga istri satu-satunya memang wajar jika tama melakukan ini karena memang laras masih berstatus istrinya meskipun hanya sebagai istri siri tapi entah mengapa jingga belum bisa menerima kenyataan bahwa dirinya lah yang di jadikan istri kedua secara tidak langsung jingga lah yang di anggap sebagai perusak hubungan tama dengan laras dan hal itulah yang membuat jingga benar-benar bertekad untuk segera bercerai dengan tama


"ji aku...." tama menggantung ucapannya karena jingha menyelanya


"pergilah, istrimu sangat membutuhkanmu saat ini bukan" sindir jingga dengan nada sinis


"mas minta maaf ji, mas gak bermaksud untuk membuat kecewa lagi semalam laras menelfon mas dan mengatakan jika kandungannya bermasalah, ternyata benar laras mengalami keguguran dan saat mas datang ke rumah sakit rahimnya sudah di bersihkan oleh dokter" tama menjelaskan panjang lebar berharap jingga bisa mengerti dengan posisinya


jingga terdiam dia sama sekali tidak peduli dengan apa yang tana ucapkan tentang laras bukan tidak mempunyai empati dan hati nurani namun setiap kali mengingat tama menanam benihnya di rahim wanita lain membuat luka di dalam hati jingga semakin menganga, membayangkan tama yang sudah tidur dengan wanita lain sampai menghasilkan seorang anak membuat dada jingga terasa semakin sesak. tama menatap jingga dengan tatapan memohon berharap jingga akan bisa memaafkan semua kesalahan yang sudah tama lakukan tapi lagi-lagi tama harus kecewa dengan respon yang di berikan jingga.


saat ini jingga seakan mati rasa terhadap tama, mau sedalam apapun penyesalan yang tama rasakan tidak akan mampu mengubah apapun, jingga akan tetap pada keputusannya yaitu bercerai dari tama.


"keluarga ibu hana" seru seorang perawat


"saya sahabatnya dok, bagaiman keadaannya?" tanya jingga langsung berdiri dan menghampiri perawat


"bu hana sudah siuman bu, ibu bisa melihatnya sekarang" jawab sang perawat


"baik terima kasis sus" ucap jingga

__ADS_1


"ji tunggu" sergah tama ketika jingga akan masuk ke dalam ruangan hana


"tidak ada yang perlu di jelaskan lagi mas, pergilah. dia pasti mencarimu sekarang.


aku mau melihat keadaan hana dulu"


jingga masuk ke dalam ruangan hana tanpa memperdulikan tama yang masih ingin berbicara dengannya, bagi jingga sudah tidak ada lagi yang harus mereka bahas sudah cukup luka yang di berikan tama kepadanya, jingga tidak mau menambah luka yang baru sementara luka yang sebelumnya belum benar-benar sembuh


jingga menghembuskan nafasnya lalu masuk ke dalam ruangan untuk melihat hana


ceklek


"permisi dok saya mau melihat keadaan sahabat saya" ucap jingga karena melihat di ruangan itu masih ada seorang dokter dan satu orang perawat


"silahkan masuk bu" sahut sang dokter


"bu hana baik-baik saja, kondisi seperti ini memang wajar terjadi pada awal-awal kehamilan, saya sarankan ibu hana jangan terlalu lelah" jawab sang dokter membuat jingga dan hana berbinar


"saya benar-benar sedang hamil dok?" tanya hana yang memang belum mengetahui jika dirinya sedang mengandung


"perkiraan saya seperti itu bu, untuk lebih jelasnya nanti ibu akan kembali di periksa oleh dokter obgyn dan melakukan usg" jawab dokter itu dengan tersenyum ramah


"untuk sementara bu hana harus di rawat inap dulu selama 2 atau 3 hari untuk mengembalikan kondisi badannya biar fit kembali, saya sudah menyuruh perawat untuk mempersiapkan ruang rawat inapnya. mohon di tunggu sebentar ya bu. oh ya kalau boleh tahu suami ibu hana dimana?" tanya dokter itu


"suami saya kerja dok mungkin sebentar lagi akan menyusul kesini" jawab hana yang terus menyunggingkan senyumnya


"baik, kalau begitu saya permisi nanti akan ada perawat yang akan membantu ibu hana untuk pindah ruangan" pamit dokter itu

__ADS_1


"baik dok, terima kasih banyak"


hana berteriak kegirangan setelah dokter itu pergi, hana benar-benar merasa sangat bahagia mendapat kabar jika dirinya tengah mengandung penantiannya selama tiga tahun menikah akhirnya berbuah manis


"ji ponselku mana? aku ingin menghubungi regan" ucap hana


"ketinggalan di kantor na tadi aku tidak sempat membawanya, biar aku yang hubungi regan saja ya" tawar jingga


"ya sudah, tapi jangan dulu bicara apapun tentang kehamilanku ya aku mau bicara langsung sama dia" pinta hana


"iya, seneng banget yang mau jadi ibu" goda jingga sambil mencoba menghubungi suami hana


"seneng banget lah ji, kamu tahu sendiri kan selama ini mas regan sangat menantikan anak di pernikahan kami" sahut hana


berbeda dengan jingga dan hana yang saat ini mendapatkan kabar bahagia atas kehamilan hana, di ruangan berbeda namun masih si rumah sakit yang sama tama terlihat kesal kepada laras karena tidak dapat menjaga kandungannya sampai mengakibatkan janin yang di kandung laras harus keguguran


"kenapa kamu terus menyalahkan aku sih mas, ini semua kecelakaan aku tidak permah berharap akan kehilangan anak kita" ucap laras dengan deraian airmata buaya nya


"seharusnya kamu bisa lebih menjaga kandungan kamu ras, ini bukan kali pertama kamu mengandung bukan? kenapa bisa ceroboh?" sahut tama dengan nada suara sedikit meninggi


"ini semua terjadi juga gara-gara kamu mas" tuduh laras kepada tama


"kenapa gara-gara aku? sudah jelas kamu yang tidak bisa menjaga kandungan kamu sendiri kenapa jadi menyalahkan aku" protes tama tidak terima di salahkan oleh laras


"sikapmu yang membuat aku stres mas, akhir-akhir ini kamu jarang memperhatikan aku dan calon bayi kita bahkan untuk sekedar menemani ku di apartemen saja kamu selalu banyak alasan, selalu jingga dan sabia yang menjadi prioritas kamu. kamu terlalu lama mengabaikanku mas, aku merasa kamu sudah tidak peduli lagi dengan calon bayi kita. iya kan?" tuduh laras membuat hati tama tersentil


"jangan sembarangan bicara kamu" elak tama

__ADS_1


"memang benar kan? semalam saat aku menelfon kamu mengatakan jika perutku sakit kamu tidak langsung datang ke apartemen bahkan kamu datang kesini setelah dokter selesai menanganiku, aku kecewa sama kamu mas" ucap laras semakin terisak


__ADS_2