
seharian ini tidak ada percakapan antara jingga dan tama secara langsung jingga berinteraksi dengan tama hanya lewat sabia saja, saat jalan-jalan pun jingga tampak acuh seakan tidak menghiraukan kehadiran tama. tama berusaha untuk memulai obrolan dengan jingga namun jingga selalu menghindarinya dengan berbagai alasan.
jingga terpaksa tidak meminta pulang duluan semata-mata karena sabia, jingga tidak ingin merusak kebahagiaan sabia yang baru saja bisa kembali berlibur dengannya dan juga tama, lagi-lagi jingga harus mengalah demi kebahagiaan putri semata wayangnya sejenak jingga berpikir mungkin ini adalah liburan terakhirnya dengan formasi keluarga yang masih utuh
jingga merenung di balkon kamar vila itu, mengingat perpisahan yang mungkin saja akan terjadi membuat dada jingga terasa sangat sesak, bohong jika jingga sudah tidak mencintai tama namun luka yang tama berikan begitu dalam meskipun jingga belum mengetahui semua kenyatanyaannya rasanya jingga belum sanggup untuk mengetahui kenyataan yang lebih menyakitkan dari pada ini, pengorbanan dia selama tujuh tahun ini terbuang sia-sia, rasa cinta yang mati-matian dia tumbuhkan untuk seorang pratama adnan kini terbalas dengan sebuah pengkhianatan... sakit sungguh sakit
"sayang kita harus bicara" ucap tama yang tiba-tiba berdiri di samping jingga
"apa yang harus di bicarakan lagi? semuanya sudah cukup jelas bukan kamu juga tidak mengelak sama sekali malah menghadiahi aku dengan sebuah tamparan. benar-benar miris" sahut jingga tersenyum getir
"mas bisa jelaskan semuanya sayang, mas minta maaf sudah berbuat kasar mas khilaf tapi tolong jangan ada kata pisah di antara kita, semuanya masih bisa di perbaiki kita mulai semuanya dari awal lagi ya" mohon tama dengan tatapan memelas
"apanya yang harus di perbaiki? aku saja tidak tahu sejak kapan pernikahan kita hancur" balas jingga sinis
"maafkan mas sayang, mas salah mas sudah menyimpan semua ini terlalu lama mas takut kamu akan meninggalkan mas kalau kamu tahu semuanya, tapi perlu kamu tahu mas sangat mencintai kamu terlebih sabia mas tidak ingin kehilangan kamu dan sabia"
"kalau memang cinta gak mungkin mendua, atau memang kamu yang masih belum bisa terlepas dari masa lalu kamu itu? memang benar kata orang yang namanya cinta pertama itu sulit di lupakan"
"sayang kamu salah paham, mas sudah tidak mencintai seperti dulu saat ini mas hanya mencintai kamu terlebih sudah ada sabia di antara kita"
__ADS_1
"jadi dulu kamu sangat mencintainya? jadi alasan apa yang membuat kamu kembali menjalin hubungan dengannya di saat kamu berstatus seorang suami hah?" sentak jingga membuat tama bungkam seketika sangat terlihat tatapan kekecewaan dari mata jingga
"sejak kapan kamu berhubungan lagi dengannya? perjuangan aku selama tujuh tahun ini seperti gak berguna mas, susah payah agar aku bisa jatuh cinta sama kamu dan menerima pernikahan kita tapi apa yang aku dapatkan? kamu menghancurkan semuanya katakan AKU KURANG APA?. jangan kamu pikir cuma kamu yang mempunyai cinta pertama bahkan aku rela meninggalkan cinta pertamaku demi menerima perjodohan dengan pria yang sama sekali tidak aku cintai saat itu sedangkan kamu malah asik kembali menjalin kasih dengan cinta pertama kamu tanpa memikirkan perasaannku"
jingga mengeluarkan semua amarahnya, harga dirinya seakan di injak-injak oleh sebuah pengkhianatan yang dilakukan oleh suaminya, perasaan jingga saat ini hancur tak berbentuk bahkan jingga sendiri tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan luka yang sudah tama torehkan begitu dalam di hatinya
tubuh jingga merosot dan terduduk di atas lantai, semua tulang-tulangnya seakan terasa lemas tak bertenaga rumah tangganya kini sudah di ambang kehancuran
"apa salahku mas, apa?" lirih jingga dengan suara yang begitu memilukan membuat tama merasa begitu sangat bersalah, hatinya juga merasa sakit karena melihat wanita yang dia cintai menangis karena dia sakiti
tama memberanikan diri untuk memeluk jingga, meskipun tama mengkhianati jingga tapi tama ingin jingga percaya jika rasa cinta yang dia punya untuk jingga sangat tulus dan begitu dalam. merasa tidak penolakan dsri jingga tama semakin mempererat pelukannya dan mencium kening jingga begitu lama. tidak bisa di pungkiri jika pelukan tama adalah pelukan ternyaman bagi jingga. haruskan jingga kehilangan pelukan ini? haruskah jingga mengakhiri pernikahan yang sudah mati-matian dia perjuangkan? namun untuk menyembuhkan luka itu jingga sendiri tidak tahu caranya seperti apa
"aku ingin sendiri dulu, tolong mengerti" ucap jingga melepaskan pelukannya dari tama dan berjalan menuju kamar
tama hanya menatap kepergian jingga tanoa mau memaksakan kehendaknya, tama tahu betapa hancurnya perasaan jingga saat ini dan tama tidak mau membuat jingga semakin tertekan.
saat ini tama harus memikirkan bagaimana caranya agar bisa beroisah dengan laras dan menjadikan jingga istri satu-satunya tak peduli dengan kondisi laras yang saat ini telah mengandung anak kedua mereka. sungguh tama tidak mau kehilangan jingga
sudah empat hari jingga, tama dan sabia berada di pulau bali namun sikap jingga semakin hari semakin dingin kepada tama. sudah berbagai macam cara tama lakukan untuk membuat jingga sekedar mau berbicara dengannya namun sangat sulit jingga sama sekali tidak menganggap kehadiran tama
__ADS_1
"mi...." panggil sabia lembut
"iya sayang" sahut jingga memaksakan senyumnya
"mami berantem sama papi?" tanya sabia
"engga sayang, kamu kenapa bertanya seperti itu?" jingga menatap wajah sabia yang terlihat murung
"tapi kenapa mami gak mau ngomong sama papi? tiap kali papi ngomong mami pasti menghindar, papi nyakitin mami?"
"engga sayang, maminlagi capek aja makanya lagi males ngomomg sama papi kamu"
"mami jangan bohong, kemarin bia denger mami nangis lagi"
sabia terlalu cerdas untuk jingga bohongi, sekuat apapun jingga menutupi keadaannya sabia terus saja mendesaknya untuk jujur namun jingga tak sampai hati untuk mengatakan jingga hubungannya dengan tama sedang tidak baik-baik saja namun harus bersikap seperti dulu laginkepada tama rasanya begitu sulit. rasa kecewanya kepada sang suami begitu dalam bahkan ketika melihat wajah tama hati jingga terasa semakin sakit.
entah harus dengan cara apalagi jingga harus menutupi rasa sakitnya di hadapan sabia, harus kepada siapa jingga mengadu saat ini bahkan untuk menceritakan masalahnya kepada ayah dan kakaknya saja jingga belum ada keberanian untuk itu
"maafin mami sayang" batin jingga menatap sabia dengan menahan airmatanya
__ADS_1
sedangkan tama yang sejak tadi mengintip prmbicaraan antara istri dan anaknya sudah tidak bisa lagi membendung airmatanya, rasa penyesalan yang tama rasakan begitu dalam. harus dengan cara apalagi membuat jingga mau berbicara dan memberikan tama kesemapatan meskipun hanya satu kali