
Dimas memasuki ruangan HRD untuk memastikan apakah jingga sudah selesai interview atau belum dan ternyata dugaannya benar jingga baru saja selesai dan akan segera pulang
"lho dim kamu kerja disini juga?" tanya jingga melihat dimas yang tiba-tiba ada di hadapnnya
"iya, aku kerja disini ji. kamu sudah selesai? ayok ikut aku ke ruangan bos dia mau bertemu sama sekretaris barunya" ajak dimas mendahului jingga untuk berjalan
"hana mana dim?" tanya jingga karena tidak melihat keberadaan sahabatnya itu
"dia sedang sibuk sekarang, gak apa-apa kan kalau kamu aku yang temenin dulu sekarang?"
"tidak masalah"
jingga mengikuti langkah dimas yang akan membawanya ke ruangan arthur, sampai sekarang jingga belum sadar juga jika saat ini jingga sedang berada di perusahaan milik arthur bahkan kehadiran dimas pun belum membuat jingga sadar
"mau aku temenin atau masuk sendiri?" tawar dimas
"kalau di temenin kamu keberatan gak?" ucap jingga sedikit memohon entah nengapa perasaannya mendadak tak enak
"baiklah aku temani"
tok
tok
tok
"bos, ini sekretaris baru yang baru saja selesai interview" ucap dimas sambil membuka pintu ruangan arthur
"masuklah" titah arthur yang masih fokus kepada berkas-berkas di tangannya
dimas masuk ke dalam ruangan arthur dengan jingga yang mengekorinya dari belakang, jingga mengernyitkan keningnya dengan aroma parfum yang dia cium merasa tidak asing baginya
"mana cv nya saya mau lihat dulu" pinta arthur tanpa melihat ke arah dimas maupun jingga
deg
"suara itu" gumam jingga
jingga sangat mengenal suara itu meski tanoa melihat wajahnya, penasaran jingga langsung mengangkat wajahnya dan betapa terkejutnya jika dugaannya memang benar apalagi setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri sang mantan kekasih yang sedang sibuk menandatangani berkas di atas meja kerjanya
"bodoh, bodoh, bodoh kamu jingga kenapa sampai gak sadar dengan nama belakang arthur" batin jingga mengutuki dirinya sendiri
dimas menyimpan cv milik jingga di atas meja kerja arthur sedangkan jingga merutuki kebodohannya sendiri karena baru sadar jika sekarang dia sedang berada di perusahaan milik mantan kekasihnya sendiri. jingga memejamkan matanya untuk menetralkan perasaannya
"jingga maharani" ucap arthur membaca nama di dalam cv itu membuat lutut jingga semakin lemas berbeda dengan dimas yang tersenyum menatap interaksi antara jingga dan arthur
"wowww surprise, kirain hanya mirip namanya saja ternyata benar kamu ji" seru arthur kala melihat jingga yang berada di hadapannya saat ini namun jingga hanya menunduk tidak berani menatap arthur
__ADS_1
"tidak salah kamu melamar pekerjaan disini?" tanya arthur setengah meledek
"apa suami kamu sudah bangkrut hah?" lanjut arthur dengan seringai licik di wajahnya semakin membuat nyali jingga menciut
"bos apa saya boleh keluar? tugas saya sudah selesai kan?" sela dimas karena tidak mau mengganggu sepasang mantan kekasih yang akan bernostalgia
"keluarlah, saya akan bicara penting kepada sekretaris baru saya" sahut arthur menatap jingga tajam
"ji aku duluan ya, kalau terjadi sesuatu kamu teriak saja" bisik dimas membuat jingga menghela nafas dalam
"dimas prasetyo keluar sekarang" titah Arthur penuh penekanan
"gak usah galak-galak bos, saya juga mau keluar ini. ingat doi masih istri orang jangan main terkam aja" ucap dimas kemudian keluar dari ruangan arthur dengan sedikit berlari
"DIMASSS... minta di pecat kamu ya" teriak arthur geram dengan tingkah konyol dimas
jingga yang masih berdiri tidak tahu harus berbuat apa, jingga masih tidak percaya jika hana dan dimas sengaja mengerjainya sampai bisa terjebal di perusahaan milik arthur seperti ini. mau mengundurkan diri pun rasanya tidak mungkin karena jingga sudah terlanjur tanda tangan kontrak dengan pihak HRD sebelum masuk ke dalam ruangan arthur
"ehemmmm" deheman arthur membuyarkan lamunan jingga
"kamu tidak pegal terus berdiri sejak tadi?" tanya arthur dengan wajah galaknya buat jingga semakin ketakutan
"duduk" titah arthur
"jadi apa tujuan utama kamu mau bekerja di perusahaan ini?" tanya arthur ketika jingga sudah duduk di hadapannya
"buat ngisi waktu luang saya saja pak" jawab jingga
"kebetulan di rekomendasikan oleh teman saya dan saya ingin mandiri dan tidak mau bergantung kepada orang tua saya" jawab jingga masih menundukan kepalanya
"kalau bicara itu tatap lawan bicara kamu bukan malah menunduk seperti itu"
"ma..maaf"
"kamu yakin mau bekerjasama disini sebagai sekretaris pribadi saya?" tanya arthur menatap jingga lekat
"ya..yakin" jawab jingga gugup
"sudah tahu tugas sekretaris pribadi itu seperti apa?"
"belum semua tahu, mungkin bisa sambil belajar"
"baiklah mulai besok kamu bisa mulai bekerja, ingat semua tugas kamu jangan sampai membuat kesalahan jika ada yang belum kamu mengerti bisa tanyakan kepada dimas atau saya sendiri" ucap arthur
"baik, terima kasih banyak. apa sekarang saya boleh pulang?"
"silahkan"
__ADS_1
tanpa banyak berbasa-basi arthur pun tidak menolak jingga yang akan menjadi sekretaris pribadinya yang baru namun arthur sangat yakin jika di balik semua ini pasti ada campur tangan dimas dan hana karena tidak mungkin jika jingga sengaja melamar ke perusahaan miliknya pasti jingga akan berpikir seribu kali sebelum melakukan itu semua.
arthur tidak tahu apa yang tengah di rencanakan oleh dimas dan hana, kali ini arthur akan mengikuti permainan kedua sahabatnya itu, arthur tidak mau repot memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini arthur akan mengikutinya sesuai alur tanpa banyak protes
sedangkan jingga saat ini sedang clingak clinguk mencari keberadaan hana dan dimas, jingga yakin jingga hana dan dimas sudah bekerja sama agar jingga bisa tanpa sadar melamar pekerjaan di perusahaan milik arthur
jingga memilih bertanya kepada karyawan yang sengaja berpapasan dengannya untuk menanyakan dimana ruangan hana berada, beruntung seorang karyawan pria yang sudah tak lagi muda itu mau memberitahu jingga, tanpa banyak membuang waktu lagi jingga langsung menghampiri hana di ruangannya
tok
tok
tok
"masuk" seru hana
"na" panggil jingga dengan memasang wajah kesal
"ji, sudah selesai interviewnya? bagaimana hasilnya? kamu di terima kan kerja disini?" hana memberondong pertanyaan kepada jingga
"kenapa kamu tidak bilang kalau ini perusahaan milik arthur?" jingga mengalihkan pembicaraan
"bukannya aku udah cerita kan kalau aku kerja di perusahaan arthur, aku kira kamu sudah tahu makanya aku tidak cerita lagi" kilah hana dengan menahan senyumnya
"kamu sama dimas sedang tidak merencanakan sesuatu kan?" jingga menatap hana dengan tatapan menyelidik
"rencana apa sih ji, aku hanya bantu kamu dapat pekerjaan itu saja" lagi-lagi hana mengelak
jingga terdiam tidak ada gunanya juga jingga terus menyalahkan hana, mungkin memang jingga yang benar-benar lupa lagipula semuanya sudah terlanjur tidak mungkin jika jika harus mundur
"oh ya, apa kamu sudah memberitahukan permintaanku sama suami kamu?" tanya jingga teringat dengan permintaannya tempo hari
"sudah" jawab hana
"aku mau selesai tepat saat hari ulang tahun pernikahanku dengan mas tama" pinta jingga
"kapan itu?" tanya hana
"satu minggu lagi" jawab jingga
"kamu yakin tidak akan merubah keputusan kamu ji?" tanya hanya memastikan
"sangat yakin na" jawab jingga
"ya sudah nanti aku kabari suamiku dulu"
"oke, aku pulang ya besok aku sudah mulai bekerja"
__ADS_1
"serius?"
"ya"