JINGGA (The Second Wife)

JINGGA (The Second Wife)
keserempet mobil


__ADS_3

"lho jingga kenapa na?" tanya Dimas melihat hana menggandeng lengan jingga


"keserempet mobil barusan" jawab hana


"astaga, kok bisa?" tanya dimas lagi


"ya bisa-bisa aja namanya juga musibah dim, nih bawain makanan sama kopi pesanan bos bawa ke ruangannya" hana menyodorkan satu paper bag berisi makanan dan kopi nya


"jingga obatin dulu na nanti lukanya infeksi" titah dimas mengekori jingga dan hana yang hendak masuk ke dalam ruangan arthur


ceklek


pintu ruangan pun terbuka arthur kaget karena melihat penampilan jinhga yang sedikit kotor dan berantakan


"ada apa ini?" tanya arthur dengan suara bass nya


"jingga keserempet mobil bos" jawab dimas


"kok bisa?" arthur langsung mengecek keadaan jingga yang sudah duduk di atas sofa


"ya bisa itu buktinya" tunjuk dimas pada sikut jingga yang terluka dan kemejanya yang sobek


"aku nanya jingga bukan kamu dim" protes arthur


"kamu yang aneh ar orang lagi kesakitan itu di obatin bukan di tanya-tanya, nih minuman kamu biar gak marah-marah mulu" dimas menydorkan paper bag kepada arthur


"ya sudah kalian bisa balik ke ruangan kalian lagi biar aku yang obatin jingga" titah arthur seakan terganggu dengan kehadiran hana dan dimas


"ingat bos kalau hanya berdua di sebuah ruangan yang ketiganya adalah setan" ucap dimas terkikik


"DIMAS.... keluar sekarang" titah arthur


"minuman punya hana dan dimas masih di dalam situ ar" seru jingga membuat arthur menoleh ke arahnya


"apa? aku salah ngomong?" tanya jingga melihat arthur hanya diam menatap jingga


setelah menadapatkan minumannya yang di berikan oleh jingga, hana langsung menarik tangan dimas keluar dari ruangan arthur sebelum taring arthur benar-benar keluar, hana yakin arthur sangat hanya untuk mengobati luka lecet di sikut jingga.


sedangkan arthur masih tetap memandangi wajah jingga hanya karena jingga menyebut namanya tanpa embel-embel 'bapak'.


tanpa berbicara sepatah katapun arthur langsung mengambil kotak p3k untuk mengobati luka jingga sebenarnya jingga lebih baik di obati oleh hana ataupun dimas tapi melihat tatapan arthur yang seolah tidak mengijinkan jingga di obati orang lain jingga terpaksa harus menuruti apa perintah dari bosnya itu

__ADS_1


"sini tangan kamu" ucap arthur sambil menarik tangan jingga untuk di obati


"awww, pelan-pelan dong. sakit tau" protes jingga karena arthur menekan kapasnya terlalu kuat


"maaf, sebenarnya kenapa sampai terjadi seperti ini?" tanya arthur


"namanya musibah siapa yang tahu" jawab jingga


"ya kalau kamu hati-hati pasti tidak akan terjadi hal seperti ini masih mending kamu cuman keserempet kalau ketabrak terus masuk rumah sakit gimana?" omel arthur


"kamu doain aku biar celaka lebih parah dari ini?" tuduh jingga menarik tangannya dari tangan arthur


"diem dulu ini belum selesai, jangan suudzon makanya. dari pagi aku lihat kamu seperti tidak fokus banyak murungnya, kalau sedang di jalan itu jangan kebanyakan melamun bahaya buktinya ini kan" lagi-lagi arthur mengomel seperti emak-emak kompleks


"iya, iya tumben cerewet biasanya juga gak pernah peduli" sungut jingga secara tidak sadar


"aku begini karena peduli sama kamu" ceplos arthur membuat jingga sedikit salah tingkah


"ya sudah ini makanan kamu kan? ayok di makan dulu biar otak kamu kembali normal" titah arthur kembali ke mode galaknya


"makannya dimana?" tanya jingga konyol


"tuh kan marah-marah lagi, bisa gak sih ar kamu itu jangan terlalu galak sama aku? kamu masih dendam sama aku? aku kan udah minta maaf kenapa masih aja galak, dasar bos kejam" sungut jingga mulai menikmati makanan yang dia beli di cafe tadi tanpa memperdulikan arthur yang mungkin sudah kesal karena ucapan jingga


"bisa makannya tidak? sini biar aku suapin" tawar arthur


"tidak usah, aku bisa sendiri" tolak jingga


arthur menggaruk tengkuknya, setelah sekian lama arthur bisa kembali melihat jingga marah-marah dengan bibir mengerucut membuat arthur tidak tahan untuk melahapp bibir tipis milik jingga... 'eehh'


"sudah selesai?" tanya arthur melihat jingga membereskan tempat makannya


"sudah" jawab jingga


"baju kamu gimana?" tanya arthur lagi


"memangnya kenapa?" tanya balik jingga


"itu kan robek ji, kamu mau nanti pulang kerja jadi bahan tontonan orang satu kantor karena baju kamu robek dan kotor" ucap arthur


"terus aku harus bagaimana? gak mungkin aku pergi ke mall atau ke butik dengan pakaian seperti ini kan?" tanya jingga

__ADS_1


tanpa menjawab ucapan jingga, arthur langsung menghubungi seseorang lewat ponselnya, jingga uang sudah menghabiskan makanannya berniat untuk kembali kerja karena di rasa tubuhnya baik-baik saja dan tidak mengalami sakit yang begitu kentara hanya sedikit rasa perih di bagian sikut dan ngilu di bagian punggung karena terbentur trotaor


"kamu diam saja tidak usah kerja, lagipula pekerjaan kamu sudah selesai kan. lebih baik istirahat saja" ucap arthur membuat jingga mengernyit heran


"beneran gak apa-apa? nanti gaji aku tiba-tiba di potong lagi" celetuk jingga


"aku cuma gak mau di sebut bos kejam lagi, tiduran saja di sofa aku ada meeting sebentar lagi jadi tidak akan ada yang ganggu kamu istirahat" titah arthur


"baiklah, seandainya kamu selalu bersikap seperti ini pasti aku akan betah lama-lama deket kamu ar" gumam jingga membuat arthur keheranan


"bicara apa kamu?" tanya arthur


"tidak" elak jingga


"jangan bohong" tuduh arthur


"aku cuman ngomong kamu ternyata ada sisi baikya juga"


"memangnya kamu lupa bagaimana baiknya aku dulu?"


jlebbb


ucapan arthur sangat mengena di hati jingga, memang arthur sangat baik bahkan lebih dari kata baik sebagai seorang pria dulu selama jingga berpacaran dengan arthur tak pernah sekalipun arthur membentak jingga ataupun bersikap kasar kepada jingga, arthur lebih memilih mengalah jika mereka sedang bertengkar sekalipun jingga yang salah. arthur juga sangat menghormati perempuan arthur tidak pernah menyentuh melebihi batas di saat berpacaran dengan jingga dulu. ada rasa penyesalan di hati jingga kenapa dulu dengan mudah menerima perjodohan yang di tawarkan ayah salim


"kenapa melamun ji?" tanya arthur melihat jingga menatapnya dengan tatapan kosong


"ah tidak, punggungku hanya tersa sedikit ngilu" elak jingga


"ya sudah kamu istirahat saja, aku mau meeting dulu dengan semua kepala divisi biar dimas yang mencatat poin-poin penting dalam pembahasan meeting kali ini dan kamu hanya perlu mempelajarinya nanti" ucap arthur yang bersiap untuk keluar ruangan


"baik pak bos, terima kasih atas perhatiannya" sahut jingga tersenyum ke arah arthur


"ya"


sepeninggalnya arthur, jingga langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa yang cukup nyaman untuk tidur disana. karena memang badan jingga yang terasa tidak enak akhirnya jingga pun terlelap bahkan bunyi ponselnya yang berdering beberapa kali tidak membuat jingga terbangun


hampir satu jam jingga tidur, jingga mengucek-ngucek matanya yang masih terasa sedikit mengantuk, jingga mengadarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan ternyata arthur belum kembali dari meetingnya


mata jingga memicing ketika melihat ada sebuah paper bag bertuliskan nama butik terkenal ada di atas meja depan sofa sudah di pastikan isinya adalah sebuah oakaian nun yang menjadi pertanyaan jingga adalah dari mana pakaian itu berasal dan untuk siapa


jingga memilih tidak membuka paperbag itu karena takutnya itu paper bag milik arthur yang di antar oleh kurir

__ADS_1


__ADS_2