
Akhir pekan yang di sudah di nanti-nanti oleh Arthur akhirnya tiba dengan semangat menggebu-gebu Arthur benar-benar merealisasikan ucapannya yang ingin berkunjung ke rumah Jemi untuk mengobrol santai dengan pria yang Arthur claim sebagai calon kakak iparnya meskipun tujuan sebenarnya bukan untuk bertemu dengan sang pemilik rumah namun Arthur sudah bertekad akan mengambil hati Jemi agar merestui hubungannya dengan Jingga yang masih belum jelas akan seperti apa kedepannya
Ting nong
Ting nong
Ting nong
Berulang kali Arthur menekan bel rumah Jemi akhirnya pintu pun terbuka dengan penampakan langsung sang pemilik rumah dengan menautkan kedua alisnya, merasa aneh dengan apa yang Jemi lihat di hadapannya saat ini
"Sore kak" sapa Arthur dengan senyum khasnya
"Sore... Kamu kesini bawa sembako? Buat siapa?" Tanya Jemi heran
"Oh ini... Ini bukan sembako kak tapi buah favorit Jingga aku sengaja bawa banyak buat stok" jawab Arthur menunjuk satu buah karung yang sengaja dia bawa sebagai buah tangan
"Wahh unik ya biasanya orang kalau bertamu itu bawa parcel buah atau makanan yang sedikit berkelas gitu, ini kok bawa karung" ucap Jemi yang sudah tidak bisa lagi menahan tawanya
"Itu kan orang-orang kak, aku mau sedikit lebih berbeda saja" sahut Arthur
"Emang kamu gak malu bawa-bawa karung kayak tukang rongsokan gini? Ya Tuhan kamu benar-benar luar biasa Ar, ini isinya apa sih sebenarnya? Berat banget deh kayaknya" ucap Jemi sambil menekan-nekan apa yang ada di dalam karung itu
"Ini buah alpukat kak, buah kesukaan Jingga. Aku sangat tahu sekali makan Jingga bisa ngabisin 1 kilo buah alpukat makanya aku bawa satu karung" sahut Arthur penuh percaya diri
Jemi menepuk keningnya, benar-benar tingkah Arthur sangat di luar dugaannya, Jemi tahu kalau Jingga sangat menyukai buah alpukat tapi tidak harus berlebihan seperti ini juga, Jemi menggeleng-gelengkan kepalnya sambil terus menyemburkan tawanya
"Kenapa gak bawa pohonnya sekalian kesini Ar, biar langsung di tanam sama Jingga di taman belakang". Celetuk Jemi masih dengan sisa tawanya
"Mungkin lain kali akan aku pikirkan, Jingga nya ada kan?" Tsahut Jemi clingak-clinguk mencarink keberadaan Jingga
"Ya Tuhan kakak sampai lupa ngajak kamu masuk" Jemi kembali menepuk keningnya sendiri
"Gak masalah kak" sahut Jemi
" Ayo masuk dulu, kakak panggilkan Jingga di kamarnya" ajak Jemi
__ADS_1
Dengan senang hati Arthur mengekori langkah Jemi ke dalam rumah, Arthur melupakan alpukat satu karungnya yang masih dia simpan di teras rumah, Arthur memainkan ponselnya sambik menunggu Jingga turun dari kamarnya namun suara teriakan yang sangat familiar di telinganya mengalihkan fokus Arthur dari ponselnya
"Uncle Arthur" teriak Sabia antusias sambil berlalri je arah Arthur
"Hai sabia cantik, sudah lama ya kita gak ketemu" sahut Arthur membawa sabia duduk di pangkuannya
"Uncle kemana aja? Kenapa gak pernah ngajak biaakan pizza sama es krim lagi?" Tanya sabia lucu
"Uncle kerja sayang tapi tenang aja, uncle udah bawa es krim sama pizza kesukaan bia, bia mau?" Tawar Arthur
"Mau, mau, mau... Mana?" Sabia menengadahkan jedua telapak tangannya
"Ayok kita ambil di mobil" ajak Arthur menggendong Sabia
"Lets go" seru Sabia bersorak
Setelah mendengar cerita dari Jemi, Jingga yang awalnya malas melakukan apapun dan hanya ingin bermalas-malasan di atas kasur seketika jiwa keponya meronta-ronta sangat penasaran dengan ulah Arthur yang membuat Jemi geleng-geleng kepala, setelah merapikan baju dan menyisir rambutnya Jingga turun ke bawah untuk mmbertemu Arthur namun ketika sampai di ruang tamu Jingga tidak melihat siapapun, penasaran Jingga pun melihat keluar rumah karena pintunya terbuka. Jingga kaget karena ada karung besar yang teronggok di sudut teras, tak lama muncul Aethur yang tengah menggendong sabia sambil menenteng beberapa box pizza dan kantong berisi es krim
"Lho sayang kamu dari mana nak?" Tanya Jingga melihat Sabia dalam gendongan Arthur
"Kok banyak banget"
"Kan buat rayn sama raisa juga, mami mau?" Tawar Sabia
"Masuk ke dalam dulu aja ya" ajak Jingga sambil melirik ke arah Arthur
Setelah masuk ke dalam rumah Sabia minta di turunkan dari gendongan Arthur karena ingin menemui Rayn dan Raisa, sambil membawa box dan es krim yang di belikan oleh Arthur, Sabia berlalri sambil meneriaki dua ponakannya itu
"Itu karung di depan kamu yang bawa?" Tanya Jingga dengan tatapan tajam
"Yes" jawab Arthur
"Buat apa? Udah alih profesi jadi tukang rongsokan hm?" tanya Jingga lagi
"Itu buat kamu Ji, lihat dulu dong isinya apa jangan ngomel dulu" sahut Arthur
__ADS_1
"Memangnya isinya apa? Gak jelas banget dateng kesini tiba-tiba bawa karung" ucap Jingga menahan tawanya
Arthur menarik tangan Jingga untuk melihat apa isi dari karung yang Arthur bawa
"Taaadaaaaaa, suka kan?" Tebak Arthur
"Ya Tuhan, kamu dapet dari mana alpukat sebanyak ini? Bukan nyolong kan?" Tuduh Jingga
"Sembarangan aja itu mulut kalau ngomong" gerutu Arthur
"Ya terus dari mana? Buat apa juga bawa alpukat sampai satu karung, mau jualan?"
"Buat kamu lah Ji, kamu kan suka banget sama alpukat"
"Ya gak sebanyak ini juga kali Ar, kamu mau buat aku mabok alpukat"
"Dari pada mabok yang lain mending mabok alpukat"
Jingga semakin menatap Arthur tajam, Jingga yakin ada sesuatu yang Arthur inginkan sampai Arthur datang ke rumah Jemi dengan membawa satu karung alpukat dan menyogok sabia dengan beberapa box pizza dan banyak es krim, Jingga teringat dengan perkataan Arthur tempo hari yang akan memperjuangkan kembali kisah cinta mereka yang pernah kandas, namun Jingga tidak mengira bahwa Arthur akan berjuang secepat ini dan melakukan hal di luar nalar, biasanya seorang pria akan memberikan bunga atau perhiasan untuk mendekati seorang wanita tapi kenapa Arthur memilih satu karung alpukat untuk meluluhkan hati Jingga???
Benar-benar unik...
dari dulu memang Arthur susah di tebak kadang konyol, kadang romantis dan kadang sangat menyebalkan tapi satu hal yang Jingga tahu, Arthur mempunyai hati yang tulus dan sangat setia
"Kamu kesini mau ketemu aku apa kak Jemi?" Tanya Jingga
"Tujuan utamanya sih mau ketemu sama kamu tapi ada sesuatu yang mau aku ngomongin sesuatu sama kak Jemi" jawab Arthur membuat Jingga penasaran
"Ngomong apa?" Selidik Jingga
"Mau minta restu" sahut Arthur
"Aku serius Ar" ucap Jingga
"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?" Tanya Arthur
__ADS_1
Jingga diam, tidak ada gunanya juga selalu menyela ucapan Arthur, ujung-ujungnya pasti Jingga sendiri yang akan di buat kesal. Jingga memilih pasrah, terserah apa yang ingin Arthur lakukan sekarang Jingga cukup jadi penonton saja namun jika memang apa yang Arthur ucapkan jika dia ingin meminta restu kepada Jemi, berarti semua yang Arthur ucapkan selama ini benar-benar serius bukan hanya omong kosong