JINGGA (The Second Wife)

JINGGA (The Second Wife)
pratama sakit


__ADS_3

semakin dalam penyesalan yang tama rasakan saat ini jika saja dulu tama bisa bersikap lebih tegas lagi mungkin semuanya tidak akan menjadi rumit seperti ini, sudah lewat tengah malam namun tama masih terjaga dengan menatap wajah cantik jingga yang sudah tidur begitu lelap


niat hati ingin memperbaiki hubungannya dengan jingga namun kenyataannya tama kembali membuat jingga kecewa


tama mengingat kembali perjalanan rumah tangganya bersama jingga yang di awali tanpa ada rasa cinta di antara mereka sampai seiring berjalannya waktu rasa cinta itu hadir tanpa di minta, tama benar-benar sudah mencintai jingga begitu dalam apalagi sejak kehadiran sabia membuat tama semakin tidak bisa untuk kehilangan jingga dan jujur saja perlahan perasaannya untuk laras semakin menipis bahkan nyaris hilang


tanpa terasa airmata tama menetes begitu saja mengingat setiap moment indah yang sudah dia lalui bersama jingga selama tujuh tahun ini, wanita sempurna yang selalu mengerti dan menemani tama dalam keadaan apapun, menjadi penenang di saat tama merasa penat dengan urusan pekerjaan hanya jingga seorang tempatnya untuk pulang, hanya jingga wanita sempurna di mata pratama bahkan laras yang menjadi cinta pertamanya tidak mampu untuk mengalahkan pesona seorang jingga maharani


"aku mohon bersabarlah sebentar lagi aku janji akan melepaskan laras setelah anak itu lahir sayang" batin tama masih memandang lekat jingga dengan rasa bersalah dan penuh penyesalan


terdengar sangat egois memang namun itulah yang di rasakan tama sekarang, tama benar-benar sudah tidak merasa nyaman dengan hubungannya dengan laras apalagi dengan sikap posesif laras membuat tama semakin muak jika terlalu lama berdekatan dengan laras jika bukan karena anak yang sedang di kandung laras saat ini tama tidak ingin terlalu sering berkunjung ke apartemen laras yang dia belikan sendiri sejak pertama kali menikahi laras


tanpa sadar tama tertidur dengan posisi duduk di atas sofa yang berhadapan dengan ranjang tempat tidurnya bersama jingga, tama tertidur menjelang subuh tanpa selimut dan tanpa bantal ataupun guling


pagi menjelang jingga bangun dan bersiap untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim sebelum menyiapkan keperluan sekolah sabia dan pakaian yang akan di kekanan tama saat ke kantor nanti, namun sebelum benar-benar beranjak dari ranjang mata jingga memicing kala melihat sang suami yang masih terlelap dengan posisi duduk terlihat sangat tidak nyaman


jingga mendekati tama untuk membangunkan tama karena adzan subuh sudah berkumandang


"mas ke....." ucapan jingga terjeda karena saat menyentuh pipi tama terasa panas


"astagfirullahaladzim, mas kamu sakit? badan kamu demam" jingga bergumam


"mas bangun, kenapa tidur disini ayok pindah" jingga membangunkan tama dengan lembut dan berusaha memapah tubuh tama untuk memindahkannya ke atas ranjang


"ya Allah berat banget" gumam jingga

__ADS_1


"sayang kamu ngapain?" tama terbangun karena merasa pergerakan di sekitar tubuhnya


"mau pindahin ke ranjang badan kamu demam kenapa malah tidur di sofa" sahut jingga terus berusaha mengangkat tubuh tam membuat tama menyunggingkan senyumnya


"aku ketiduran sayang maaf, aku berat lho biar aku jalan sendiri aja" tama berusaha berdiri namun karena kepalanya yang terasa cukup pusing akhirnya tama kembali terjungkal ke atas sofa


"di bilangin badan kamu demam, sini aku bantu kepala kamu pasti pusing itu" omel jingga namun membuat tama senang


akhirnya jingga memapah tubuh tama untuk berbaring di atas ranjang, jingga menyelimuti tama sampai di bagian perut kemudian pamit ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat subuh


tanpa mengalihkan pandangannya tama terus menatp jingga sampai menghilang di balik pintu ke kamar mandi


"meskipun sedang kesal tapi kamu masih perhatian sama aku ji" gumam tama dengan tersenyum tipis


tama menunggu jingga selesai menyelesaikan kewajibannya tanpa kembali tidur, wajah tama semakin terlihat pucat dan bibirnya pecah-pecah


"mas demamnya semakin tinggi, badan kamu juga menggigil. aku panggil dokter aja ya" ucap jingga tama pun menganggukan kepalanya sebagai jawaban


jingga mengambil air untuk mengompres tama sebelum dokternya datang, jingga juga berpesan kepada bi idah untuk menyiapkan keperluan sekolah sabia dan mengantarkan sabia ke sekolah karena hari ini jingga harus merawat tama yang sedang tidak enak badan


sedangkan di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang advertising dua orang pria sedang berbincang di sebuah ruangan yang cukup luas dan nyaman namun tetap saja jika masih berada di wilayah perkantoran terasa membosankan karena berkutat dengan setumpuk pekerjaan


waktu masih menunjukan pukul 07:00 belum waktunya seorang pekerja kantoran memulai aktifitasnya namun tidak berlaku bagi arthur pria yang sedang berbincang hangat di ruangan itu bersama sang sahabat dimas, bagi arthur ruangannya itu bisa di sebut sebagai rumah kedua baginya yang masih berstatus lajang di usianya yang sudah cukup matang untuk memiliki seorang istri namun entah karena alasan apa arthur masih betah dengan kesendiriannya di saat dirinya sudah sangat mapan dalam segi apapun


"lo tidur di kantor lagi bro?" tanya dimas duduk di sofa yang berhadapan dengan meja kerja arthur

__ADS_1


"seperti yang lo lihat" jawab arthur membenarkan dasinya yang masih tampak berantakan


"miris banget gue lihat hidup lo, tampan sudah jelas, tajir gak usah di ragukan lagi tapi kenapa masih jomblo mase? nyari bini kek biar hidup lo gak beraturan kayak gini" cecar dimas merasa tidak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya itu


"gue nyuruh lo dateng pagi-pagi kesini bukan buat ceramah dim, lo mau ikut-ikutan nyokap gue ngurusin soal jodoh gue hah?" hardik arthur menatap tajam


"selow bro gue cuman gak mau lo gak kesepian aja" tegas dimas


"gimana kabar dia sekarang dim?" tanya arthur mengalihkan pembicaraan membuat dimas mengernyitkan keningnya


"maksud lo siapa ar? gak paham gue" tanya dimas balik


"jingga maharani" jawab arthur menatap lurus ke arah jendela besar di ruangannya


"astoge, lo masih ngarepin bini orang? yang single masih banyak kali" dimas menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang arthur ucapkan


"gue cuman mau dia dim, bantu gue dong biar dia cerai sama suaminya" mohon arthur


"ogah" tolak dimas


"please dim bukannya lo yang paling ngedukung gue buat jadi pebinor" arthur mengatupkan kedua tangannya tepat di depan wajah dimas


"ngedukung gigi lo" dimas menoyor kening arthur saking kesalnya


"please dim, gue kasih apapun asalkan lo mau bantuin gue" bujuk arthur dengan wajah memelasnya

__ADS_1


"hanya karena bini orang lo rela sampai mohon-mohon kayak gini, be go"


__ADS_2