JINGGA (The Second Wife)

JINGGA (The Second Wife)
Tangisan Jingga, Tama dan Sabia


__ADS_3

beberapa bulan kemudian


Jingga dan Tama sudah melakukan dua kali sidang perceraian mereka hanya tinggal menunggu sidang ketiga mereka dan Jingga sudah siap untuk menyandang status sebagai seorang janda beranak satu.


dari awal sidang mediasi sampai hari ini Jingga melewati proses yang tidak mudah karena Tama bersikeras tidak ingin bercerai dari jingga namun dengan semua bukti-bukti yang sangat kuat dan memberatkan akhirnya pihak pengadilan menyetujui gugatan cerai yang di layangkan oleh Jingga beberapa bulan yang lalu, jika di tanya kondisi Tama saat ini, dia benar-benar terpuruk Tama terlalu percaya diri jika dia bisa mempertahankan rumah tangganya dengan Jingga namun ternyata dugaannya salah rumah tangga yang sudah dia bangun selama tujuh tahun ini sebanyak lagi akan berakhir menyisakan penyesalan yang begitu dalam bagi Tama, menyesal karena sejak awal Tama tidak tegas dengan dirinya sendiri dan terlalu serakah sampai menginginkan Jingga dan Laras menjadi istrinya.


dengan langkah gontai Tama memasuki mobilnya berharap bisa membujuk Jingga untuk mengubah keputusannya sebelum pernikahan mereka benar-benar berakhir.


Tama mengendarai mobilnya menuju ke rumah Jemi karena sampai sekarang Jingga dan Sabia masih tinggal disana


**Ting nong**


Ting nong


Ting nong


Dengan setia Tama menunggu pintu rumah Jemi terbuka dan setelah beberapa menit menunggu akhirnya pintu terbuka dan menampilkan sosok sang kakak ipar


"Tama" seru Jemi mengerutkan keningnya melihat Tama yang tiba-tiba datang ke rumahnya


"Jingga ada kak? aku ingin bertemu dengan Jingga sebentar saja" mohon Tama dengan wajah memelas


"masuklah, Jingga ada di dalam biar kakak panggilkan" titah Jemi kemudian membuka pintu semakin lebar


"terima kasih kak" ucap Tama lalu duduk di atas sofa ruang tamu


Jemi berjalan menuju kamar Jingga yang berada di lantai atas, sebenarnya Jemi sudah lelah melihat Tama yang terus menerus membujuk Jingga agar mengubah keputusannya namun melihat wajah Tama yang terlihat menyedihkan Jemi menjadi tega


tok


tok

__ADS_1


tok


"Ji boleh kakak masuk?" seru Jemi dari balik pintu


"masuk saja kak" sahut Jingga


"ada Tama, temuilah dulu mungkin ada sesuatu yang ingin dia sampaikan" titah Jemi


"tapi aku malas kak pasti dia membahas hal yang itu-itu lagi, aku bosan mendengarnya" tolak Jingga


"kakak mohon kali ini saja kakak tidak tega melihat Tama yang sangat menyedihkan seperti itu Ji" mohon Jemi


"baiklah, aku temui dia" putus jingga berjalan menuju ruang tamu


sesampainya di ruang tamu jingga melihat Tama yang sedang duduk sambil menunduk, penampilannya tidak seperti biasanya kali ini terlihat seperti tidak terurus dan sangat berantakan, wajahnya Tama pun terlihat kusam tidak segar seperti biasanya


"ada apa?" tanya Jingga


"akhirnya kamu mau ketemu sama mas Ji, mas kangen" jawab Tama mengulas senyuman tipis di bibirnya


"duduk dulu Ji ada sesuatu yang ingin mas sampaikan dan mas mohon jangan pergi sebelum mas selesai bicara" pinta Tama


"bicaralah" ucap Jingga duduk di samping Tama


Tama menatap jingga dengan tatapan yang sulit di artikan, ingin sekali rasanya Tama memeluk jingga dan tidak ingin melepaskannya lagi namun Tama cukup sadar diri jangankan untuk memeluk, memandang wajah Tama pun sepertinya jingga begitu enggan


tanpa Jingga duga tiba-tiba Tama bersimpuh di hadapan Jingga dengan air mata yang sudah membasahi pipinya


"mas jangan seperti ini" ucap Jingga berusaha membangunkan Tama namun Tama seolah menulikan pendengarannya


"Jingga apa sudah benar-benar tidak ada kesempatan lagi untuk kita? mas sungguh-sungguh tidak ingin berpisah Ji tolong pikirkan sekali lagi saja, mas menderita tanpa kamu dan Sabia" ucap Tama terisak

__ADS_1


"mas bukannya sudah sering kita bahas sebelumnya ya, semuanya sudah selesai mas tidak ada lagi kesempatan untuk kita. semuanya sudah benar-benar hancur" sahut Jingga


"apa kamu sudah benar-benar tidak mencintai mas lagi? sekali saja Ji, sekali saja berikan mas kesempatan untuk memperbaiki semuanya mas janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. mas menyesal, sangat-sangat menyesal"


"mungkin pernikahan kita memang cukup sampai disini mas, aku minta maaf karena memang kesempatan itu sudah tidak ada lagi. hatiku benar-benar sudah hancur mas bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya untuk menyembuhkan luka yang kamu berikan buat aku"


"Ji mas mohon...."


"mas jangan seolah-olah kamu yang paling tersakiti disini, segala sesuatu yang sudah hancur sulit untuk di perbaiki lagi sekalipun bisa dipaksakan tapi rasanya tidak akan sama. sudahlah kamu lanjutkan saja pernikahanmu dengan istri pertama kamu itu mau bagaimanapun keadaannya disini aku hanya sebagai yang kedua yang berhak memiliki kamu memang istri pertama kamu. aku menyerah mas aku mengaku kalah ternyata aku tidak sekuat itu untuk mempertahankan rumah tangga kita" ucap Jingga yang terus menekan rasa sesak di dalam dadanya


"tapi yang mas mau hanya kamu jingga, mas cinta nya sama kamu bukan sama Laras" sahut Tama


"cinta tidak ada yang menyakiti mas, jika saja aku tahu dari awal aku hanya akan dijadikan yang kedua tentu akan menolak karena tidak akan ada satupun wanita yang mau berbagi suami dengan wanita lain termasuk istri pertama kamu begitupun dengan aku. seharusnya memang tidak pernah ada pernikahan di antara kita, dan sekarang aku melepaskan kamu untuk kembali ke pelukan istri pertama kamu mas karena dia yang lebih berhak" Isak Jingga yang sudah tidak bisa menahan lagi air matanya


"papi...." suara lembut Sabia membuat Tama dan Jingga semakin sakit, mereka tidak sadar jika sejak tadi Sabia sudah melihat dan mendengar apa yang kedua orang tuanya bicarakan


Sabia berjalan dengan memeluk boneka kesayangannya yang diberikan oleh Tama saat mereka pergi liburan ke Bali


Tama langsung memeluk tubuh mungil Sabia dan menumpahkan semua tangisannya, rasanya sakit benar-benar sakit seperti di tusuk oleh belati yang sangat tajam


"maafkan papi sayang, maaf papi sudah membuat mami dan Sabia terluka" ucap Tama tanpa melepaskan pelukannya


"papi sudah tidak sayang lagi sama mami dan bia ya?" tanya Sabia membuat Tama semakin merasa bersalah


"tidak sayang, papi sangat menyayangi bia dan mami tapi papi sudah jahat sama mami dan membuat mami menangis" jawab Tama menatap wajah cantik Sabia yang juga sudah penuh dengan air mata


"kenapa papi membuat mami menangis? kenapa papi jahat sama mami?" tanya Sabia polos


bukannya menjawab Tama semakin mempererat pelukannya di tubuh Sabia, Tama sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, rasa penyesalannya semakin mendalam kala melihat tangisan sabia.


putrinya yang belum mengerti dan belum tahu apa-apa harus menjadi korban keegoisannya selama ini.

__ADS_1


Jingga terus menangis hatinya sakit melihat putri kesayangannya harus merasakan bagaimana menjadi anak broken home, Jingga terus memukul-mukul dadanya berharap rasa sesak itu akan segera hilang namun nyatanya tidak semudah itu apalagi ketika melihat sorot mata Sabia yang menyiratkan kesedihan yang begitu dalam


"maafkan mami sayang"


__ADS_2