JINGGA (The Second Wife)

JINGGA (The Second Wife)
kesakitan jingga


__ADS_3

tok


tok


tok


"ji buka pintu mobilnya" seru jemi khawatir dengan keadaan sang adik


jemi langsung memeluk jingga saat pintu mobil di buka oleh jingga, jingga menumpahkan semua rasa sakit yang dia rasakan di pelukan jemi. hati jemi ikut merasa sakit melihat adik yang selama ini dia jaga di sakiti oleh orang terdekatnya dan ironisnya orang itu adalah ayah kandungnya sendiri. rasa marah dan kecewa jemi rasakan saat ini kepada ayah salim, kenapa sang ayah sampai tega membuat jingga hidup dalam penuh luka seperti ini


"kak aku salah apa? dulu bunda ninggalin kita sekarang ayah malah sengaja membuat aku hidup seperti di neraka, salah aku apa kak? apa?" lirih jingga sambil menangis


"kamu gak salah apa-apa ji mungkin ayah ngelkuin ada alasannya, mungkin ayah ingin kamu mendapatkan pasangan yang baik" sahut jemi masih memeluk erat jingga


"baik seperti apa? tidak ada laki-laki baik yang menghamili seorang wanita sebelum menikah, ayah tahu itu tapi kenapa ayah masih maksa aku buat menikah dengan tama? apa ayah gak sayang sama aku kak? apa aku bukan anak kandung ayah?" tanya jingga memandang wajah sang kakak


"ternyata aku cuma jadi yang kedua kak, hati aku sakit, dada aku sesek, ini gak adil buat aku kak... aku hancur sekarang" lanjut jingga dengan terus berderai airmata


"ji jangan seperti ini, hati kakak sakit liat kamu hancur dan terpuruk kayak gini" ucap jemi berusaha menenangkan jingga


"tapi kenyataannya sekarang hidup aku udah hancur kak, apa sekarang masih pantas aku menyebut ayah sebagai cinta pertamaku kak? seorang ayah yang seharusnya memberi aku kehidupan seperti di surga tapi dengan sengaja ayah memasukan aku ke dalam neraka"


setiap ucapan yang jingga katakan membuat jemi semakin sakit, jemi merasa tidak bisa menjadi kakak yang baik untuk jingga, seandainya jemi tahu semua ini dari awal jemi tidak akan membiarkan jingga hidup bertahun-tahun penuh kesakitan dan kebohongan


jemi tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memberikan pelukan kepada jinnga, menguatkan jingga bahwa jingga tidak sendiri masih ada dirinya yang selalu afa untuk jingga dalam keadaan apapun dan terutama jingga masih mempunyai sabia yang menjadi penyemangat agar jingga tetap kuat


"ayah benar-benar keterlaluan" geram jemi


"kak jangan bilang sama ayah ataupun tama kalau aku udah semuanya ya" pinta jingga


"kenapa? seharusnya mereka menjelaskan tentang ini semua sama kamu" sergah jemi


"biar aku yang urus semuanya kak, kakak jangan khawatir" ucap jingga yang sudah berhenti menangis


"jangan macam-macam ji, kakak gak mau kamu kenapa-napa" nasehat jemi


"aku mau menyelesaikan apa yang seharusnya selesai kak, kakak tenang aja aku gak akan berbuat hal bodoh yang bisa melukai aku sendiri" sahut jingga

__ADS_1


"kalau ada apa-apa segera hubungi kakak ya, jangan laluin semua ini sendiri inget masih ada kakak, mba maya dan terutama sabia"


"iya kak, aku pergi dulu" pamit jingga


"mau kemana?" tanya jemi curiga


"ketemu hana" jawab jingga jujur


"sabia dimana?" tanya jemi


"aku titipin sama mba maya" jawab jingga


"ya sudah kamu hati-hati, inget pesen kakak"


"iya kak jem"


sebelum benar-benar pergi jingga mengirim pesan kepada hana untuk mengajaknya bertemu, hanya kepada hana sahabat satu-satunya jingga bisa meluapkan semuanya. setelah mendapat pesan jika hana bisa bertemu di dekat kantor tempatnya bekerja jingga segera mengemudikan mobilnya menuju alamat yang sudah hana kirimkan


sedangkan jemi langsung masuk kembali ke dalam gedung perusahaan setelah jingga benar-benar pergi, saat akan memasuki ruangan kerjanya, jemi berpapasan dengan tama yang baru saja keluar dari ruangan ayah salim.


"lho kak dari mana?" tanya tama


"dari kantin, kamu disini tam? sejak kapan?" tanya balik jemi pura-pura tidak tahu kalau tama sudah berada di kantor srjak tadi


"iya kak, aku habis ketemu ayah salim" jawab jemi


"ayah ada di kantor juga?" tanya jemi lagi pura-pura tidak tahu


"memangnya kakak tidak tahu kalau ayah salim ada di kantor"


"enggak, kakak baru selesai meeting langsung makan siang di kantin.


kamu masih lama atau sudah mau pulang?" jemi berbasa-basi


"ini mau balik ke kantor kak, masih banyak kerjaan"


"oh gitu, ya sudah hati-hati"

__ADS_1


jemi menepuk pundak tama sangat kencang membuat tama sedikit meringis, jemi langsung masuk ke dalam ruangannya tanpa memperdulikan tama yang menatapnya tajam. jemi juga tidak berniat untuk menemui ayahnya karena jemi tidak bisa menjamin dia bisa menjaga emosinya ketika bertemu dengan sang ayah. tangisan pilu jingga yang masih terngiang-ngiang di telinganya membuat jemi semakin merasa kecewa kepada sang ayah yang tega menyakiti jingga sampai sedalam ini


jemi sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran ayahnya sendiri yang tega memaksa jingga untuk menikah dengan tama sedangkan ayah salim sendiri tahu jika tama sudah mempunyai tunangan waktu itu


"kenapa ayah setega itu" gumam jemi mengusap wajahnya kasar


jingga memakirkan mobilnya di depan cafe yang dekat dengan perusahaan tempat hana bekerja, jingga menunggu beberapa saat karena hana harus menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu sebelum menemui jingga


jingga memeriksa ponselnya yang sejak tadi dia abaikan, jingga berdecih melihat beberapa pesan masuk dari tama.


jingga memilih berselancar di dunia maya dari pada harus membalas pesan yang di kirimkan tama kepadanya


"ji maaf kamu nunggu lama ya" ucap hana yang baru datang


"gak masalah na, aku ngerti kok" sahut jingga menyimpan ponselnya di atas meja


"ada apa? kamu baik-baik aja kan?" tanya hana melihat mata jingga yang sembab dan di balas gelengan kepala oleh jingga


"kenapa?" tanya hana lagi


"wanita itu benar-benar istri tama na, mereka sudah mempunyai anak dari hasil pernikahan mereka bahkan saat ini wanita itu sedang mengandung anak kedua meraka" jawab jingga dengan mata yang sudah kembali berkaca-kaca


"what?" pekik hana tidak percaya dengan apa yang jingga sampaikan kepadanya


"kok bisa ji?" lanjut hana


tanpa menjawab pertanyaan hana, jingga menyerahkan ponselnya kepada hana untuk melihat video percakapan antara tama dan ayah salim


"apa ini?" tanya hana saat menerima ponsel jingga


"lihat saja"


hana langsung memutar video itu, beberapa saat hana masih terdiam namun semakin lama hana menggelengkan kepalanya sambil menutup mulutnya sendiri merasa tidak percaya dengan apa yang sudah dia lihat dan dengar dari rekaman video itu


hana memandang iba wajah jingga yang kini sudah berderaian airmata membuat hana ikut merasakan sesak di dalam dadanya


"ternyata aku hanya jadi yang kedua na" lirih jingga semakin menangis terisak

__ADS_1


__ADS_2