
"kerja bukan ngobrol" sentak athur yang tiba-tiba datang
"calm down pak bos jam masuk juga masih lima belas menit lagi" sahut dimas
"tetap saja di kantor tidak di perbolehkan bergosip apalagi bergosip tentang bosnya sendiri" ucap arthur sambil berjalan menuju ruangannya
"wah pak bos sensitif sekali hari ini, jangan marah-marah terus pak nanti jodohnya semakin jauh" goda dimas sambil terkekeh
"dimas sudah bosan kerja disini kamu?" arthur menghentikan langkahnya dan menatap dimas dengan sorotan mata seperti singa yang ingin menerkam mangsanya
"bercanda pak" dimas menyengir kuda
"lanjut kerja dan kamu hana segera cari pengganti mia dia bilang katanya mau resign mau ikut suaminya pindah ke manado" titah arthur melanjutkan langkahnya menuju ruangannya
"baik pak" sahut hana tak banyak bicara
hana teringat dengan ucapan jingga yang memintanya mencarikan pekerjaan tapi apa mungkin jingga mau bekerja sebagai sekretaris arthur
"woy kok ngelamun?" dimas menepuk pundak hana
"astaga dimas bisa gak bikin orang jantungan" sentak hana karena kaget
"salah kamu sendiri kenapa melamun"
"sudahlah aku mau ke ruanganku dulu"
hana berjlqalan menuju ruangannya sedangkan dimas menyusul arthur ke dalam ruangan arthur
sedangkan jingga yang baru saja sampai di rumah ayah salim langsung mencari keberadaan sabia, jingga merasa rindu kepada putri cantiknya karena beberapa hari ini jingga kurang memperhatikan sabia karena sibuk mencari tahu tentang laras
"bia lagi apa sayang?" tanya jingga saat melihat sabia sedang duduk di pinggir ranjang kamarnya
"mami baru pulang?" bukannya mrnjawab sabia melayangkan pertanyaan kepada jingga
"iya sayang, bia kenapa? kok murung?" tanya jingga lagi
"papi jahat ya sama mami?" lagi-lagi pertanyaan sabia membuat jingga terdiam
"kenapa bia ngomong kayak gitu?"
"semalam bia liat mami nangis, mami nangis karena papi kan?"
jingga terdiam mendengar pertanyaan sabia, jingga tidak menyangka jika sabia akan mengetahui jika dirinya selalu menangis setiap malam karena tama
"bukan sayang, mami hanya rindu sama papi. sudah lama kan papi gak pulang" elak jingga karena tidak ingin membuat sabia kepikiran
"mami bohong kan?" selidik sabia
__ADS_1
"engga sayang, mami gak bohong" jingga memeluk erat sabia mencoba menahan air matanya agar tidak tumpah
"mami beliin bia pizza, mau di makan sekarang?" tanya jingga dan di balas anggukan kepala oleh sabia
jingga mengajak sabia untuk memakan pizza di taman belakang karena sabia ingin berbagi dengan rayn
beruntung jingga membeli lebih dari satu jadi semua yang berada di rumah ayah salim bisa kebagian
saat mereka sedang asik melahap pizza yang jingga bawa tiba ponsel-ponsel jingga berdering
terlihat disana tama yang ingin melakukan video call kepadanya
"hallo mas"
"hallo sayang, kamu lagi apa bia mana?"
"lagi makan pizza, ini bia ada di sampingku"
"hallo papi, bia lagi makan pizza papi mau?"
"mau dong sayang sisain buat papi ya"
"makanya papi cepat pulang dong jangan kerj terus"
"besok papi pulang sayang, bia mau di bawain oleh-oleh apa sama papi hm"
"siap tuan putri nanti kalau papi sudah pulang kita liburan ya sekarang papi mau bicara dulu sama mami"
"ya mas kenapa?"
"mas besok pulang pagi-pagi sayang, kamu mau pulang sekarang atau besok sekalian mas jemput?"
"besok jemput di rumah ayah aja mas"
"baiklah, kamu mau oleh-oleh apa? jangan bilang terserah lagi"
"aku gak ingin apa-apa tapi kalau mas mau beli oleh-oleh apapun aku terima"
"ya sudah mas tutup dulu masih ada meeting sore ini, kamu dan bia baik-baik ya disana... love you"
"iya"
"love you"
"love you too mas"
jingga langsung mematikan panggilan video dari tama, entah mengapa setiap kali mendengar tama mengucapkan kata cinta kepadanya membuat hatinya merasa teriris mungkin rasanya akan berbeda jika tama tidak bermain demgan wanita lain di belakang jingga tapi kenyataannya tama memang sudah berkhianat
__ADS_1
jingga sengaja berpura-pura terlihat baik-baik saja di hadapan semua orang untuk menutupi luka dan kecewa yang dia rasakan saat ini, biarlah rasa sakit itu jingga rasakan sendiri sampai saat waktunya mungkin jingga akan melepas semuanya
jingga berpamitan kepada ayah salim dan mbak maya untuk kembali ke kamar dengan alasan ingin mengisi daya ponselnya yang hampir mati namun sebenarnya jingga sudah tidak tahan ingin menumpahkan airmatanya yang sudah mati-matian dia bendung di hadapan seluruh keluarganya
*tok
tok
tok*
"ji boleh kakak masuk" seru jemi dari balik pintu
"masuk saja kak pintunya gak di kunci" balas jingga sedikit berteriak
ceklek
pintu kamarpun terbuka jingga yang sedang fokus pada layar laptopnya menoleh ke arah pintu diman sang kakak sedang berjalan ke arahnya, jingga menutup laptopnya dan menyimpan kembali ke dalam tas
"sejak kapam kamu main laptop lagi ji?" tanya jemi heran
"iseng aja kak, udah lama banget aku gak buka-buka laptop" elak jingga
"oh gitu... besok tama jadi pulang?" tanya jemi lagi
"jadi kak besok mas tama langsung jemput aku disini" jawab jingga
"apa kamu tidak tertarik untuk kembali lagi ke perusahaan ji? kakak sangat kewalahan menghundle pekerjaan yang semakin hari semakin menumpuk, kondisi fisik ayah juga sudah tidak memungkinkan lagi untuk bekerja terlalu keras ji" ucap jemi
"apa sebaiknya tidak membuka lowongan pekerjaan untuk karyawan baru saja kak? aku takut mas tama tidak mengijinkan kalau aku harus kembali bekerja" sahut jingga
"sulit mencari karyawan yang berkompeten dan berpengalaman ji, kakak benar-benar membutuhkan sosok seperti kamu yang sudah menguasai sistem kerja perusahaan kita"
"nanti aku coba bicarakan dulu dengan mas tama ya kak" tawar jingga
"iya, ya sudah kamu istirahat saja biarkan bia tidur dengan rayn dan raisa besok juga kakak akan pulang karena sudah terlalu lama meninggalkan rumah" titah jemi kemudian beranjak meninggalkan jingga untuk beristirhat
"kak" panggil jingga dengan suara lirih membuat jemi menghentikan langkahnya
"kenapa?" tanya jemi lembut
"apa tidak pernah ada kabar tentang bunda? aku rindu bunda kak" tanya jingga yang entah mengapa tiba-tiba merasa rindu dengan sang bunda
jemi menghela nafas panjang, inilah pertanyaan yang di takutkan jemi selama ini dan akhirnya jingga pun menanyakan tentang keberadaan sang bunda yang entah dimana, sehat ataupun sakit jemi pun tifak pernah mengetahui itu
"nanti kakak akan coba cari tahu ya, sekarang kamu istirahat saja jangan banyak pikiran" jemi mengelus puncak kepala jingga lembut
"apa kakak tidak rindu dengan bunda?" tanya jingga dengan mata yang mulai berkaca-kaca
__ADS_1
"kakak rindu sangat rindu tapi kakak juga tidak dimana keberadaan bunda saat ini, doakan saja di manapun bunda berada sekarang semoga bunda dalam keadaan baik-baik saja dan tidak kekurangan suatu apapun"