
"dimas masuk ruangan saya" titah arthur lewat intercom
arthur mengetuk-ngetuk pensil di atas meja kerjanya, merasa ada kejanggalan kenapa jingga tiba-tiba melamar di perusahaan miliknya.
ataukah jingga sengaja atau memang awalnya jingga tidak tahu, itulah yang ada di pikiran arthur saat ini
tok
tok
tok
"bos boleh saya masuk?" tanya dimas
"masuk dim" titah Arthur dengan suara tegasnya
dimas berjalan menuju meja kerja arthur dan duduk di hadapan arthur
"ada apa bos?" tanya dimas
"kenapa jingga bisa melamar kerja di perusahaan ini?" tanya balik arthur dengan tatapan elangnya
"mana saya tahu bos, saya cuman dapat laporan dari pihak HRD" kilah dimas
"jangan bohong dim, kamu dan hana kan sengaja membuat jingga kerja disini tanpa dia sadari?" arthur semakin menajamkan tatapannya
"wah si bos suudzon" elak dimas untuk menutupi rencananya
"jingga tidak mungkin mau bekerja disini jika sejak awal dia tahu kalau pemilik perusahaan ini adalah keluargaku dim, jujur atau aku pecat?" tekan arthur dan sengaja mengubah bahasa formalnya dengan dimas
"aku harus jujur seperti apa lagi? sudahlah ar mulai besok kan jingga mulai bekerja disini, nikmati saja waktu kalian berdua siapa tahu benih-benih cinta di hati bisa tumbuh lagi buat kamu" ucap dimas membuat arthur terdiam apa mungkin jingga mau kembali membuka hati untuknya sedangkan sekarang jingga sudah berstatus sebagai istri orang
"kamu pasti tahu sesuatu yang tidak aku ketahui tentang jingga kan?" selidik arthur
"sini aku bisikin sesuatu"
"$((#(@-+(@))@"
__ADS_1
"apa? kamu serius dim?" pekik arthur tak percaya dengan apa yang sudah dimas katakan
"apa wajahku terlihat seperti sedang bercanda?" dimas menunjuk wajahnya sendiri untuk meyakinkan arthur
"kamu tahu dari mana?" tanya arthur lagi
"siapa lagi kalau bukan hana" jawab arthur jujur
senyuman misterius terbit di bibir arthur, ada rasa senang di hati arthur ketika mendengar fakta yang sudah dimas katakan padanya. namun arthur tidak ingin terlalu percaya diri terlebih dahulu, arthur harus bisa menjaga wibawanya sebagai seorang pemimpin perusahaan di hadapan jingga nanti. arthur berpikir apakah arthur harus berterima kasih kepada kepada dimas dan hana atau tetap dengan gengsinya yang terus mengelak dengan perasaan yang dia rasakan saat ini
"kenapa senyum-senyum gak jelas kayak gitu sih?" tanya dimas bergidik ngeri
"gak apa-apa, kamu sudah makan siang belum? kalau belum kita makan siang bersama ajak hana sekalian"
"kamu yang teraktir kan?"
"iya"
"nah gitu dong jangan pelit-pelit kalau jadi bos biar jodohnya cepat datang" ucap dimas terkikik
"apa hubungannya?" arthur memicingkan matanya menatap dimas
"oke"
sementara itu jingga yang baru saja sampai di rumahnya langsung di sambut antusias oleh sabia, sabia sangat merindukan sang mami karena memang akhir-akhir ini jingga sangat sibuk dan jarang berada di rumah
"mami kok pulangnya lama?" tanya sabia sambil memeluk jingga
"maaf sayang tadi mami ketemu uncle jem dulu, ini mami bawakan pizza sama burger buat bia" jawab jingga memperlihatkan 2 paper bag berisi penuh dengan makanan
"asyikkk... makasih mami" sabia mencium kedua pipi jingga
"sama-sama sayang, mau makan disini atau sama bibi? mami mau mandi dulu" tanya jingga
"makan sama bibi aja ya, nanti selesai mandi mami nyusul ya" pinta sabia
"siap sayang"
__ADS_1
jingga berjalan menapaki satu persatu anak tangga menuju kamarnya di lantai atas, sebisa mungkin jingga selalu melupakan rasa kecewa dan sakit hatinya namun tetap saja ketika dia sendiri rasa itu datang kembali tanpa permisi
jingga membuka pintu kamarnya, hal pertama yang dia lihat adalah foto pernikahannya yang terpampang tepat di atas ranjang, senyuman kebahagiaan sangat terlihat dari foto itu tanpa jingga tahu saat itu dia telah resmi menjadi istri kedua dari seorang Pratama Adnan
rasa sesak itu kian menyeruak masuk ke dalam relung hatinya, kebersamaannya dengan tama selama tujuh tahun ini berputar-putar bak kaset rusak di dalam otaknya, jingga menatap ranjang berukuran king size miliknya, dimana dia dan tama sering melewati malam panjang penuh desaahann dan kenikmataan di atas sana dan sudah hampir lima bulan ini jingga tak pernah merasakan itu bersama tama.
air matanya tiba-tiba menetes memikirkan nasib pernikahannya yang sudah hancur berantakan.
bohong jika jingga tidak mencintai tama namun rasa sakit yang tama torehkan begitu dalam di hati jingga sampai untuk menyembuhkannya pun jingga tidak tahu harus dengan cara seperti apa
"kamu sudah sukses memainkan peranmu sebagai suami terbaik mas" ucap jingga masih menatap nanar foto pernikahannya
tanpa jingga sadari ternyata sabia sudah memperhatikan jingga dari balik pintu kamarnya yang memang tidak tertutup rapat, sabia menatap heran ke arah jingga yang menangis sambil menatap foto pernikahan kedua orang tuanya, apakah sang ayah kembali menyakiti hati mami nya? itulah yang ada di pikiran polos sabia saat ini.
"mi,, boleh bia masuk?" seru sabia dari ambang pintu
"sayang sejak kapan kamu disitu? ayok masuk" ucap jingga sambil menghapus sisa airmata di ujung matanya
"mami kenapa nangis?" tanya sabia menatap sendu ke arah jingga
"mami kelilipan sayang" jingga terpkasa berbohong kepada putri semata wayangnya
"bohong, bia lihat mami nangis sambil lihat foto itu" sabia menunjuk foto pernikahan jingga dan tama
"apa papi yang membuat mami nangis? papi jahat sama mami?" lanjut sabia
"tidak sayang, papi baik kok mami nangis bukan karena papi" elak jingga dengan senyuman palsunya
"terus mami nangis kenapa? apa karena bia nakal ya? bia sering bikin kesel mami makanya mami nangis?" tanya sabia lagi membuat hati jingga seperti tertusuk sembilu
"tidak sayang, bia anak baik, bia gak pernah bikin mami kesel, bia anak kebanggaan mami jangan ngomong kayak gitu lagi ya sayang, mami sayang sekali sama sabia" jingga memeluk erat sabia sambil meneteskan airmatanya, sungguh melihat wajah polos sabia jingga tidak bisa menahan airmatanya untuk tidak tumpah
"bia juga sayang sekali sama mami, mami jangan nangis lagi ya? bia sedih kalau lihat mami nangis" pinta sabia membuat tangis jingga semakin pecah
jingga benar-benar menyayangkan perilaku tama yang tega menyakiti hati sabia, jika sabia tahu jika papi yang selama ini dia banggakan memiliki anak dari perempuan lain apakah sabia akan terima dan mengerti?
bagaimana caranya menjelaskan kepada sabia jika suatu saat sabia mengetahui semuanya? sabia yang sebentar lagi akan menginjak usia 6 tahun semakin cerdas dan kritis apalagi sesuatu yang berhubungan dengan jingga dan tama. sabia juga tidak segan-segan untuk memarahi Tama jika tama sudah jarang menghabiskan waktu bersama dengan sabia dan jingga
__ADS_1
"sayang kalau seandainya papi pergi, bia gak apa-apa kan kalau harus berdua aja sama mami?"