JINGGA (The Second Wife)

JINGGA (The Second Wife)
di permalukan di depan umum


__ADS_3

"jangan sembarangan bicara kamu laras" sentak Bunda hasna yang tidak terima Jingga di permalukan di depan umum seperti itu


"eh ada bunda mertua disini, apa kabar bunda? sudah lama ya kita gak bertemu" seru Laras dengan senyum meremehkan


"saya tidak pernah menganggap kamu sebagai menantu saya, menantu saya hanya Jingga" ketus bunda Hasna yang memang tidak suka kepada Laras sejak dulu


"tapi kenyataannya memang begitu bun, di anggap atau tidak saya memang menantu bunda wanita yang di gila-gilai oleh putra bunda" ucap Laras tertawa meledek


"kalau sejak awal saya tahu Tama menikahi kamu pasti saya akan melarangnya, saya tidak sudi mempunyai menantu yang mulutnya berbisa seperti kamu, dari dulu sudah sering saya peringatkan jauhi Tama tapi kamu malah terus menggoda putra saya" sahit bunda Hasna


"mungkin memang mas Tama tidak bisa jauh dari saya bun buktinya mas Tama membuat saya hamil duluan agar saya tidak pergi meninggalkannya disaat dia akan menikah lagi dengan PELAKOR ini" tunjuk Laras dengan dagu nya kepada Jingga


Hati Jingga terasa di remat, benar yang di katakan Hana tempo hari gelar seorang pelakor pasti akan melekat di dirinya mau bagaimanapun Jingga melakukan pembelaan tetap saja orang-orang akan memandang rendah dirinya terbukti dengan sekarang orang-orang memandang dirinya dengan tatapan jijik


"silahkan kamu mau menganggap aku pelakor atau apapun itu semau kamu, aku tidak akan membela diriku karena percuma semua orang yang ada disini sudah menggangapku wanita murahan yang merebut suami orang tapi asal kamu tahu Amalia Larasati seandainya aku tahu sejak awal aku hanya akan di jadikan istri kedua, aku akan menolak untuk menikah dengan suami kesayangan kamu itu, meskipun di mata semua orang aku adalah seorang pelakor tapi setidaknya aku tidak tidur dengan sembarangan pria yang bukan suami sendiri" ucap Jingga yang langsung berdiri menghampiri Laras membuat Laras mengepalkan tangannya dengan wajah merah padam menahan amarah


"maksud kamu apa hah? jangan sembarangan bicara kalau tidak tahu apa-apa" bentak Laras membuat Jingga tersenyum menyeringai


"apa harus aku perlihatkan kepada semua orang yang ada disini bagaimana kelakuan kamu di belakang suami kamu? kasian suami kamu sudah bela-belain beliin apartemen mewah buat istri tercintanya yang dinikahi secara siri tapi malah di pakai untuk berbuat dosa, menjijikan" ucap Jingga dengan santai dan tanpa amarah sedikitpun


"kurang aja kamu Jingga, sejak awal kamu yang salah karena merebut mas Tama dariku kenapa sekarang menuduhku macam-macam hah?"

__ADS_1


"kalau bukan keinginan orang tuaku menikah dengan Tama aku juga tidak akan mau, apalagi Tama sudah membuat kamu hamil terlebih dahulu. memalukan"


"tutup mulut kamu sialann, jangan macam-macam denganku kalau kamu tidak ingin Tama pergi meninggalkan kamu dan anak kamu"


"kamu yang mengusik ku terlebih dahulu, aku bisa melakukan apapun bahkan untuk menghancurkan hidup kamu sekalipun itu sangat mudah bagiku, Jangan pernah macam-macam dengan seorang Jingga Maharani" bisik Jingga di telinga Laras dengan senyum merendahkan


"brengsekk" umpat Laras sambil melayangkan tangannya untuk menampar Jingga


"STOP" teriak Tama yang tiba-tiba muncul bersama ayah Salim dan mencekal tangan Laras


"apa-apaan kamu Laras? berani kamu menyentuh Jingga kamu berurusan denganku tidak peduli statusmu sekarang masih istriku" ucap Tama dengan menatap tajam ke arah Laras


Tama sengaja menyusul Sabia karena saat datang ke rumah Jemi untuk mengajak Sabia jalan-jalan asiten rumah tangga di rumah Jemi mengatakan kalau Sabia sudah pergi jalan-jalan bersama kakek-neneknya, Tama memang sengaja mengajak ayah Salim karena ayah Salim pun sudah merasa sangat rindu dengan Sabia. Setelah mengetahui kemana Sabia di ajak jalan-jalan oleh bunda Hasna dan Ayah afif, Tama dan ayah Salim langsung menyusul namun tanpa di duga sesampainya di mall Tama malah melihat Jingga dan Laras yang sedang beradu mulut dan berakhir dengan Laras yang akan menampar Jingga namun dengan sigap tama menahannya.


"lepaskan tanganku mas, sakit" ucap Laras berusaha melepaskan cengkraman tangannya


"berani kamu menampar Jingga hah? sedikit saja kamu melukai Jingga aku tidak akan tinggal diam" bisik Tama penuh dengan amarah


"kamu sadar dong mas gara-gara dia hubungan kita jadi berantakan seperti ini, bahkan kamu sudah sering mengabaikamku dan daren, wajar dong kalau aku benci sama pelakor itu" sahut Laras semakin membuat Tama tersulut emosi


"jangan pernah menyebut Jingga dengan sebutan pelakor, dari awal kamu sudah tahu kejadian sebenarnya seperti apa kenapa kamu melebihi batasanmu seperti ini hah? Jingga tidak salah sema sekali dalam masalah ini, sepenuhnya aku yang salah" bentak Tama membuat Laras sedikit ketakutan

__ADS_1


"kenapa kamu terus membela dia mas, aku juga istri kamu bukan hanya dia tapi kenapa kamu malah tidak adil seperti ini"


"karena Jingga memang pantas untuk di bela dan jangan pernah menyalahkan orang lain kalau aku tidak bisa adil karena sejak awal kamu yang memaksaku untuk tidak bisa adil kepada kalian berdua"


Tama menarik tangan Laras untuk pergi meninggalkan mall, semua menatap kepergian Tama dengan pandangan yang berbeda-beda terutama Sabia, Jingga memandang ke arah ayah Salim yang masih mematung sejak kehadirannya di antara mereka.


tiba-tiba Jingga mendekat ke arah ayah Salim membuat Jemi was-was karena takut terjadi perdebatan di antara keduanya


"sudah puas ayah sekarang? inikan yang ayah inginkan? putri ayah di permalukan di hadapan umum dan di anggap sebagai wanita perebut suami orang" ucap ayah menatap ayah salim dengan mata yang sudah berkaca-kaca


"bukan kejadian seperti ini yang ayah harapkan nak, ayah tidak bermaksud untuk mempermalukan kamu di depan umum seperti ini" sahut ayah salim


"tapi semuanya sudah terjadi ayah, ayah bisa melihatkan tatapan orang-orang yang sedang melihatku sekarang? mereka memandang aku sebagai wanita murahan dan menjijikan, apa ayah tidak pernah memikirkan hal seperti ini akan terjadi sebelum ayah menikahkanku dengan mas Tama dulu? sakit, rasanya begitu sakit ayah di hina di depan banyak orang tanpa bisa memberikan pembelaan apapun" ucap Jingga yang sudah tidak bisa menahan airmatanya untuk menetes


"sekarang bagaimana caranya untuk mengembalikan nama baikku seperti dulu? aku sudah terlanjur di cap sebagai pelakor ayah" tubuh jingga merosot sampai tertunduk di atas lantai dan menangis sesenggukan di hadapan ayah salim


"Ji bangun jangan seperti ini" Jemi menghampiri Jingga mengajak Jingga untuk kembali berdiri namun rasanya kaki Jingga begitu lemas seakan semua tulangnya terasa patah


"aku tidak sekuat itu kak, hatiku sakit di permalukan seperti ini" sahut Jingga memeluk Jemi sambil menangis


"semuanya akan baik-baik saja, kakak janji akan mengembalikan nama baik kamu seperti dulu" jemi mengusap punggung adik kesayangannya

__ADS_1


Sabia yang kini berada di gendongan ayah afif pun ikut menangis melihat Jingga, bunda Hasna mencoba menenangkan Sabia agar tangisannya berhenti dan memberikan pengertian bahwa semuanya akan baik-baik saja, bunda Hasna pun menangis merasa bersalah karena semua masalah yang terjadi berawal karena kelakuan Tama. Namun yang menjadi pertanyaan bunda Hasna dan ayah Afif ada keterlibatan apa ayah Salim dengan masalah Jingga dan Tama, sangat terllihat sorot tatapan kecewa di mata Jingga untuk ayah Salim


__ADS_2