
tuk
tuk
tuk
hakim mengetuk palu sebanyak tiga kali dan akhirnya tepat pada hari ini Jingga dan Pratama di nyatakan resmi bercerai.
Jingga yang di dampingi oleh Jemi dan Maya sudah tidak bisa menahan air mata untuk tidak tumpah saat hakim mengetuk palu dan menyatakan jika dirinya dan Pratama sudah resmi bercerai, dadanya terasa begitu sesak karena pernikahannya dengan Tama sudah benar-benar berakhir, sekilas kenangan selama tujuh tahun pernikahannya bersama Tama berputar di dalam ingatannya, Jingga menangis tertahan mengingat pernikahannya harus berakhir dengan cara yang sama sekali tidak pernah Jingga bayangkan.
sedangkan Tama yang duduk tak jauh dari Jingga sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, Tama sudah gagal untuk mempertahankan rumah tangganya bersama Jingga.
hari ini Tama datang sendiri hanya di temani pengacaranya saja karena sampai detik ini, Tama belum memberitahukan kepada kedua orang tuanya jika Tama akan bercerai dengan Jingga, Tama tidak ingin membuat kedua orang tuanya kecewa karena Tama bercerai dari Jingga mengingat ibu Tama sangat menyayangi Jingga seperti anak kandungnya sendiri, Tama menekan rasa sakit yang dia rasakan, matanya memerah menahan tangis dunianya seakan runtuh membiarkan Jingga pergi dari hidupnya
"kenapa rasanya sesakit ini Tuhan" batin Tama menengadahkan wajahnya menatap langit-langit ruang persidangan
Tama mencoba menormalkan perasaanya ketika melihat Jingga yang juga terpukul dengan perpisahan mereka, Tama berjalan menghampiri Jingga yang sudah berjalan terlebih dahulu dari ruang persidangan
"Ji Tunggu..." ucap Tama sedikit berteriak
jantung Jingga berdetak lebih cepat ketika mendengar suara Tama, terasa aneh pria yang selama ini menjadi suaminya selama tujuh tahun dan belum genap sehari statusnya kini sudah berubah menjadi mantan suami.
sesak itu yang Jingga rasakan saat ini, Jingga tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika dirinya juga merasakan sakit yang teramat dalam dengan perpisahan mereka, sekuat hati Jingga menahan untuk tidak menangis di hadapan Tama namun ternyata pertahanan itu runtuh juga kala melihat Tama berjalan gontai ke arahnya dengan wajah penuh kesedihan dan penyesalan
__ADS_1
"bolehkan mas memeluk kamu untuk yang terakhir kalinya" ucap Tama menatap wajah Jingga penuh harap
Jingga hanya mengangguk sebagai jawaban entah kenapa bibirnya terasa kelu hanya sekedar untuk berkata iya.
Tama langsung berhambur memeluk Jingga, pelukan yang tidak akan pernah dia rasakan kembali setelah hari ini, tangis keduanya pecah saat pelukan Tama terasa semakin erat di tubuh Jingga
"maafkan mas selama tujuh tahun ini hanya memberikan luka dalam pernikahan kita, maaf mas tidak bisa menjadi suami yang baik untuk kamu. maafkan mas karena sudah sengaja membawa kamu dalam pernikahan yang seperti neraka bagi kamu ji... maafkan mas untuk semuanya" ucap Tama sambil terisak
"aku sudah memaafkan kamu mas, aku pun minta maaf jika selama pernikahan kita belum bisa menjadi istri yang baik buat kamu. terima kasih selama tujuh tahun ini mas, jika kamu bukan suami yang baik buat aku setidaknya kamu adalah ayah yang luar biasa untuk Sabia" mendengar nama Sabia Tama semakin menangis sesenggukan
"terima kasih kamu sudah berbesar hati untuk memaafkan semua kesalahan yang sudah mas lakukan, mas akan terus akan menjadi ayah yang luar biasa untuk sabia sekalipun kita sudah tidak bersama-sama lagi" ucap Tama masih memeluk Jingga tanpa ada niat untuk melepaskan pelukannya
"kita akan tetap merawat sabia bersama-sama mas, sabia tidak akan pernah kekurangan kasih sayang dari kita meskipun kita sudah tidak bersama-sama lagi"
Jingga juga tidak menuntut harta gono gini sekalipun Tama ingin memberikannya biarlah itu akan menjadi milik Sabia ketika Sabia dewasa kelak. Jingga juga tidak akan membatasi Tama jika dia ingin bertemu Sabia kapan saja Jingga pasti mengijinkannya karena mau bagaimanapun juga Tama adalah ayah Kandung sabia, Jingga tidak berhak memutus komunikasi di antara keduanya
"jaga diri kamu baik-baik ya mas" ucap Jingga tulus
"kamu juga ji, mas pasti akan merindukan waktu kebersamaan kita dulu. maaf jika mas masih berharap suatu saat kita akan bersama lagi seperti dulu" sahut Tama membuat Jingga tertegun
"masalah jodoh kita tidak pernah ada yang tahu mas, berbahagialah dengan Laras, jangan sampai kamu membuat kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya"
"insyaAllah mas tidak akan melakukan kesalahan yang membuat mas menyesal semumur hidup cukup kamu yang mas sakiti, mas pamit ji sampaikan pada sabia kalau mas akan sering mengunjunginya"
__ADS_1
"nanti aku sampaikan, tolong sampaikan juga salamku untuk ayah dan bunda. maaf aku tidak bisa menjadi menantu yang baik untuk mereka mas"
Tama pergi meninggalkan Jingga yang masih mematung memandangi dirinya, entah alasan apa yang akan Tama sampaikan kepada kedua orang tuanya atas perceraiannya dengan Jingga, Jingga adalah menantu idaman bagi kedua orang tua Tama bisa di bayangkan bagaimana kecewanya kedua orang tua Tama jika Tahu kalau Tama sudah resmi bercerai dengan Jingga karena kesalahannya
sedangkan di dalam sebuah mobil sport berwarna hitam ada dua pasang mata yang menyaksikan interakasi antara Jingga dan mantan suaminya, Tangannya mengepal kuat ketika melihat Tama memeluk Jingga begitu erat, meskipun Tama adalah mantan suami Jingga entah kenapa Hatinya merasa tidak rela melihat wanita pujaannya di peluk oleh pria lain sekalipun itu pelukan perpisahan
"udah cerai masih berani peluk-peluk, bikin kesal saja" gumam Arthur membuat Hana tertawa
"mungkin itu pelukan perpisahan ar, jangan terlalu baper lagipula kamu juga belum resmi kembali dengan Jingga kan" celetuk Hana membuat Arthur semakin kesal
"jangan meledekku na, tunggu saja sebentar lagi kami pasti akan kembali bersama dan saat waktu tiba aku tidak akan pernah melepaskan Jingga lagi" sahut Arthur yakin
"ya aku doakan semoga cita-citamu itu tercapai, ayok mau ikut turun tidak? aku sekalian mau bertemu suamiku" ajak hana
"aku disini saja tidak enak jika ada yang tahu kalau aku sengaja menunggu Jingga yang berubah status menjadi seorang janda" ceplos Arthur membuat hana terkekeh
"ya sudah aku temui Jingga dulu, nanti aku salamin deh buat Janda kesayangan kamu itu" ledek Hana sambil membuka pintu mobil Arthur
"berani kamu ya sama bos kamu sendiri" sewot Arthur
"ini di luar jam kantor bos" sahut Hana tanpa ada rasa takut sedikitpun
Arthur memang meminta Hana untuk menemaninya ke pengadilan untuk menunggu Jingga menyelesaikan sidang perceraiannya, Arthur ingin memastikan jika Jingga dan Tama sudah resmi bercerai meskipun hanya memperhatikan di dalam mobilnya saja setidaknya saat ini Arthur merasa lega karena perjuangannya akan semakin lancar untuk mendapatkan Jingga kembali ke dalam pelukannya
__ADS_1