JINGGA (The Second Wife)

JINGGA (The Second Wife)
pura-pura baik-baik saja


__ADS_3

jingga melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah jemi, disana terlihat sabia beserta dua keponakannya sedang asik bermain, jingga menatap nanar sang putri yang sedang tertawa lepas tanpa beban sejenak jingga berpikir mampukah jingga membuat tawa itu tetap ada disaat nanti jingga sudah tidak mampu lagi memberikan keluarga yang utuh untuk putri tercintanya, rasa sesak di dalam dadanya semakin menyeruak betapa dalam rasa kecewa yang sudah tama dan ayah salim torehkan untuknya, hatinya remuk bahkan jingga tidak tahu sampai kapan dia bisa menyembuhkan luka itu


"ji" sebuah tepukan di pundak jingga membuyarkan lamunannya


"mbak maya" gumam jingga menatap nanar sang kakak ipar


"kamu baik-baik aja kan?" tanya maya seolah menuntut sebuah jawaban


jingga langsung memeluk erat tubuh ramping kakak iparnya, entah mengapa di hadapan maya, jingga tidak bisa lagi membendung rasa sakitnya semuanya jingga tumpahkan dalam tangisan.


maya yang memang sudah tahu dari jemi tentang kondisi rumah tangga jingga saat ini merasa ikut kecewa kepada tama terlebih kepada ayah mertuanya sendiri. maya mengusap lembut pucuk kepala jingga mencoba memberikan kekuatan kepada jingga yang sudah dia anggap seperti adik kandungnya sendiri


"kamu kuat ji, mbak yakin itu" ucap mbak maya membuat jingga semakin terisak


"aku hancur mbak, aku gak tahu harus gimana sekarang rasanya sakit sangat sakit" lirih jingga yang terdengar begitu pilu


"jangan mengambil keputusan saat sedang emosi ji, mbak sarankan kamu tenang dulu jangan gegabah untuk mengambil keputusan yang bisa saja membuat kamu menyesal pada akhirnya" saran mbak maya


"aku salah apa mbak sampai ayah tega sama aku, aku kecewa kenapa ayah dengan sengaja menghadirkan pernikahan penuh luka untuk putrinya sendiri" ucap jingga membuat maya menatapnya sendu


"mungkin ayah punya alasan tersendiri kenapa melakukan ini semua ji, lebih baik kamu bicarakan baik-baik dengan ayah nanti"


"aku belum siap untuk ketemu ayah sekarang-sekarang mbak, rasanya sulit untuk nerima jika ayah lah orang pertama yang membuat hidupku kacau seperti ini"


"mbak mengerti perasaan kamu, ada mbak dan mas jemi yang selalu ada buat kamu. jangan pernah merasa sendirian"


"makasih mbak, hanya mbak yang bisa menggantikan posisi bunda setelah bunda pergi"

__ADS_1


"sudah kewajiban mbak jingga jangan sungkan kamu sudah seperti adik kandung mbak sendiri"


jingga kembali memeluk kakak iparnya, mencoba mencari ketenangan yang selama ini ingin dia dapatkan dari seorang ibu, jingga benar-benar sangat merindukan sosok ibu kandungnya apalagi dalam kondisi dirinya yang saat terluka seperti sekarang ini namun kerinduannya kepada sosok sang bunda harus dia kubur dalam-dalam karena sampai detik ini jingga masih belum tahu dimana keberadaan ibu kandungnya sendiri


"mbak" seru jingga menatap serius ke arah mbak maya


"kenapa ji?" tanya mbak maya


"apa kali ini aku boleh egois?"


"maksudnya?"


"aku sudah lelah mempertahankan rumah tanggaku bersama mas tama, aku ingin mengakhiri semuanya mbak"


"kamu benar-benar sudah memikirkan semuanya? kamu sudah pikirkan bagaimana keadaan sabia kedepannya jika kalian berpisah?"


"aku sudah memikirkannya sejak jauh-jauh hari mbak, mungkin aku bisa memaafkan kesalahan mas tama tapi untuk hidup bersama dengan mas tama rasanya sulit mbak, pengkhianatan yang sudah mas tama lakukan sudah benar-benar fatal. untuk masalah sabia aku akan memberikan pengertian secara perlahan-lahan, sabia anak yang cukup cerdas pasti dia akan mengerti meskipun belum sepenuhnya"


"makasih mbak, mbak selalu mengerti aku"


"jangan terlalu larut dalam kesedihan ingat ada sabia yang masih butuh kamu, kuatlah untuk sabia ji"


"pasti mbak"


setelah berbincang dengan mbak maya membuat hatinya sedikit lega, jingga bersyukur karena mbak maya tidak menghakiminya tentang keputusannya yang ingin berpisah dengan tama. mbak maya sangat mengharagai keputusan jingga karena yang menjalaninya adalah jingga sendiri bukan dirinya ataupun orang lain.


jingga memutuskan untuk pulang sebelum petang, mbak maya menawarkan jingga untuk menginap untuk lebih menenangkan hati dan pikirannya namun jingga menolak. jingga tidak menghindar dari masalah yang sedang dia hadapi saat ini, meskipun ksangat kecewa dengan tama tapi saat ini status jingga masih istri tama, jingga tidak ingin seenaknya dalam mengambil sikap terlebih tama juga belum mengetahui jika jingga sudah tahu semua rahasia yang tama sembunyikan selama tujuh tahun ini

__ADS_1


"sayang dari mana? kok baru pulang" tanya tama yang sudah lebih dulu sampai rumah


"mampir dulu ke rumah kak jem" jawab jingga berusaha bersikap manis meskipun hatinya ingin sekali menampar wajah tama yang seakan tanpa dosa


"kok gak ngabarin dulu?" tanya tama lagi sambil mengambil alih sabia ke dalam gendongannya yang sedang tertidur


"ponselku mati mas, maaf" jawab jingga dengan senyum yang di paksakan


"ya sudah kamu mandi dulu, setelah itu kita makan malam bersama. mas sudah masak khusus untuk kita berdua" ucap tama membuat jingga tercengang


"kamu masak? tidak salah?" tanya jingga tak percaya


"tidak, cepatlah mas tunggu di ruang makan sayang" titah tama dengan senyuman manisnya


tama sengaja bersikap lebih manis dan ingin memanjakan jingga, tama berharap dengan semua yang dia lakukan jingga akan memaafkannya.


tanpa tama tahu, di dalam kamar kini jingga sedang menahan rasa marah, kecewa dan rasa sakit yang hadir dalam waktu yang bersamaan. tidak mudah bagi jingga untuk terlihat baik-baik saja di hadapan orang yang sudah jelas-jelas telah memberinya luka. jingga menangis di bawah guyuran air shower, memukul dadanya berulang kali berharap rasa sesak itu akan sedikit berkurang namun percuma saja semakin jingga mengingat wajah tama, jingga semakin merasakan sakit yang begitu dalam. jika bukan karena adanya sabia mungkin jingga enggan untuk pulang ke rumah dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dalam rumah tangganya, namun untuk kali saja jingga akan sedikit lebih sabar sebelum jingga benar-benar mengakhiri semuanya.


mengakhiri pernikahan yang seperti di neraka.


"kok lama mandinya, tumben" tanya tama saat jingga sidah berada di ruang makan dengan pakaian tidurnya


"habis berendam, tubuhku rasanya sangat lelah" jawab jingga


"mau mas pijitin?" tawar tama seolah lupa jika di antara dirinya dan jingga saat ini sedang terlibat dalam sebuah masalah yang cukup pelik


"tidak usah, aku mau istirahat saja mas besok juga tubuhku pasti akan segar kembali" tolak jingga

__ADS_1


"tapi kalau besok kamu masih belum merasa lebih baik. kita ke rumah saja ya untuk periksa" ucap tama perhatian membuat jingga berdecih di dalam hatinya


"cihhh lebay"


__ADS_2