JINGGA (The Second Wife)

JINGGA (The Second Wife)
daren masuk rumah sakit


__ADS_3

Saat Tama akan berbicara tetapi tiba-tiba dokter keluar dari ruang IGD dan menceritakan kondisi daren saat ini. Mata tana memicing tajam ke arah Laras mengartikan saat Tama saat ini sedang marah kepada wanita yang dia nikahi secara siri itu.


Setelah dokter yang memeriksa daren pergi meninggalkan Tama dan Laras, Tama langsung menatap Laras dengan tatapan penuh amarah


"Selama ini kamu tidak merawat Daren dengan baik? Apa uang bulanan yang aku kasih kurang? Ibu macam apa kamu tega membiarkan anak kamu sendiri kelaparan dan kekurangan gizi seperti ini hah?" Teriak Tama marah tak peduli dengan tatapan orang-orang kepada mereka


"Mas bu...bukan gitu, selama ini aku selalu menitipjan daren kepada bu sukma aku kira kebutuhan daren setiap harinya terpenuhi dan tidaj kekurangan apapun" Laras berkilah


"Memangnya selama ini kamu kemana sampai menitipkan? Kerjaan kamu hanya diam di rumah dan menghambur-hamburkan uang, kenapa sampai harus menitipkan Daren sama orang"


"Aku bosan diam terua di rumah, lagipula sudah beberapa bulan ini kamu tidak pernah datang lagi ke apartemen, aku kesepian mas"


"Bukan berarti kamu harus menelantarkan Daren Laras, kamu egois mementingkan diri kamu sendiri. Aku kecewa sama kamu"


Tama pergi meninggalkan Laras mengikuti suster yang akan memindahkan Daren ke kamar rawat, Laras hanya mematung memandang kepergian Tama. Memang Laras yang salah karena selama ini tidak pernah memperhatikan Daren, Daren sudah makan atau belum? Daren sehat atau sakit? Laras tidak pernah peduli akan hal itu. Laras cukup menitipkan Daren kepada bu Sukma untuk merawatnya tanpa Laras tahu bahwa Daren sering kabur dari panti asuhan milik bu sukma sampai tidak pernah makan seharian. Selama Tama tidak pernah datang ke apartemennya Laras sibuk mencari kepuasan di club malam mencari gigoloo atau berondong yang bisa memuaskan hasratnyaa


Setelah di pindahkan ke ruat rawat VVIP wajah Daren tidak sepucat saat pertama kali di bawa ke rumah sakit, tama duduk di samping ranjang dan menggenggam tangan Daren. Tama merasa samgat bersalah kepada Daren karena selama ini sangat jarang memperhatikannya, Tama terlalu sibuk untuk memperbaiki hubungannya dengan Jingga namun tanpa Tama sadari ada sosok bocah laki-laki yang sangat merindukan kehadirannya dan mendambakan perhatiannya, dia adalah Daren bocah laki-laki berusia 7 tahun yang Tama kira adalah anak kandungnya


"Maafkan papi nak, papi janji setelah ini papi akan meluangkan lebih banyak waktu sama kamu" ucap Tama mengecup kening Daren yang masih belum siuman


Ceklek


Pintu ruang rawat Daren pun terbuka, terlihat Laras yang memating di ambang pintu dengan wajah memelasnya membuat Tama muak melihat wajah Laras yang sudah pasti hanya akting semata


"Kamu jaga Daren, aku mau pergi dulu" ucap Tama tanpa menoleh ke arah Laras


"Mau kemana kamu mas? Daren masih belum sadar kamu tega mau ninggalin dia?" Tanya Laras mencoba mencegah Tama untuk pergi

__ADS_1


"Aku hanya ingin minum kopi, nanti aku kembali" jawab Tama kemudian meninggalkan Laras


Tama terus berjalan meninggalkan ruang rawat Daren, patah hati yang dia rasakan setelah perceraiannya dengan Jingga belum sepenuhnya sembuh dan sekarang harus di hadapkan dengan Daren yang tiba-tiba masuk rumah sakit, benar-benar membuat kepalanya sakit.


Beruntung di area rumah sakit ada sebuah cafe yang khusus menyediakan berbagai macam jenis kopi tanpa ragu Tama memasuki cafe itu dan memesan kopi yang dia inginkan


Sepuluh menit kemudian kopi pesannanya sudah tiba, Tama langsung meminum kopinya berharap rasa pusing di kepalanya akan sedikit mereda namun sebuah panggilan dari seorang wanita membuat Tama menyimpan kopinya kembali di atas meja


"Pak Pratama" sapa seorang wanita berjas putih yang usianya tak jauh berbeda dengan dirinya


"Masih ingat saya?" Tanya wanita itu


"Dokter Indah kan?" Tebak Tama


"Ya saya Indah, alhmdulilah bapak masih ingat sama saya" ucap Dokter Indah tersenyum ramah


"Terima kasih pak" dokter Indah pun duduk di hadapan Tama


"Siapa yang sakit pak?" Tanya dokter Indah karena memang cafe itu masih berada di kawasan rumah sakit dan bisa dipastikan setiap pengunjung di cafe itu sedang menunggu pasien yang di rawat di rumah sakit itu


"Anak saya dok" jawab Tama


"Maaf bukannya bu Laras dulu keguguran ya pak" ucap dokter Indah membuat Tama mengernyitkan keningnya


"Laras memang keguguran tapi sekitar dua bulan yang lalu dok, maaf kalau boleh tahu dari mana dokter tahu kalau Laras keguguran?" Tanya Tama penasaran


"Bukannya dulu saya yang membantu proses kuretase bu Laras karena kandungan bu Laras tidak bisa di selamatkan pak, mungkin bapak lupa soalnya saat itu kalau tidak salah bapak sedang berada di luar negeri karena urusan pekerjaan" jawab dokter Indah membuat Tama semakin tidak mengerti

__ADS_1


"Dokter maaf, dulu kapan ya? Soalnya setahu saya Laras hanya keguguran satu kali itupun sekitar dua bulan yang lalu tapi dokter selalu mengatakan dulu, maksudnya dulu kapan?" Tanya Tama lagi


"Memangnya bu Laras tidak cerita kepada anda pak?" Dokter Indah malah balik bertanya


"Tidak dok, bisa tolong dijelaskan biar saya paham" pinta Tama


Flashback on


Tujuh tahu yang lalu


"Dokter tolong saya, perut saya sakit sekali" mohon Laras dengan wajah yang sudah memucat dan darah segar mengalir dari selangkangannyaa


"Ya Tuhan bu Laras apa yang terjadi?" Tanya dokter Indah panik


"Perut saya sakit sekali dok, bisa tolong selamatkan kandungan saya dokter?"


"Saya akan berusaha semampu saya bu, mohon bersabar"


Dokter Indah langsung memeriksa keadaan Laras yang sudah mengeluarkan darah semakin banyak, dengan di bantu oleh beberapa perawat dokter Indah mencoba menghentikan pendarahan yang terus keluar dari rahim Laras, Dokter Laras sudah berusaha sebaik mungkin namun Tuhan berkehendak lain ternyata di dalam rahim laras terdapat jenis penyakit yang cukup berbahaya dan jika tidak segera di lakukan tindakan akan berakibat fatal kepada nyawa Laras sendiri dan dengan sangat terpaksa Dokter Laras harus mengeluarkan janin yang ada di dalam perut Laras dan harus melakukan operasi histerektomi atau yang sering di bilang operasi pengangkatan rahim.


Laras sangat terpukul karena bayi nya tidak bisa di selamatkan dan yang lebih membuat Laras semakin terpuruk adalah rahim Laras terpaksa harus di angkat karena sangat beresiko untuk dirinya dan sudah di pastikan Laras tidak akan pernah bisa untuk hamil kembali


"Dokter pasti bercanda kan? Rahim saya gak mungkin di angkat kan dok?" ucap Laras frustrasi


"Maafkan saya bu Laras, jika rahim bu Laras tidak angkat akan berakibat fatal dengan kesehatan ibu kedepannya, apa ibu sudah mengubungi pak Pratama untuk memberi tahu masalah ini karena sebentar lagi tindakan operasi harus segera di lakukan"


"Tapi suami saya sedang di luar negeri dok, apa tidak ada cara lain selain operasi pengangkatan rahim?"

__ADS_1


__ADS_2