
"jawab saja mas, siapa tahu penting" ucap jingga mulai kembali berbicara
"sebentar ya sayang" tama memilih sedikit menjauh untuk menjawab panggilan telfon itu
"ada apa?"
"kamu pergi liburan ke bali?"
"tahu darimana kamu?"
"gak penting aku tahu dari mana, kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu akan pergi berlibur?"
"sengaja supaya kamu tidak menggangu waktuku dengan jingga dan sabia"
"jadi sekarang aku, daren dan anak yang sedang aku kandung sudah tidak penting lagi bagimu mas? keterlaluan"
"sudahlah ras jangan terus mengomel, kalau tidak hal penting yang mau kamu bicarakan aku tutup saja telfonnya"
"kamu sadar gak sih mas aku iuga ounya hak sama dengan jingga dan sabia, aku iuga sama-sama istri kamu lho, kenapa kamu jadi gak adil sih?"
"apanya yang tidak adil? selama tiga bulan terakhir ini waktuku selalu tersita untuk menemani kamu dan mengabaikan jingga juga sabia, sekarang waktunya aku menebus waktu yang sudah hilang bersama istri dan anakku"
"aku juga masih istri kamu mas, jangan seenaknya begini dong. kamu lupa saat ini aku sedang mengandung anak kedua kamu hah? aku lebih membutuhkan oerhatian kamu dari pada jingga"
"kemarin kan aku sudah mengunjungimu ke apartemen ras, jangan terus membuat masalah aku bisa saja meninggalkanmu sekarang juga kalau kamu terus bersikap seperti ini"
tut....
tama langsung mematikan ponselnya dan memblokir nomor laras, tama tidak ingin liburannya kali ini di ganggu oleh siapapun terkesan egois memang namun ini salah satu jalan agar tama bisa memperbaiki hubungannya dengan jingga agar kembali harmonis seperti dulu. tanpa tama tahu sejak dia mengobrol dengan laras, jingga sudah mendengarnya, hati jingga seperti di remat oleh tangan tak kasat mata.
seegois itukah tama sekarang?
__ADS_1
apa sikap lemah lembutnya selama hanya sekedar topeng belaka?
"sa...sayang" panggil tama melihat jingga yang sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan mengintimidasi
"siapa?" tanya jingga to the point
"klien sayang" jawab tanya berbohong membuat jingga tersenyum sinis
"klien yang di apartemen itu?" pancing jingga
"kenapa harus kembali membahas itu sih ji?" protes tama tidak suka
"siapa dia? apakah hubungan kamu dengannya begitu spesial sampai kamu rela membelikan dia sebuah apartemen mewah?" jingga sudah tidak bisa lagi menahan semua unek-unek di dalam hatinya
"maksud kamu apa? mas gak ngerti" elak tama
"amalia larasati, siapa dia?" tanya jingga menatap tama dengan nyalang
"si...siapa diia,, mas gak kenal dengan nama itu" lagi-lagi tama mengelak
"sayang kamu itu ngomong apa sih" tama berusaha memeluk jingga namun dengan kasar jingga menepis tangan tama
"jadi dia yang selama tiga bulan terkahir ini membuat kamu mengacuhkan aku dan sabia? kamu selingkuh di belakang aku mas? kurang apa aku sampai kamu setega ini sama aku dan sabia hah?" jingga semakin meluapkan kekesalan dalam hatinnya yang dia tahan selama beberapa minggu ini
"sayang kamu salah paham" tama berusaha menenangkan jingga
"salah paham seperti apa lagi? apa alasan kamu membelikan dia apartemen dengan harga yang fantastis? memberikan dia fasilitas yang hampir sama dengan yang kamu berikan untukku? JELASKAN?" teriak jingga dengan rasa sesak yang semakin menggerogoti dadanya
"apa karena dia cinta pertama kamu iya? kamu gak bisa move on dari sosok cinta pertama kamu itu sampai tega mengkhianati aku dan sabia? atau karena dia bisa lebih memuaskan kamu di atas ranjang dari pada aku iya"
Plakkkk...
__ADS_1
jingga memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan tama yang begitu kencang membuat sudut bibirnya terluka dan mengeluarkan darah segar, tanpa mendengar pembelaan dari tama jingga sudah sangat yakin jika tama memang sudah bermain api di belakangnya
jingga hanya tersenyum miris, ternyata ini sifat asli seorang pratama adnan, kasar dan tukang selingkuh
"sa...sayang maaf... mas tidak sengaja, maafin mas sayang" tama buru-buru berlutut di hadapan jingga berharap jingga akan memanfaakan dirinya
"mari bercerai" kalimat yang membuat tama seakan tersambar petir di siang bolong
jederrrrr......
"sayang jangan seperti ini, mas sadar mas salah. mas minta maaf, mas janji gak akan kasar lagi sama kamu. tolong jangan tinggalkan mas" tama menggenggam tangan jingga berusaha membujuk jingga agar menarik kembali kata-katanya
jingga mendorong kasar tubuh tama sampai terjerambab mencium lantai, jingga tidak ingin banyak basa-basi lagi kepada pria yang sudah berani mengkhinatinya terutama pria yang kasar dan main tangan sudah tidak bisa jingga tolelir lagi
jingga berjalan menuju kamar dimana sabia masih tertidur, jingga memeluk tubuh sabia yang masih meringkuk dengan menahan tangisnya. rasa sakit yang jingga rasakan saat ini sudah tidak bisa di definisikan dengan apapun lagi, hatinya hancur, perasaannya sangat kecewa dan fisiknya yang sudah terlanjur lelah
"mami" seru sabia melihat sosok yang tengah memeluknya begitu erat
"bia udah bangun sayang" sahut jingga mencoba menenangkan dirinya
"mami nangis? bibir mami kok berdarah? mami kenapa?" sabia memberondong pertanyaan kepada jingga
"mami gak apa-apa sayang, tadi mami jatuh bibir mami kena ujung meja berdarah deh" kilah jingga
"mami gak bohong sama bia kan?" selidik sabia
"engga sayang, bia pasti laper kita makan dulu yuk?" jingga menggendong sabia menuju ruang makan seperti bayi koala
di ambang pintu jingga melirik tama yang sedang menatapnya dengan penuh penyesalan, wajahnya terlihat kusut, rambutnya acak-acakan dan kemeja yang di kenakan tama sudah berantakan terlihat tana sangat frustasi saat ini
"papi kenapa wajahnya cemberut gitu, ayok makan bia udah laper" ajak sabia yang masih dalam gendongan jingga
__ADS_1
"papi gak apa-apa sayang, iya kita makan papi juga sudah lapar" sahut tama mengekori jingga yang sudah berjalan lebih dulu
tama terus memandangi jingga yang selalu menghindarinya, sangat jelas terlihat jika jingga sangat marah dan bahkan sangat membencinya saat ini namun tama tidak akan menyerah sebelum mendapatkan maaf dari jingga dan merubah pikiran jingga agar mengurungkan niatnya untuk berpisah darinya. tama terus saja mengutuki kebodohannya yang tidak bisa menahan emosinya mungkin karena tama kaget karena tiba-tiba jingga mengetahui tentang laras sampai sedetail itu dan untuk mengelakpun rasanya percuma jingga sudah mengetahui semuanya, tama hanya butuh waktu untuk berbicara dari hati ke hati bersama jingga dan tentunya tama ingin meminta jika sudah membohongi jingga sampai sedalam ini namun satu hal yang membuat tama penasaran adalah dari mana jingga mengetahui tentang laras bahkan sampai apartemen yang dia belikan untuk laras dan tentang laras yang menjadi cinta pertamanya bagaiamana larasa sampai mengetahui itu semua