JINGGA (The Second Wife)

JINGGA (The Second Wife)
berakhir???


__ADS_3

Jingga mengira Tama sudah bahagia dengan keluarga barunya makanya selama beberapa bulan ini Tama tidak pernah berkunjung atau sekedar menanyakan kabar Sabia namun ternyata perkiraannya salah besar dengan melihat kondisi Tama yang seperti itu Jingga yakin hidup Tama pasti berantakan namun Jingga tidak punya cukup keberanian untuk menanyakan hal itu kepada mantan suaminya itu


"aku kira kamu sudah lupa kalau punya Sabia mas, sudah beberapa bulan ini bia menanyakan kamu tapi kamu menghilang seperti di telan bumi" ucap Jingga membuat Tama merasa bersalah


"maaf selama beberapa bulan ini mas sengaja menepi di pinggiran kota untuk menenangkan diri dan baru kemarin mas kembali kesini Ji" sahut Tama


"apa yang terjadi? Apa ada masalah?" tanya Jingga memberanikan diri


"selama ini Laras sudah menipu mas, dan ternyata Daren bukan anak kandung mas dan kehamilan Laras yang kedua juga ternyata semua itu bohong, hidup mas benar-benar hancur Ji gara-gara Laras mas kehilangan kamu dan Sabia, seharusnya sejak dulu mas sudah meninggalkan dia dan fokus membangun rumah tangga kita. Mas menyesal Jingga, benar-benar menyesal" jawab Tama penuh penyesalan


"bunda dan ayah tahu?" tanya Jingga lagi dan Tama pun menganggukan kepalanya


Tama menceritakan bagaimana murkanya ayah Afif dan bunda Hasna saat tahu kenyataan itu, Tama di hajar habis-habisan oleh ayah Afif serta di caci maki dengan kata-kata yang begitu menyakitkan. Tama yang memang salah menerima begitu saja tanpa melawan sedikitpun, memang gara-gara kebodohannya Tama kehilangan Jingga dan Sabia itulah yang menyebabkan ayah Afif dan bunda Hasna sampai sebegitu marahnya kepada Tama karena kehilangan menanti sempurna seperti Jingga dan terpaksa harus jauh dengan cucunya


"mas minta maaf Ji, mas benar-benar menyesal, mas memang pria paling bodoh" ucap Tama menundukan wajahnya tak berani menatap wajah Jingga


"sudahlah mas tidak usah di bahas lagi, aku sudah memaafkan mas. Kamu kesini mau ketemu Sabia kan? Biar aku panggilkan"


Jingga beranjak meninggalkan Tama di ruang tamu, entah mengapa tiba-tiba air matanya menetes hatinya merasa di remat kuat.


muncul rasa bersalah di hatinya karena terburu-buru memutuskan untuk bercerai dengan Tama waktu itu namun Jingga memang tidak bisa mentolelir yang namanya pengkhianatan apalagi Tama sudah mengkhianatinya selama usia pernikahan mereka namun ketika melihat Tama saat ini kenapa hatinya merasa tak tega melihat Tama hidup berantakan seperti itu apalagi sekarang Tama sudah bercerai juga dengan Laras, tidak ada sosok seorang istri yang akan mengurusi Tama lagi


"papiiii....." teriak sabia berhambur ke dalam pelukan Tama


"i miss you so much" ucap sabia dengan mata yang sudah berkaca-kaca


"miss you more princess papi" sahut Tama menciumi setiap inci wajah Sabia


"papi sakit? Kok papi makin kurus?" tanya Sabia memandang lekat sang ayah

__ADS_1


"papi baik-baik aja sayang, papi hanya kecapean pekerjaan papi lagi banyak" jawab Tama bohong


"papi gak bohong sama bia kan?" selidik Sabia menatap Tama tajam


"engga sayang, oh iya bia kenapa gak sekolah?" tanya Tama mengalihkan pembicaraan


"bia lagi libur pi, papi pulangnya nanti saja ya bia masih kangen" jawab Sabia kembali memeluk Tama erat


"gimana kalau bia ikut papi ke rumah oma sama opa, bia nginep disana nanti kita jalan-jalan. Mau tidak?" ajak Tama membuat Sabia langsung menatap ke arah Jingga seakan meminta persetujuan


"kalau bia mau, bia boleh nginep di rumah oma sama opa mumpung bia libur sekolah" sahut Jingga


"beneran boleh mi?" tanya Sabia memastikan


"boleh sayang, asalkan bia jangan nakal dan gak boleh bikin repot oma sama opa ya" nasehat Jingga


"Yeeaayyyy, makasih mami... Papi ayok kita berangkat sekarang" ajak Sabia antusias


Jingga segera menyiapkan semua keperluan Sabia selama menginap di rumah ayah Afif dan bunda Hasna, Jingga sama sekali tidak keberatan membiarkan Sabia menghabiskan waktu liburannya bersama Tama karena Jingga tahu selama ini Sabia begitu merindukan papinya lagipula Jingga tidak membatasi kapanpun Tama ingin bertemu dengan Sabia, Jingga tidak mau mengorbankan kebahagiaan Sabia meskipun sekarang Jingga dan Tama sudah tidak bersama lagi, sejak awal mereka sepakat akan merawat Sabia bersama-sama meskipun sudah tidak tinggal satu atap lagi.


setelah pamit kepada mbak Maya, Tama dan Sabia segera pergi menuju rumah orang tua Tama dan di antarkan oleh Jingga sampai teras rumah, Jingga melambailan tangannya ketika mobil Tama mulai meninggalkan rumah Jemi tanpa Jingga sadari Arthur sudah berdiri tepat di belakangnya


"jadi ini alasan kamu gak masuk kerja hari ini" ucap Arthur membuat Jingga kaget


"Astagfirullah, bikin kaget saja" Jingga mengusap-ngusap dadanya


"sejak kapan kamu ada disitu?" tanya Jingga menatap kesal Arthur


"sejak kamu dan mantan suami kamu keluar dari rumah sambil bergandengan tangan" jawab Arthur yang juga terlihat kesal

__ADS_1


"siapa juga yang gandengan, jangan ngarang kamu lagian mau ngapain pagi-pagi kesini bukannya ke kantor" ucap Jingga ketus


"kamu gak suka aku dateng kesini? Kamu lebih suka mantan kamu yang dateng kesini iya?"


"mas Tama kesini mau jemput Sabia, kamu juga lihat sendiri kan tadi Sabia pergi"


"mana aku tahu yang kalian lakuin di dalam rumah" ucap Arthur membuat Jingga tersinggung


"maksud kamu apa hah?" sahut Jingga melotot ke arah Arthur


"sudah aku bilang jangan terlalu dekat sama mantan suami kamu, aku gak suka" sentak Arthur membuat Jingga kaget


"mas Tama cuman mau melaksanakan tanggung jawabnya sama Sabia, apa itu salah? Kamu harusnya tahu akan seperti ini kalau memutuskan menjalin hubungan dengan seorang janda beranak satu, aku dan mas Tama akan selalu terikat karena ada Sabia di antara kami, aku deket sama mas Tama hanya karena Sabia gak lebih dari itu bukannya kamu sudah tahu dari awal kan" ucap Jingga panjang lebar


"tapi aku cemburu" sahut Arthur tak mau kalah


"egois" sungut Jingga hendak pergi meninggalkan Arthur ke dalam rumah namun Arthur mencekal tangannya


"maksud kamu apa?" tanya Arthur menatap Jingga tajam


"pikir aja sendiri" jawab Jingga ketus


"soal Tania aku minta maaf dan soal...."


"basi... Urus aja teman baik kamu itu gak usah peduli sama aku dan sepertinya kamu juga lebih cocok sama dia bukan sama aku"


"ji aku minta maaf, aku gak punya perasaan apapun sama Tania, kita cuman temenan gak lebih dari itu"


"gak ada yang namanya temenan antara perempuan dan laki-laki, kamu gak sadar kalau Tania punya perasaan lebih sama kamu hah? Oohh apa kamu pura-pura gak sadar biar terus deket-deket sama dia?"

__ADS_1


"bukan gitu sayang, aku yakin kok Tania juga gak punya perasaan apa-apa sama aku, bisa aku buktiin kalau omongan aku ini bener, aku gak mau kamu salah paham terus sama aku dan Tania"


"jangan terlalu naif Arthur tapi memang lebih baik kamu sama dia aja sih, keluarga kamu juga pasti gak akan setuju sama hubungan kita jadi sebelum hubungan kita terlalu jauh kita akhiri saja semuanya"


__ADS_2